Kamis, 08 Februari 2018

3rd Week In Japan: Jalan Jalan ke Shibuya, Harajuku, & Ropponggi


Assalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh


Haii haii ketemu lagi di post jalan-jalan ^^ Setelah di minggu sebelumnya gw pergi ke Asakusa, di minggu ketiga gw sama teman-teman dari UI memutuskan untuk jalan-jalan ke Shibuya-Harajuku & Ropponggi. Siapa tahu post ini bisa bermanfaat buat kalian yang ingin menyusun itinerary pas pergi ke Tokyo hehe. Cekidot

Shibuya

Tempat pertama yang kita datengin adalah Shibuya, kita penasaran bagaimana itu bentuknya perempatan yang keliatannya ketjeh banget di film-film dan apakah bener se-crowded kayak di salah satu adegan film Fast & Furious. Juga kita penasaran sama patung hachiko yang ceritanya terkenal seantero dunia yang katanya bikin mewek-mewek (blum pernah nonton, males nangis-nangis). Dan teret tet tett, inilah dia si patung hachiko.
 
Patung Hachiko
Buat sekedar foto sama patung hachiko kudu ngantri sama turis-turis lainnya. Rasanya kurang ‘afdhol’ kalau ke shibuya tapi belum foto sama patung hachiko. Dan patung hachiko ini dekat banget letaknya sama exit stasiun Shibuya.
 
Antri Foto
Patung hachiko sudah, nah terus perempatan Shibuya-nya mana? Dan saudara-saudara ternyata perempatannya tepat persis di depan patung hachiko. Bahkan waktu gw nyebrang perempatan itu gw nggak tahu kalau itu perempatan Shibuya -,-. Gw nyebrang aja kayak biasa karena gw sama teman gw mau pergi ke Toko 109 buat lihat-lihat baju (“lihat-lihat” bukan “beli”) sambil cari-cari perempatan Shibuya. Dan setelah nyebrang perempatan itu, kita baru sadar kalau itu adalah perempatan Shibuya -,-. Tet tot. Ya, saat itu kita nggak sadar ya karena penampakan perempatannya sebagaimana perempatan pada umumnya (yaiyalah!). Dan ya, memang rame manusia sih pas nyebrang. Tapi bukannya dimana-mana perempatan bakal ramai manusia kalau pas waktu penyebrangan?
 
Nyebrang di Shibuya
Destinasi selanjutnya gw sama teman-teman gw pergi ke toko 109 buat sekedar lihat-lihat baju karena bajunya yang mahal-mahal dan rata-rata yang dijual adalah baju winter yang pasti kurang berguna buat di Indonesia jadilah nggak beli baju apapun. Toko 109 ini ada 2 gedung yang letaknya lumayan berdekatan yaitu 109 men yang jual fashion item pria dan 109 woman yang jual fashion item wanita. Di lantai paling atas toko 109 women, kita nemu kedai yang jualan parfait dan pasta. Melihat harga parfait yang murah meriah dan penampilan yang menggiurkan, kita memutuskan buat “makan siang” disana dengan parfait.

Parfait murah 500 yen

Ropponggi

Puas makan es krim, kita buka-buka g-maps dan menemukan tempat wisata lain yang direkomendasikan di google yaitu “Ropponggi Hills”. So, kita memutuskan buat jalan ke Roponggi Hills karena di peta bilang kalau jalan hanya butuh 20 menit baru sore-nya kita akan lanjut jalan ke Harajuku. Saudara-saudara, setelah memutuskan ‘jalan kaki’ dan merasa 20 menit sudah terlewati namun Ropponggi Hills belum nampak di pelupuk mata, kita mulai curiga kalau “20 menit” yang disebutkan oleh Google adalah palsu belaka. Mungkin “20 menit jalan kaki” menggunakan standar jalan orang Jepang yang cepat-cepat, dan kita sebagai makhluk Indonesia yang dimanjakan dengan kendaraan pribadi buat pergi sekedar ke warung dekat rumah merasa tidak cocok dengan standar 20 menit, 40 menit mungkin lebih cocok. Dan baru sadar kalau jarak Shibuya ke Ropponggi Hills adalah sekitar 2,7 km. Hadeuuuuhhh. Habis sudah tenaga dari es krim 109. Sebenarnya dari Shibuya ke Ropponggi Hills ada bus, namun karena kami ingin menghemat uang dan mumpung menurut peta yang “katanya” cuman butuh jalan 20 menit, akhirnya jalan-lah kami. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Kapan lagi bisa jalan sejauh ini.
 
Ropponggi Hills yang nggak ada "Hills"nya
Sesampai di Ropponggi Hills, kata pertama yang terlintas di benak kami adalah: kecewa. Ha!?!? Yap, awalnya kami dengan bodohnya nggak googling terlebih dahulu apa itu Ropponggi Hills dan langsung berasumsi itu adalah tempat wisata berupa “hills” alias perbukitan. Bego banget kan? Hahaha. Dan setelah nyampe di tempatnya, kita baru tahu kalau Ropponggi Hills itu kompleks perkantoran dan perbelanjaan. -,-. Duh rasanya gimanaa gitu. Sudah jalan capek-capek, menanjak pula, dengan harapan keletihan ini akan terbayarkan dengan pemandangan indah dari “hills” perbukitan. Dan, harapan pun musnah karean kebego-an gw dan teman-teman gw. Hahaha. Gw pun sadar “hills” itu tidak selalu “bukit” dalam arti sebenarnya, misal di Indonesia kan ada itu San Diego Hills tapi ternyata pemakaman, trus ada juga Beverly Hills di Amerika yang ternyata kompleks orang-orang tajir dan artis Hollywood.

Dari Ropponggi Hills bisa juga kelihatan Tokyo Tower dari kejauhan. Di minggu selanjutnya gw bakal berkunjung di Tokyo Tower, postnya bisa dibaca disini (link ini baru aktif setelah gw post artikelnya, semoga nggak males) hehe. Oh ya sekali lagi Tokyo Tower dan Tokyo skytree beda ya saudara-saudara. Tokyo Skytree udah pernah gw kunjungin di trip gw yang di Asakusa.

Tokyo Tower yang kelihatan dari Ropponggi Hills
Di Ropponggi Hills sebenarnya ada wisata selain fungsinya sebagai tempat perbelanjaan. Disini ada Art Museum, bioskop, aquarium, dan taman yang mungkin bakal lebih cantik pas musim semi. Oh ya, kata temen-temen Indo yang pernah kesini pas malem, Ropponggi Hills juga bagus buat ilumination-nya. Nah, jadi salah satu atraksi yang bagus ditonton selama winter adalah winter illumination semacam pertunjukan lampu dan musik. Biasanya winter illumination bisa dilihat dari bulan Desember sampai awal spring di Maret di beberapa spot di Jepang. Buat info lebih lengkapnya bisa baca disini.

Taman di Ropponggi Hills

Harajuku

Dari Ropponggi Hills ke Harajuku kita kembali memutuskan buat jalan kaki. Ya sekalian capek. Tapi sebenarnya dari Ropponggi Hills ke Harajuku bisa naik kereta, cuman karena kita berniat mau memecahkan rekor jumlah langkah minggu lalu pas di Asakusa yaitu 20.000 langkah, akhirnya kita pilih jalan. Daerah pertama yang kita jelajahi adalah Omotesando yaitu jalan memanjang khusus untuk pusat perbelanjaan. Dan barang-barang yang dijual disini rata-rata barang high-end. Jadi kalau mau beli dari merk-merk kece macam Dior, Giordani, Louis Vitton, Prada, Gucci, Hermes, Versace, Giogio Armani, dan teman-temannya, monggo datanglah kesini. Dan bahkan gw baru sadar kalau nama pusat pertokoan-nya adalah Omotesando "Hills", lagi-lagi "Hills". Jangan-jangan "Hills" itu dipake untuk sesuatu yang berbau "mahal" maybe (?) Entahlah.

Setelah menyusuri jalan di Omotesando, sampailah kita di stasiun Harajuku. Oh ya jarak dari Omotesando Hills ke stasiun Harajuku lumayan deket kok sekitar 1-1,5 km. Arsitektur stasiun Harajuku terlihat tua beda sama stasiun-stasiun lainnya di Tokyo yang pernah gw kunjungin. Setelah searching di google, baru tau kalau stasiun Harajuku ini sudah dibangun sejak 1906. Beuhh pantesan. 

Stasiun Harajuku
Oh, ya, kalau dengar kata "Harajuku" biasanya otomatis orang akan ingat ke suatu mode atau sekelompok orang-orang yang pakai baju model 'ajaib' entah macam lolita lah, atau kayak di anime-anime itu. Ekspektasi gw juga kayak gitu kalau pas datang kesini pasti bakal nemuin banyak orang yang pakai baju 'ajaib'. Sayangnya, pas gw datang, cuman dikit banget 1-2 orang yang pake baju 'ajaib' model-model harajuku. Hmm mungkin lagi winter kali ya, jadinya mager pake baju-baju yang ajaib.

Nggak jauh dari stasiun Harajuku, sampailah kita di lokasi wisata selanjutnya yaitu Takeshita Dori Shopping Street. Yup di sepanjang jalan ini ada banyak jajanan, fashion item, pernak-pernik buat oleh-oleh yang sabi banget buat dibeli. Disini juga ada toko Daiso, toko 100 yen, jadi bolehlah kalau mau beli pernak-pernik oleh-oleh disini dengan harga terjangkau cukup 100 yen.Takeshita Dori Shopping Street ini biasa diringkas Takeshita street. Pas gw kesini, jalannya bener-bener super rame. Nggak cuman sama penduduk lokal aja, tapi juga banyak turis-turis yang datang kesini. Mungkin kalau gambar di bawah bisa di zoom, bakal kelihatan seberapa sumpeknya Takeshita-street.

Safira Candra Asih
Takeshita Dori Shopping Street
Salah satu spot yang rame dan recommended untuk dikunjungi di Takeshita-street adalah Crepes. Yap, disini ada beberapa spot toko crepes yang rame antrian. Dan bisa dibilang kalau ke Takeshita-street, wajib mencicipi crepes sini. Dan jatuhlah pilihan kita ke Marion Crepes, kenapa? karena kita lihat cukup banyak antrian di marion crepes jadi kita berasumsi mungkin saja crepesnya yang terenak disini. Oh, ya, harga crepesnya ada di range 400-700 yen. Jadi ya masih terjangkau.

Safira Candra Asih
Crepes
Setelah puas makan crepes, kita lanjut buat mengunjungin Meiji Shrine yang letaknya di sebelah stasiun Harajuku. Tapi karena udah jam 5 sore, pas sampai sana Kuil Meiji sudah tutup. Bahkan terdengar dari suara speaker di kuil Meiji kalau turis/wisatawan yang masih di dalam kuil diharapkan untuk segera keluar. Yah jadilah kita langsung cus ke Yoyogi Park yang lokasinya persis di belakang kuil Meiji. Di taman ini pula kita menunaikan sholat Maghrib. Oh ya, sekedar tips buat saudara-saudara muslim, klo berkunjung ke Jepang atau ke negara-negara non-muslim lainnya dan ingin sholat tapi posisinya sedang di outdoor, bisa banget sholat di taman. Khawatir dilihatin sama orang? peduli amat. Hehehe. Selain di taman, pilihan sholat lainnya adalah di rumah makan muslim yang biasanya menyediakan musholla, di fitting room, di tangga emergency, di tempat yang sepi-sepi, yah pokoknya se-kreatifitas kalian ajalah. Hehehe. Syukur-syukur kalau nemu masjid. jadi bisa sekalian silaturahim dengan sesama saudara muslim :)

Yoyogi Park
Yoyogi Park ini lumayan luas tempatnya. Bahkan kalau gw baca, Yoyogi Park in taman keempat terbesar di Tokyo. Dan karena masih winter, jadi sebagian taman masih tertutupi salju dan rata-rata pohon pun masih botak. Di musim dingin, pohon-pohon akan gundul karena tidak terjadinya fotosintesis akibat kurangnya sinar atau panas dari matahari sehingga tidak lagi membuat makanan. Proses pengguguran daun ini merupakan mekanisme yang diciptakan Allah SWT agar pohon dapat menghemat cadangan makanannya dengan merontokkan sebagian daunya sehingga tidak banyak makanan yang disebarkan keseluruh bagian pohon. Kemudian di saat musim semi, dengan adanya sinar matahari yang cukup, pohon kembali menumbuhkan daun-daunnya dan dapat kembali berfotosintesis. (Eaaaa, pelajaran SD masih inget aja gw wkwkwk).

Bebek bebek
Di taman ini juga ada bebek-bebek (gw g tau itu jenis apa yang pasti mirip bebek) yang berenang di kolam di tengah taman. Setelah gw coba searching di google image, kayaknya Yoyogi Park ini jauh lebih cantik kalau kita dateng pas musim Semi karena yah ada daunnya. Hehehe. Nggak beda kayak taman-taman di Indo, spot-spot "mojok" di Yoyogi Park juga dimanfaatkan pasangan muda-mudi untuk .....yaa begitulah isi sendiri -,-. Oh ya, di depan yoyogi Park, sebenarnya sudah ada Yoyogi National Stadium dan di depan stadium ini ada banyak banner "2020 Summer Olympics" atau "Tokyo 2020". Yap, pagelaran olimpiade 2 tahunan ini akan diselenggarakan di Tokyo sebagai tuan rumah pada tahun 2020 nanti. Yah mungkin kalau nanti punya duit dan masih diberi kesempatan umur dan kesehatan, bisalah balik lagi pas summer 2020. Hehehe.

Oke, gw rasa itu aja sharing jalan-jalannya. Semoga bisa bermanfaat.
Sampai jumpa lagi di jalan-jalan selanjutnya ^^
Happy Holidays !!!



Safira Candra Asih
Laboratorium Dept. Biotech & Life Sciences
Gabut Nunggu Inkubasi Sel

Rabu, 07 Februari 2018

First Snow Fall in Tokyo 2018

Okay, ini adalah pertama kalinya gw ngalamin yang namanya musim dingin di negara 4 musim. Jadi harap maklum klo pembaca budiman sekalian merasa kalau gw norak dengan segala ke"winter"an ini. Hehehe.

Jadi, pas gw ke Jepang, pas banget saat itu adalah puncak musim dingin. Yap, musim dingin di Jepang biasanya dimulai dari akhir November sampai akhir Februari, dan bulan Januari biasanya menjadi puncak musim dingin di Jepang. Dan beruntungnya gw (tapi kalau kata temen Jepang gw di lab "nggak beruntung") tahun ini pas gw ke Tokyo bisa kebagian hujan salju setelah sekitar 4 tahun Tokyo nggak dilanda hujan salju. Yeayyyyyy.. Teeet teret tet tet.. (Tuh kan, norak -,-).

Ngomong-ngomong masalah musim dingin, Ibu gw bahkan sempat ngirimin artikel berita klo suhu winter Tokyo tahun ini adalah suhu terdingin selama 48 tahun terakhir. Nih, klo kepo sama artikelnya, bisa lihat disini. Wadaww wadaw, tau deh itu anugrah atau musibah hahaha, tapi menurut orang tropis macem gw hal kayak gini adalah anugrah secara kapan lagi gituh bisa dingin-dinginan setelah biasanya di Depok klo musim kemarau bisa sampe 34-35 C.

Jadi ceritanya pas sebelum gw ke Tokyo, gw udah beli perlengkapan winter dengan asumsi klo Tokyo itu sedang bersalju. Gw udah bawa jaket tebel berbulu angsa, trus sepatu boot bulu-bulu yang kata temen gw macem Syarini punya -,-. Dan ternyata e ternyata, pas sampe Jepang nggak bersalju sama sekali. Bener-bener kayak kota pada umumnya cuman bedanya dingin, waktu itu klo nggak salah pas gw nyampe suhu sekitar 5 C. Yah gw agak kecewa dong, udah bawa peralatan tempur lengkap buat salju, eh ternyata nggak ada salju. Kecewa lagi setelah tanya sama orang disana kalau kemungkinan tahun ini nggak ada salju karena udah 4 tahun Tokyo nggak dapet salju. Sediih kaan.

First Snow Fall

Hingga akhirnya di minggu ke-3 gw di Jepang tepatnya hari Senin, 23 Januari 2018 turunlah badai salju. Hah??? Badai salju? Yap. Jadi sekalinya turun salju setelah 4 tahun, langsung kebagian badai salju. Pas pagi, salju turun masih rintik-rintik kecil imut menggemaskan hingga kemudian berubah jadi demplok-demplok (g tau dah bahasa yang bener apa) pas malem-nya ditambah dengan angin kenceng. Mantap udah. Dan yang bikin gw bersyukur adalah, akhirnya sepatu boots bulu-bulu itu bisa gw pake. Hahaha.
First Snow Fall in Tokyo 2018
Pagi-pagi pas salju belom tebal
nah diatas adalah foto sekitar jam 10 pagi dimana jalan-jalan masih kelihatan karena saljunya yang masih tipis. Eits, itu foto bukan diambil dari google ya, itu foto jepretan sendiri lokasinya di TUAT. Ciamik emang pemandangan pas winter.

Pas hari itu, pemerintah Jepang mewanti-wanti warganya buat pulang rumah lebih awal karena khawatirnya pas malam bakal dilanda hujan salju sehingga ditakutkan membahayakan penduduk dan beberapa sistem transportasi bisa saja terganggu. Jadilah hari itu orang-orang di lab gw pada pulang sekitar jam 1 atau 2 siang.

Snow Fall in Tokyo 2018
Hujan Salju rintik-rintik

Hujan salju turun dari pagi hingga esok harinya. Dan sebagaimana gw bilang sebelumnya, pas malam, hujan salju rintik-rintik berubah jadi hujan salju demplok-demplok plus angin kencang. Dan nekadnya gw, malam itu gw malah pergi ke daerah Musashi buat beli sepatu. Hahaha. Dasar nekad.

Selama di Musashi, bisa dibilang pandangan mata udah agak susah karena hujan salju yang bener-bener lebat dan angin yang kencang. Gw juga sempat lihat antrian orang-orang yang mau naik bus yang lebih panjang dari biasanya. Nggak cuman bus, di beberapa titik juga ada kereta yang nggak bisa jalan karena rel-nya yang tenggelam sama salju. Ternyata bener ramalannya klo sistem transportasi kemungkinan bisa nggak berfungsi akibat badai salju.
Snow Fall in Tokyo 2018
Rel Kereta yang Ketutup Salju

Snow Fall in Tokyo 2018
Antrian Panjang orang-orang yang mau naik bus
Yah maap pemirsa fotonya blur, tapi kayaknya itu emang blur karena badai saljunya deh hahaha (*alesan). Yah intinya meskipun fotonya blur, setidaknya bisa menggambarkan lah ya seberapa panjang antrian orang-orang mau naik Bus. Disisi lain bisa dicontoh nih budaya orang Jepang yang mau ngantri buat naik angkutan umum. Foto itu diambil sekitar pukul 5 sore. Hah? 5 sore kok udah gelap? Yap, pas winter Matahari terbenam jam 5 sore dan ditambah dengan badai (maybe) jadilah langit tambah gelap.

Gw juga sempat memfoto pemandangan dari jendela kamar gw (sekali lagi, norak) buat kenang-kenangan sekalian kirim laporan ke emak gw yang suka nagih-nagih foto terbaru.
Snow Fall in Tokyo 2018
Pemandangan dari Jendela Kamar
Esok paginya karena hujan salju udah berhenti, akhirnya gw sama temen gw se-UI main-main salju di taman TUAT. Dan ternyata nggak cuman gw sama temen gw yang norak, beberapa "anak kecil" juga main-main salju. Jadi, lumayanlah ada temennya (*meskipun anak kecil) nggak 'ndeso-ndeso' amat heheh.

Snow Fall in Tokyo 2018
Megang salju

Pagi itu, salju bener-bener tebel, sekitar 15-20 cm. Di beberapa spot ada sekumpulan orang yang bikin manusia salju. Gw juga sama temen gw mencoba bikin manusia salju, tapi apa daya tangan uda kaku duluan megang salju dan sayangnya kita nggak bawa sarung tangan yang anti air. Jadilah menyerah. Tai gw sempat fotoin orang-orang salju ala kadarnya yang ada di sekitara TUAT. Tapi foto ini gw ambil sekitar 2 minggu setelah hujan salju, jadi sudah banyak sebagian salju yang hampir mencair.
Snow Fall in Tokyo 2018
Snowman ala kadarnya
Oh ya, pas tanggal 25 Januari sebagaimana gw bilang sebelumnya kalau Tokyo mengalami suhu terendah setelah 48 tahun terakhir mencapai -5 C. Jangan tanya, sabun dan shampo gw jadi beku. Jadi, pas mau mandi gw kudu ngerebus sabun sama shampo itu dulu biar mencair. 

Hmm kayaknya itu aja deh ya cerita gw, makasih udah dengerin hahaha (lah, emang siapa woy yang dengerin cerita lu). Sampai juga lagi ^^

Sabtu, 27 Januari 2018

2nd Week In Japan: Jalan Jalan ke Asakusa

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh


Haii Haii Haiiii
Jadi rencananya selama kurang lebih 2,5 bulan exchange, tiap minggunya gw bakal menyisihkan waktu (dan uang tentunya) buat pergi jalan-jalan. Ayeyyy !!! Yah, itung-itung pelepas penat setelah ngelab seminggu hehehe. Nah, setelah minggu pertama jalan-jalan ke shinjuku buat cari paketan internet (baca post-nya disini ), minggu kedua gw dan temen-temen memutuskan untuk pergi ke Asakusa. 

Gw sama temen-temen berangkat sekitar jam 10 pagi dari Higashi Koganei, dan untuk menuju Asakusa, gw naik kereta line Chuo sampai stasiun Kanda, setelah itu transit dan ganti kereta ke arah Asakusa. Waktu perjalanan menempuh waktu sekitar 1 jam. Jadi, Asakusa adalah salah satu distrik di Tokyo dan daerah ini salah satu daerah di Tokyo yang banyak dikunjungi turis.

Nakamise Shopping Street

Tempat pertama yang gw kunjungin adalah Sensoji-Temple yang lokasinya macam 'sepelemparan batu' dari exit stasiun Asakusa. Super banyak banget turis yang gerumul di depan Temple-nya dan semua ngelakuin hal yang sama: foto-foto. Jadi kalau mau foto di depan gapuranya bisa dibilang gampang-gampang susah, karena kudu antri kalau mau dapet angle foto yang bagus, atau kalau mager antri ya pasrah dengan angle foto seadanya. Hehehe. 
Sensoji Temple
Semua orang foto-foto sis :"

Nah, sebelum masuk ke Sensoji Temple, kita 'dipaksa' untuk melewati Nakamise Shopping Street yaitu semacam jalan yang samping kanan-kirinya jualan segala jenis pernak-pernik je-Jepang-an dan street food.

Sensoji Temple
Nakamise Shopping Street
Sensoji Temple
Kuil Sensoji yang udah mulai kelihatan

Yah jujur gw tergoda sama makanan-makanannya palagi rata-rata dijual murah kurang dari 500 yen, cuman karena ragu sama kehalalannya, yaudah deh cukup liatin orang makan juga uda kenyang wkwkwk. Pernak-pernik yang dijual disini juga banyak banget macamnya, dari gantungan kunci, kipas, kaos, tempelan kulkas, patung-patungan, boneka, yukata, kimono, dan pernak-pernik kecil lain yang gw nggak tau namanya. Oh, ya, disini kita juga bisa nyewa kimono. Jadi lumayan banget liat di jalan, mbak-mbak atau mas-mas yang pake kimono. 
Sensoji Temple
Toko Pernak-Pernik

Oh ya, Nakamise-Do shopping street ini nggak buka sampai malam. Saat malam, hampir semua tokonya tutup, palingan satu-dua yang masih buka. 
Sensoji Temple
Malam yang Sepi

Disini gw nggak beli apa-apa either itu makanan atau pernak-pernik, ya karena ragu sama kehalalanya sama gw merasa belum butuh pernak-pernik saat ini karena toh masih 2 bulan lagi di Jepang hehehe mendingan kalau mau beli oleh-oleh di Daiso yang murah-murah (ini sih alasan utamanya hahaha).

Senso-ji Temple

Sensoji Temple
Sensoji-Temple

Nah, setelah menyusuri godaan-godaan belanja Nakamise-Do shopping street, sampailah gw di Sensoji Temple. Sensoji-Temple adalah kuil untukpenganut agama Budha. Mungkin karena gw datangnya pas weekend, jadinya rame banget disini.Yah disini banyak spot foto-foto selain si kuilnya sendiri, ada makam, dan taman-taman yang ada kolamnya. Biasanya kalau turis dateng disini bakal beli semacam kayak "undian" gitu, nanti dicek gimana kira-kira ramalan nasib/peruntungannya. Gw nggak beli "undian" itu soalnya kalau di Islam dilarang mengundi nasib (fyi, gw muslim), jadi yaudah merhatiin orang aja. Hehehe.

Sensoji Temple
Beli "Undian"

Nah selain "undian", orang-orang juga dateng kesini buat berdoa secara ini adalah tempat ibadah, nggak cuman orang Jepang aja, tapi turis-turis juga ikut berdoa secara gw liat ada beberapa bule yang ikut-ikut berdoa disini.
Sensoji Temple
Berdoa

Di area Sensoji-Temple juga ada taman-taman. Jujur setelah melihat beberapa kali kolam-kolam sama taman-taman yang ada di Jepang, kayaknya gw jatuh cinta deh (*lebay) sama arsitektur taman khas Jepang.Bener-bener cantik
Sensoji Temple
Ikan Koi
Nah, coba perhatiin gambar yang dibawah, macem background komputer nggak sih. Wkwkwkwk. Cuman kurangnya gw bukan fotografer profesional dan kamera gw apalah cuman kamera ecek-ecek jadi hasil foto gw nggak sekeceh bakcground-background windows. Yah diluar itu, pokoknya tamannya bagus dan photoable.
Sensoji Temple
Taman-Taman
Oh, ya tips nih buat yang pingin foto di Sensoji-Temple dengan background yang sepi tanpa ada khalayak ramai, bisa dicoba datang ke kuilnya pagi-pagi banget atau sekalian pas malem. Dijamin tuh sepi. Hehehe. Gw sama temen-temen nyempetin balik lagi ke kuilnya pas malem-malem. Dan yah, SEPI. Meskipun masih ada turis atau orang-orang yang berdoa tapi itupun dikit banget
Sensoji Temple
Suasana Sensoji-Temple pas Malem
Salah satu hal yang bisa ditemui di sekitar Sensoji-Temple adalah becak Jepang. Eits jangan kira kalau becak Jepang ini mirip kayak becak di Indo yang dikayuh ama "bapak-bapak" dan beroda 3. Becak di Jepang rodanya 2 dan "DITARIK" sama "mas-mas" dengan "LARI". Pantesan nggak heran, mas-mas becak badannya pada ok-ok macam bintang L-Men secara narik becaknya pake lari -,-. Selain badan ok, setelah gw dan temen gw amati, kita berpendapat klo mas-mas becak ini mukanya di atas rata-rata. Hahaha. Bahkan temen gw yang cowok juga setuju kalau muka mereka ok-ok. Wwkwkwk. Kayaknya "berpenampilan menarik dan berpostur proporsional" jadi salah satu syarat biar jadi abang-bang becak deh. Oh, ya, dengan becak ini kalian bisa muterin asakusa dan rata-rata abang becaknya bisa ngomong bahasa Inggris.
Sensoji Temple
Becak

Sumida Park

Okei, destinasi selanjutnya adalah Sumida-Park. Sumida Park ini letaknya di tepi sungai Sumida. Dan dari sini agan-agan juga bisa liat Tokyo Skytree (bangunan tertinggidi Tokyo, sekitar 451 m). Oh ya, perlu dicatat kalau Tokyo Skytree ini beda ya dengan Tokyo Tower. Hehehe. Di sepanjang Sumida Park banyak pohon sakura, namun sayangnya karena lagi winter, yang ada cuman pohon-pohon botak deh :"(. Bayangin pasti cantik banget pas musim semi dateng kesini. Eits nggak papa, di sepanjang sungai juga ditanam bunga-bunga warna-warni yang nggak kalah cantik sama bunga sakura.
Bunga-Bunga Cantiq

Oh ya disini, bisa juga makan di restoran kapal yang tersedia. Untuk harganya gw nggak tau karena gw nggak nyoba. Hahaha. Tapi keliatannya sih mahal ya. Karena sayang duit, yaudah deh cukup difoto aja resto kapalnya.

Restoran Kapal

Oh ya, ditepian sungai Sumida, banyak banget burung dara sama burung camar laut. Nah gw nyoba sok-sokan ngasih makan beberapa burung dara, ewalah-dalah tiba-tiba serombongan burung dara sama burung camar laut (seagull) pada nyerbu gw minta dikasih jatah juga. Paling demen sih ama seagull, soalnya bisa sambil kasih makan mereka dalam kondisi terbang jadi kayak atraksi-atraksi gitu. Hahaha. Beda ama burung dara yang ngasih makannya kudu dibawah wkwkwk.

Tepian Sungai


Hoppy-Dori Street

Nah, karena lapar, kita memutuskan untuk balik ke daerah Sensoji-Temple. Kita susurin jalan Hoppy-Dori Street yang terletak di sebelah baratnya temple. Tempat ini cocok banget buat sekedar ajlan-jalan, dan di sepanjang jalan banyak "warung kaki lima" atau "bar" yang tentunya jelas nggak halal buat gw yang muslim.  Udah muter-muter tapi masih belum sreg sama makanan-makanannya, dan nggak yakin ada yang halal. Sebenarnya di daerah sini ada ramen halal namanya "Napiyaka", cuman karena rame banget antriannya sampe keluar jalan, akhirnya kita cari opsi lain buat makan.Dan jatuhlah pilihan pada takoyaki. Kenapa takoyaki? Ya karena kita pikir bahan-bahan takoyaki dan bumbu yang ada itu nggak aneh-aneh, jadi bismillah sepertinya takoyaki ini nggak haram. Hehehe.
Suasana Hoppy-Dory Street
Takoyaki yang kita beli harganya 700 yen dan dapet sekitar 8 buah. Beda banget harganya sama takoyaki yang biasa kita beli di Peacock deket asrama yang cuman 300 yen dan dapet 10 biji. Yah, maklumlah, namanya juga tempat wisata pasti harga-harga lebih mahalan. Tapi gw akui takoyaki ini lebih enak rasanya ketimbang takoyaki yang biasa gw beli di Peacock. Eh, atau karena emang gw lagi laper jadi kerasa enak? Tau ah.

Takoyaki 700 yen


Tokyo Skytree

Menjelang malam, kita memutuskan untuk jalan ke Tokyo Skytree. Disini matahari terbenam sekitar pukul 5 sore. Oh ya, selepas makan takoyaki, kita memutuskan untuk balik lagi ke Sumida-Park dan nunggu sampai matahari tenggelam baru jalan ke Tokyo Skytree. Sengaja kita nunggu malam untuk ke Tokyo Skytree biar bisa liat towernya versi warna-warni lampu. Hehehe.
Perjalanan Menuju Tokyo Skytree
Untuk menuju Tokyo Skytree gw dan temen-temen nggak pakai gmaps atau sejenisnya karean pingin hemat kuota mengingat kuota mahal cyyyin 1 juta (baca ceritanya disini). Jadi, kita cuman ngandelin Tokyo Sktree yang menjulang dan yaudah jalan aja ngira-ngira jalan biar sampai sana hehe. Dan jaraknya sekitar 1,3 km dari Sensoji-Temple, lumayanlah olah raga secara di Indo gw jarang banget  jalan kaki lebih dari 1 km.Selain itu, enaknya kalau jalan-jalan bisa sambil lihat panorama kota Asakusa secara lebih mendalam (*apasih -,-).

Akhirnya sampailah kita di Tokyo Skytree, dan baru sadar kalau di Tokyo Skytree sebenarnya ada stasiunnya yang bisa ditempuh dari stasiun Asakusa. Disini lumayan banyak ketemu sama orang-orang Indonesia (di telinga gw kedengeran orang-orang cakap bahasa Indonesia).

Bagian Depan Gedung
Disini, nggak cuman Tokyo Skytree aja yang jadi objek wisata utamanya, ada juga aquarium, restoran di atas tokyo skytree, juga ada semacam perbelanjaan yang namnya "Detective Conan Plaza" yang jual pernak-pernik Detective Conan juga beberapa manga/anime lain.
Detective Conan Plaza

Tokyo-Skytree


Tokyo Station

Perjalanan ditutup dengan mampir dahulu ke Tokyo Station yang ternyata punya arsitektur gaya Eropa. Dan pas banget datengnya malem, karena menurut gw Tokyo Station ini lebih bagus dilihat pas malem dengan segala lampu-lampunya. Oh ya , disini gw juga nemuin beberapa fotografer yang lagi fotoin Tokyo Station. Pas gw kesini, suhu saat itu sekitar 1 C. Brrrrrrr..
Tokyo Station

Di Tokyo Station, gw sama temen-temen memutuskan untuk jalan-jalan keliling sekitar stasiun. Dan ngak jauh dari stasiun kita nemu spot yang photoable hehehe. Jadi ada jalan yang sepanjang jalannya dihiasi pohon-pohon lampu. Dan disitu kita nemu ada serentetan mobil-mobil antik yang lagi parkir punya semacam klub mobil. Dan sama pemilik mobilnya, mereka mempersilahkan kalau ada yang pingin foto-foto di dalam mobilnya.
Mobil Antiq

Nah itu dia, sepenggal cerita jalan-jalan gw ke Asakusa. Gw sampe kamar asrama sekitar jam setengah 11. Dan gw beruntung gw bisa sempetin jalan-jalan di weekend ini dengan cuaca yang bersahabat, karena hari Senin besoknya Tokyo dilanda badai salju setelah 3 tahun Tokyo nggak dapet salju pas winter. Mungkin kalau gw rajin gw bakal bikin postnya tentang salju ini, sekaligus salju pertama yang gw rasakan. Hahaha.


Bakal kemana lagi minggu depan?
Tetap stay tune ya.


-Kamar Asrama, Sore-Sore

Minggu, 21 Januari 2018

Beli Paket Internet di Jepang

Pada hari-hari awal kedatangan gw di Jepang, gw dan temen2 gw adalah fakir internet. Bisa dibilang dalam sehari beberapa kali gw mampir sevel (7-11) cuman buat nebeng wifi, mungkin mbak-mbak sevel sampe sebel kali gara-gara keseringan liat gw nebeng wifi tapi jarang beli di sevelnya. Hmmm bisa jadi itu alasan sevel Indonesia bangkrut gegara banyakan orang nongkrong ketimbang beli produk sevelnya (*perilaku mayoritas pengunjung sevel Indo). Hahah. Setelah dirasa rempong kalau kudu bolak-balik sevel cuman sekedar numpang wifi biar bisa berkabar ke emak-bapak di rumah atau baca balasan email Profesor, akhirnya gw dan temen-temen memutuskan untuk segera mengakhiri semua ini. Dan weekend minggu lalu, kita pergi ke Kichijouji (yang lebih 'kota' ketimbang tempat tinggal kita di Koganei) buat cari paket internet berbekalkan arahan mas-mas dan mbak-mbak Indonesia yang kita temuin pas acara kumpul orang Indonesia-Koganei. 

Dari Higashi Koganei menuju Kichijouji bisa ditempuh dengan kereta sekitar 15 menit (melewati 3 stasiun). Sesampainya di Kichijouji, kita muter-muter cari toko elektronik dan nanya-nanya tentang keberadaan sim-card. Toko pertama yang kita cari adalah ABC-Mart sesuai anjuran mas-mas Indo-Koganei, berbekal arahan gmaps menggunakan wifi sevel, ketemulah kita dengan toko ABC-Mart. Dan teret tet tet, ABC-Mart adalah TOKO SEPATU -,-. Aduh, plis, tolong itu usil banget yang ngasih arahan kok bisa-bisanya mau beli sim-card dikasih toko sepatu. Wkwkwk.

ABC Mart=Toko sepatu -,-

Capek muter-muter cari ABC-Mart yang ternyata kemudian adalah toko sepatu, kita tetap melanjutkan perjalanan menyusuri toko elektronik, sebenarnya beberapa kali ketemu sama penjual sim-card yang ada paket internetnya, cuman harganya subhanallah keterlaluan mahal kalau dibandingin harga paket internet Indosat Ooredo. Yaiyalah -,-. Karena kelelahan dan kelaparan, kita memutuskan pulang saja dan menyempatkan makan udon murah sejuta umat cuman 300 yen di stasiun Higashi-Koganei. 

Udon Sejuta Umat

Keesokannya, kita memutuskan untuk teroos menggenjot tenaga jalan ke Shinjuku demi paketan internet. Sesampainya di Shinjuku, kita langsung cari toko BIC. Jadi toko BIC ini adalah toko elektronik (ada juga swalayan disini) dan menurut review-review di Google, kita bisa menemukan sim-card atau paketan internet disini. Oh, ya, toko BIC ini juga mudah ditemui kok di kota-kota besar.

Shinjuku

Disini kita dikasih arahan sama mas-mas atau koko-koko pegawai toko. Dia ngasih beberapa pilihan paketan internet. Nah berhubung gw dan temen-temen di Jepang cuman selama 3 bulan, maka kita memutuskan untuk beli paket internet aja yang bisa berlaku selama 3 bulan. Kalau misal mau simcard yang bisa internet dan nelfon, bisa sih sebenarnya, cuman ribet harus registrasi ini itu. Oleh karena itu kita memutuskan untuk beli paketan internet yang memang khusus untuk turis. Gw memutuskan untuk beli paketan internet 2G berlaku selama 3 bulan plus tambahan kuota 5G. Disini juga dijual paketan internet yang cuman berlaku periode harian atau mingguan, jadi emang khusus buat turis dan harga paketan jenis ini (paketan khusus turis) lebih mahal ketimbang simcard atau paketan buat wifi portable.

Paketan internet 1 juta
Total duit yang gw habiskan buat paketan internet 7GB ini sekitar 9320 yen alias lebih dari 1 juta rupiah. Weleh weleh. Tuh kan gw bilang juga apa, harganya keterlaluan di luar batas penalaran kalau dibandingin ama paketan Indosat Ooredo di konter pulsa deket kosan. Heheheh. Plis, klo lagi di luar negeri jangan sering-sering dikurs-in ke rupiah, bisa sakit hati nanti wkwkwk. Dengan harga yang luar biasa mahal ini, gw bertekad untuk membatasi penggunaan internet per hari maksimal 100mb, karena bagi gw duitnya lebih mending dibuat makan, jalan-jalan, belanja, ditabung, atau disumbangkan ke anak yatim-piatu (cieeelah) ketimbang beli paketan internet mahal.

Mas-Mas Toko yang lagi ngecek sim

Mas-mas di toko ini ramah-ramah dan melayani sepenuh hati. Lebih dari 1 jam gw habiskan di toko ini cuman buat sekedar beli paketan internet. Sim-card bakal dicek dulu sama mas-mas pegawai toko dan dipastikan bisa berfungsi. Oh, ya untuk registrasi jenis kartu ini cukup simpel, hanya dengan nomor paspor. Nggak perlu bawa paspor juga nggak apa-apa, yang penting hafal nomor paspornya. Meskipun begitu, kalau di luar negeri sebisa mungkin selalu bawa paspor ya guys atau bisa juga pakai resident card klo punya.

Yak, begitulah sepengal cerita pengalaman gw beli paketan internet di Jepun. Oh, ya, sebenarnya di Jepang sendiri banyak spot-spot yang punya wifi (sevel contohnya). Nah, untuk memudahkan mengakses wifi di public places di Jepang, bisa didownload dulu aplikasi 'Japan Travel Wifi'. Nah nanti tinggal registrasi pake social media, dan nanti otomatis hp kamu bisa tersambung wifi di tempat-tempat yang ada free-wifi-nya. Selamat jalan-jalan !! Yuhuuuu

Room Tour: Kamar Apartemen di Jepang

Okay, jadi hari ini gw mau cerita tentang gimana kamar gw di Koganei. Yeah siapa tau dari kalian pembaca setia blog ini (lah emang ada yang baca -,-) ada yang dapet beasiswa STEP (Short Trip Exchange Pogram) atau AIMS (g tau kepanjangannya apa XD) di TUAT kan... Aaaamiiin Aaamiiin Yaa Rabbal Aalamiiin.
Nah, jadi ceritanya selama bulan Januari-Maret 2018, gw alhamdulillah dapet kesempatan beasiswa buat exchange ngelakuin skripsi gw disini gratis tis tis. Eits, tunggu tunggu, "disini" itu dimana ya?  Disini itu di TUAT (Tokyo University of Agriculture and Technology). Kampus TUAT ada 2 yaitu di Fuchu dan Koganei, dan kebetulan kampus gw ada di Koganei.

Okay, cekidot - >>>>>

Disini gw tinggal di dorm khusus mahasiswa internasional. Di Koganei, nyediain 2 dorm yaitu dorm yang emang khusus buat mahasiswa habitat asli sana sama dorm buat mahasiswa internasional yang lagi ikut program exchange macem gw. Dan dormnya super duper deket banget sama kampus, jadi cuman terpisah sama tembok. Jadi kalau misal gw jalan ke gedung lab gw yang posisinya agak diujung, cuman ngabisin waktu sekitar 5-7 menitan. Dan ini adalah penampakan dorm gw.

Penampakan Koganei Internasional House dari depan

Ini adalah bagian administrasi dorm yang ada di lobby bawah. Dan kebetulan pegawainya agak bisa sedikit bahasa inggris, jadi ya alhamdulillah bisa komunikasi mengingat bahasa jepang gw menyedihkan. Triknya adalah berbaik-baiklah sama ibu/bapak pegawainya karena bisa jadi diberi kesempatan untuk bayar sewa dorm telat hahaha. Macem gw yang masih sabi baru bayar tanggal 18 padahal deadline bayar asrama tanggal 15 tiap bulannya gara-gara beasiswa gw yang baru cair tiap tanggal 17.

Lobby Administrasi
Ini adalah kamar gw, nah di dorm ada sebagian (besar) kamar yang letaknya indoor tapi ada juga sebagian (kecil) kamar yang letaknya outdoor, dan gw kebagian kamar yang letaknya outdoor, sehingga berakibat saat buka pintu kamar langsung brrrrr udara dingin menusuk di hati, terasa oooh nyeriiii (apa sih, g jelas). Cuman, kelebihannya kalau kamar outdoor kamar mandinya di dalem sedangkan klo kamar indoor kamar mandinya gabung jadi satu bersama penghuni kamar indoor lainnya, dan tiap mandi kudu bayar. Harga sewa kamarnya pun beda, klo kamar yang indoor 19.000yen/bulan sedangkan kamar outdoor macem gw 23.000/bulan. Cuman, ada pengecualian, ad 1 kamar indoor yang punya kamar mandi dalem. Tuh, nikmat mana lagi yang engkau dustakan? Udah indoor, kamar mandi dalem pula.

Kamar gw di lantai 4 yang ada di outdoor

Kamarnya menurut gw lumayan luas untuk ukuran mahasiswa yang biasa sewa kamar kos di kukusan UI seharga 500ribuan hahaha. YAIYALAAAH. Hmm gw nggak dapet informasi luas kamarnya berapa ya, tapi kalau diamati, ditelaah, dan diteliti luas kamarnya sekitar 4mx6m maybe (?) dan itu belum termasuk balkon tempat buat jemur-jemur pakaian.

Apa aja sih fasilitas-fasilitas di kamar?


1. Bed/Tempat Tidur

Bed

Nah ini penampakan bed gw, jadi gw dikasih kasur, bantal isi material semacam beras (?), selimut tipis, sama selimut tebal. Dan, eits, ini nggak gratis lho, untuk kasur/futon gw mesti bayar 8100 yen dan bayarnya ke kantor pos (mungkin kalau sempet dan rajin, gw akan bikin post tentang kantor pos ini). Trus, kalau nggak mau pakai futon gimana biar hemat gitu nggak usah bayar 8100? Hohoho, siap siap rasakan punggung pegal karena alas tidur yang keras plus badan membeku kedinginan nggak ada selimut.

2. Meja Belajar

Meja belajar

Jadi ada 2 meja disini. Buat meja yang di sebelah kanan banyak rak-raknya, dan bisa dilihat rak-rak gw yang kosong. Yah, mau gimana lagi gw kesini cuman bawa baju ama makanan, jadi sebagai mahasiswa #sobatkismin, gw nggak punya banyak barang hahaha. Mungkin harusnya kosan gw di Kukusan pakai rak macem gini nih, jadi buku-buku kuliah gw nggak harus masuk kardus yang kemudian jadi tatakan TV wkwkkw (cc: ibu kosan).

3. Lemari dan Rak

Untuk lemari, diperuntukkan buat tipe 'gantung' gitu, jadi gw akhirnya beli hanger di toko Seria deket dorm yang semuanya cuman 100 yen amit-amit murah banget. Dan gila, ini hanger murah banget apabila gw bandingin ama hanger yang gw beli di pasar kaget Kutek di UI seharga 20ribu. Hanger 100 yen gw bahannya besi dan ada 10 biji, kurang murah apalagi cobaa (1 yen=Rp 120).

Lemari

Bisa dilihat di lemari paling kanan itu adalah lemari makanan perbekalan gw dari Indo, disitu ada indomie, energen, bubur ayam instan, sosis, ama beberapa jajan-jajan.

4. Mini Kitchen Set

Nah ini yang amat sangat membantu. Trik hidup hemat adalah memasak. Bahkan ada senior Indo yang tinggal di lantai bawah gw, sebulan dia cuman abis kurang lebih 15.000 yen buat makan hanya karena dia menerapkan prinsip memasak. Gokil banget nggak bray!!! 


Kitchen Set

Oh, ya, mini kitchen set ini terdiri atas wastafel, rak piring, kompor elektrik, sama kulkas. Nah buat kompor elektrik ini cuman bisa buat dipakai peralatan dapur yang ada tulisan "heat inductor"nya. Jadi ada temen gw yang udah bawa perkakas panci dari Indo, dan alhasil itu panci nggak bisa bekerja seperti seharusnya karena kompornya ngambek nggak mau manasin tu panci.

5. Kamar Mandi

Inilah kamar mandi gw, ada toilet, wastafel, sama bathub. Whattt??? Asrama mahasiswa ada bathub? Lah, gw pas tinggal di asrama UI aja kalau mau mandi kudu bawa ember dan terkadang gw kuliah nggak mandi gara-gara air nggak keluar akibat kamar gw yang lantai 4 dan air mandeg di lantai 2 (asrama UI edisi jaman gw maba). Hohoho, jadi orang jepang itu punya tradisi suka berendam air panas, makanya bathub itu kebutuhan. Oh ya, kamar mandi gw ada heaternya alhamdulillah, nggak bisa bayangin seberapa dinginnya di winter kayak gini kalau nggak ada heater. Nggak mandi kali gw selama winter.


6. Balkon

Balkon ala kadarnya
Nah, ini adalah balkonnya. Sayangnya balkon ini kurang bisa dimanfaatkan untuk duduk-duduk cantik sambil ngeteh baca koran dan ngeliat pemandangan. Ya gimana lagi, orang dingin banget di luar, lebih enakan pelukan ama kasur. Balkon gw sendiri terhubung sama balkon kamar sebelah. Dan dari pengamatan gw terhadap jenis jemuran penghuni sebelah, kayaknya penghuni sebelah itu cowok deh, dan gw belum pernah liat atau kenalan sama penghuni sebelah. Tiap gw jemur pakaian malem-malem, kamar sebelah terlihat mati lampu entah orangnya belum pulang atau emang doi yang suka gelap-gelapan.


7. Penghangat sekaligus AC

Penghangat

Ini dia penyelamat pas musim dingin. Gw biasa setel suhu 20-24C buat menghangatkan kamar gw. Lah, suhu segitu di Indo kan suhu AC XD. Gw cuman ngidupin pemanas kalau pas mau tidur, biar hemat listrik cyiiin.

Sistem Pembuangan Sampah

Nah, selain fasilitas-fasilitas kamar di atas, gw juga mau sharing tentang kebiasaan buang sampah sama cuci baju di dorm gw. Jadi untuk sampah sendiri nggak kayak di Indo dimana sampah segala macem dari plastik, sayur, ikan, tanah, pecahan gelas, pampers, rokok, kertas, sampai bagian tubuh manusia (ex: rambut, kuku) yang digabung jadi satu. Di sini, sampah harus dipilah-pilah berdasarkan kategorinya. Dan ada plastik sampah khusus untuk jenis tertentu. Intinya sih ada kategori burnable (ini kayak sampah organik sisa makanan atau sumpit yang dari bambu) sama non-burnable (plastik). Ada juga kategori sampah khusus kertas, khusus botol/can,  dll. Waktu untuk buang sampah ke 'Pusat Sampah Dorm' juga ada aturannya. Selain itu sebagai penghuni dorm dilarang banget buang sampah di tempat sampah selain dorm ini. Misal gw malah buang sampah ke dorm sebelah yang dorm khusus mahasiswa asli TUAT, kalau ketauan gw bisa kena sanksi. Sanksinya apa? Gw belum tau karena belum pernah nyoba, dan nggak mau nyoba hehe.

Cuci Pakaian

Shower Room

Nah, selanjutnya adalah kebiasaan mencuci di dorm. Jadi tiap lantai di dorm punya 'shower room'. Di shower room ini ada mesin cuci sama pengering otomatis. Untuk sekali pakai mesin cuci butuh 200 yen, sedangkan untuk pengering 100 yen. Kapasitasnya maksimal 4 kg, tapi dari pengalaman gw belum nyampe 4 kg mesin cucinya udah penuh ama baju-baju gw, ya gimana lagi Bu, baju saya tebal-tebal, ngabisin volume. 

Nah karena mesin cucinya otomatis, gw cukup masukin koin 200 yen dan voila!!! Mesin cucinya dengan pintarnya masukin air sendiri, muter sendiri, bilas sendiri, capek sendiri (eh nggak deng, klo yang ini). Waktu cuci yang tertera di timer itu 30 menit, jadi bisa ditinggal ke kamar dulu buat belajar (cielaaah). Untuk pengering pun sama, masukin koin dan voila jalan sendiri selama 30 menit yang sekali lagi bisa sambil ditinggal ke kamar dulu buat belajar.

Harga Sewa & Harga Lainnya

Btw, harga sewa kamar ini sekitar 30.000 yen (iya murah, kan tinggalnya di asrama mahasiswa), belum termasuk listrik, air, kebersihan, dan gas dimana kalau di total printilan tersebut menghabiskan biaya sekitar 4000-7000 yen per bulan -tergantung sedang musim apa dan tergantung tingkat "keborosan" penghuninya (biasanya saat musim dingin biaya listrik akan makin membengkak). Di daerah gw yang merupakan pinggiran Tokyo, harga apartemen bervariasi antara 50.000-100.000 yen/bulan tergantung luas ruangan dan fasilitas yang ditawarkan, kalau di kosan itu ada parkiran sepeda/mobil maka akan lebih mahal lagi (-yes, di Jepang banyak sekali ditemukan parkiran umum entah untuk mobil/sepeda/motor dimana ada biaya charge tiap harinya).



Okai, itu dia sepenggal kisah dorm gw. 
Semoga para pembaca yang budiman bisa mengambil manfaat  dari post ini. 
Akhirul kalam,
Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.