Tampilkan postingan dengan label Japan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Japan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Mei 2020

Jalan-Jalan ke Mount Takao: Menyepi Sejenak dari Hiruk-pikuk Kota Tokyo

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh


Haloo semuanya!!!! Kali ini gw kembali lagi dengan post berbagi pengalaman gw saat travelling. Tempat wisata yang akan gw ceritakan ada di perfektur Tokyo. Hayoo, kalau kalian denger kata "Tokyo", kira-kira objek wisata apa yang muncul di benak kalian? Shibuya? Asakusa? Tokyo Skytree? Ueno? Tokyo tower?. Aiiiss itu mah udah mainstream, kali ini gw akan mengajak kalian menjelajah ke objek wisata di Tokyo yang jarang disadari dan dikunjungi oleh turis terutama turis dari Indonesia. Nama tempatnya tidak lain dan tidak bukan adalah "Mount Takao", alias Gunung Takao. What? Di Tokyo ada gunung? Yes, ada wankawan. Letaknya memang beneran pinggiran Tokyo sih, meskipun begitu tempat ini layak buat kalian kunjungi. 

Namanya sih memang Gunung Takao ya, tapi jangan berkekspektasi bahwa gunung ini seperti Gunung Semeru atau gunung-gunung lain di Indonesia dengan ketinggian sekitar ribuan meter. Gunung Takao hanya memiliki ketinggian sekitar 600m di atas permukaan laut. Ha? Pendek banget, itu mah rumah gw juga di ketinggian segitu kaleee. Eits, tapi kabar baiknya dengan ukuran gunung yang tergolong "mini" ini berarti kita bisa dengan mudah mendakinya dan tidak perlu persiapan khusus kalau mau mendaki. Seru banget kan?

Lokasi

Untuk menuju Mount Takao cukup diperlukan waktu sekitar 50 menit dari stasiun Shinjuku  melalui line Keio menuju stasiun Takaosangushi. Sebentar banget kan? Kurang lebih mirip-mirip lah waktunya dengan naik KRL dari stasiun Depok ke stasiun Manggarai hehehe. 

Mount Takao
Penampakan Stasiun Takaoganouchi

Sesampai di stasiun, kita akan disambut oleh warung-warung yang menjual berbagai macam aksesoris dan makanan, jadi bisa banget buat kalian yang lupa bawa bekal bisa mampir dan beli makan disini (-tentunya buat yang muslim bisa lebih berhati-hati lagi untuk memilih makanan yang benar-benar halal dan thayyib).

Untuk pendakian ke atas gunung kita diberikan 3 pilihan transportasi:
  1. Cable car
    Bentuknya seperti kereta atau tram gitu ya. Nah si cable car ini bisa mengantar kita ke atas kurang lebih setengah perjalanan. Untuk biaya yang dikenakan yaitu sekitar 600 yen (ini harga tahun 2018 ya, nggak tahu apakah sekarang sudah naik apa belum)
  2. Chair Lift
    Bentuknya mirip seperti chair lift yang biasa kita temui saat kita mau ke puncak bukit untuk sky gitu. Sama dengan cable car, chair lift ini hanya mengantar kita sampai setengah perjalanan saja. Harga yang dikenakan oleh pengelolanya terbilang cukup murah yaitu 300 yen.
  3. Mendaki menggunakan kaki sendiri
    Ya ini adalah opsi bagi kalian yang tubuhnya fit, rajin olahraga; maka bisa memilih opsi ini.
Gw sendiri memilih opsi naik chair lift, selain murah harganya, juga dengan naik chair lift kita bisa sambil melihat pemandangan pepohonan sekitar. Ahayyy.

Mount Takao
Guide Map Takao
Untuk menuju titik puncak pendakian, disediakan berbagai macam opsi jalur dimana setiap jalurnya terdapat objek wisata (bisa sambil mendaki, sambil mampir-mampir gitu). Lebih jelasnya kalian bisa lihat di gambar peta di atas. 

Naik Chair Lift

Untuk naik chair lift, gw dan teman-teman harus menuju stasiun chair lift-nya dulu. Untuk menuju stasiun, kita diarahkan melalui jalan-jalan pedesaan yang indah banget, macam lagi di film-film gitu *mulainorak 😅.  Meskipun harus menempuh jarak sekian ratus meter, jadi tidak berasa karena sambil lihat pemandangan arsitektur pedesaan khas Jepang.

Mount Takao
Desa banget uyy
Mount Takao
Menikmati jalanan pedesaan
Saat sudah mencapai stasiun pun, kita kembali disambut dengan warung-warung di pinggir jalan yang menjajakan makanan dan berbagai macam cinderamata. Yang hobi belanja pasti bakal puas deh!

Mount Takao
Warung di depan stasiun chair lift

Mount Takao
Stasiun Chair Lift
Selanjutnya gw dan teman gw naiklah ke chair lift. Nah si chair lift ini hanya bisa dinaiki maksimum 2 orang untuk 1 kursi. Jadi ya kalau ada temannya bisa duduk berdua, atau yang datangnya sendirian ya bisa juga duduk sendirian di chairlift. Oh ya si chair lift tersedia rute bolak-balik ya, ada yang arah naik ke atas, juga sebaliknya disediakan rute turun ke bawah.

Mount Takao
Mulai bergerak mendaki

Mount Takao
Di bawah ada jaring-jaring
Gw mengunjungi Gunung Takao pada awal bulan Maret yang berarti sedang peralihan dari musim dingin ke musim semi, jadi ya mohon maklum kalau pemandangan di sekitar hanya berupa pohon-pohon dengan dahan gundul atau daun-daun kering. Gw sendiri lebih menyarankan kalau kalian ingin berkunjung kesini adalah saat musim semi atau musim gugur karena dijamin pemandangannya bakal bagus banget! Bayangin aja deh kita naik chair lift di samping kanan kiri ada deretan pepohonan berwarna merah-kuning-coklat khas musim gugur. Indah sekali! Atau di kala musim semi, menaiki setapak demi setapak jalan dengan sesekali dijatuhi beberapa kuntum sakura, uulaalaa.

Mount Takao
Mount Takao saat musim gugur

Mendaki di Sisa Pendakian

Sebagaimana gw bilang sebelumnya kalau naik chair lift ini menghemat setengah perjalanan, sisanya? Ya jalan kaki. Waduh, kalau tersesat gimana? Nah tenang aja guys, bisa dikatakan hampir di setiap sudut tempat akan kita temui banyak papan penunjuk jalan. Kita pun bisa membekali diri dengan peta Gunung Takao yang kita download dari internet.

Mount Takao
Panduan Jalur Pendakian dan objek wisata di sekitar Mount Takao

Untuk mencapai puncak Gunung Takao terdapat beberapa jalur pendakian (trail), dan di setiap jalur kita bisa menemui spot menarik, seperti temple, jembatan, taman monyet, air terjun, dan lain-lain. Berhubung gw sama teman-teman kemaruk pingin menjajal semua trail biar bisa menjelajahi semua objek wisata, maka kita memutuskan untuk mencoba semua trail ~mumpung masih muda dan kuat. "Awalnya". Kemudian semua berubah setelah gw dan teman-teman kelelahan dan kaki pegal-pegal padahal baru menjajal 3 trail hahaha. Udah nggak minat deh nyobain semua trail, rasanya saat itu pingin pulang aja terus ngolesin balsem geliga atau koyo cabe ke kaki.

Nah ini dia beberapa foto yang gw ambil selama perjalanan mendaki. Jalanan pendakian ada yang berupa jalanan tanah dan ada pula yang berupa jalanan cor. Saran gw adalah: pakailah sepatu olahraga semacam sepatu lari yang alasnya bergerigi. Gw saat itu salah pakai sepatu, gw pakai sepatu yang alasnya rata jadilah bahaya kalau lagi naik jalan yang curam.

Mount Takao
Papan penunjuk jalan

Mount Takao
Jalan setapak tanah

Mount Takao
Yakuo-In Temple di Trail 1

Mount Takao
Suspension Bridge di Trail 4

Oh ya, saat berkunjung ke Mount Takao, gw sarankan untuk bawa bekal ya, soalnya gw jamin kalian bakal kelaparan akibat kehabisan tenaga wehehe. Sebenarnya di atas gunung pun ada beberapa spot orang jualan, meskipun begitu yang dijual kebanyakan cemilan, kebanyakan cemilan, makanan agak berat yang dijual pun hanya sejenis sukiyaki itupun nggak ada nasinya :" (*Kebiasaan orang Indo, nggak pakai nasi, nggak kenyang). Jadi jangan berekspektasi kayak pas naik gunung di Indo dimana kita bisa nemu abang-abang atau mbak-mbak penjual indomie, pecel, bakwan goreng panas, soto ayam, atau kopi panas di perjalanan. 

Mount Takao
Stand penjual

Mount Takao
Istirahat sejenak sambil menyantap sukiyaki panas 500-an yen

Penurunan

Oke setelah puas menjelajah gunung Takao dan kaki sudah tidak kuat rasanya untuk diajak mendaki -saking lelahnya bahkan sampai lupa mengambil foto saat sudah mencapai puncak gunung takao :"), maka diputuskan untuk turun saja. Nah untuk turun ini juga ada beberapa opsi sebagaimana saat mendaki tadi, antara kita ingin naik cable car atau chair lift; atau ya jalan kaki saja. Kami pun memilih untuk jalan kaki karena mikir pasti nggak capek, toh jalanannya turun kan? *asumsi awal. Ternyata o ternyataaa, jalanan turunannya curam kali permirsahh!!! Ada beberapa jalan yang sudut kemiringannya hampir 45 derajat, jadi intinya sama aja: butuh tenaga untuk menopang berat tubuh agar tetap seimbang saat turun dan tidak jatuh bergelindingan. Padahal jalan-jalan tersebut sudah menggunakan prinsip "pesawat sederhana" -pelajaran fisika jaman SMP, yaitu dibuat miring dan berkelok-kelok untuk meminimalisir kerja yang dilakukan, tapi yah tetap melelahkan juga*ngeluh mulu XD. Nggak bisa bayangin kalau pas berangkat tadi milih jalan kaki ketimbang chair lift hahaha. Lain kali, mungkin gw akan berkunjung kesini lagi tapi dengan kondisi tubuh yang lebih fit jadi bisa jalan kaki dari titik awal pendakian sampai puncak. Aaaamiin

Pesawat sederhana

Syukurnya, jalanan turun ini berupa cor atau aspal jadi setidaknya tidak berbahaya kalau sedang hujan, meskipun begitu nggak memungkiri juga dengan jalanan aspal yang keras itu akan membuat tekanan kaki ke jalan semakin sakit karena tahanan yang kuat dari si aspal, seperti yang dipaparkan oleh hukum 3 Newton (duh, kesambet apa gw jadi ngomongin fisika). Nah ini dia gambaran jalan turunnya.

Mount Takao
Turuuuuuuuuuun

Mount Takao
Curam

Mount Takao
Garis Finish, Yeyyy

Alhamdulillah, akhirnya setelah menempuh perjalanan turun selama kurang lebih 45 menit, akhirnya sampailah gw dan teman-teman di garis finish. Sebenarnya di bagian lereng ini terdapat beberapa macam objek wisata seperti kuil atau museum, namun berhubung saat itu gw udah lapar (lagi) dan ngidam makan spaghetti tinta cumi-nya Pizzeria di Koganei, gw memutuskan nggak mampir ke objek wisata tersebut dan langsung cabut pulang wehehehe.

Mount Takao
Menyusuri jalan pedesaan setelah melewati garis finish
Mount Takao
Museum di lereng gunung

Cuap Cuap Terakhir

Nah itu dia pengalaman gw ke Mount Takao, semoga bisa membantu teman-teman yang sedang merencanakan liburan ke Tokyo.

Sampai jumpa!!!





Ditulis dikala seharusnya mengerjakan revisi proposal penelitian,
namun memilih untuk kabur sejenak dan menulis kenangan saja

Jumat, 26 Juli 2019

7th Week in Japan: Jalan Jalan ke Odaiba & Tokyo University

Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh



Haiii haiiii semuanyaaaa

Akhirnya setelah hiatus #cielah sekian bulan, bisa menulis lagiiiii yeayyyy.

Nah di post kali ini gw mau share bagaimana perjalanan gw ke Odaiba. Sebenernya gw ke Odaiba sekitar bulan Maret tahun lalu waktu gw exchange ke Jepang (ikuti postnya disini). Awalnya sih males nulis ya, tapi setelah iseng-iseng buka foto pas ke Odaiba, jadi pingin nulis deh. Sayang rasanya klo pengalaman kemarin nggak diungkapkan via kata-kata hahaha.

Gw berharap post ini bisa membantu kalian yang berencana untuk berlibur di Odaiba. Tanpa lama-lama lagi, yuk langsung kita mulai aja!! Yip Yip!


Mampir ke Tokyo University (Todai)

Oke berhubung tempat tinggal gw di Higashi Koganei, dan untuk menuju Odaiba itu melewati Tokyo Daigakuen alias Todai, maka diputuskanlah untuk mampir di Todai dulu. Ya sekalian pingin lihat bagaimana sih penampakan Todai, universitas number wahid in Japan. Dari pintu masuk Todai menuju rektoratnya bisa ditempuh dengan jalan kaki alias lumayan deket. Oke ini dia penampakan rektoratnya Todai, sekaligus landmark Todai. Jadi klo ke Todai, belum afdhol kalau belum foto disini.

Tokyo University
Landmark Tokyo Daigakuen
Di depan bangunan rektoratnya, ada semacam jalan memutar gitu. Ya semacam rotunda UI gitu deh. Nah di sekelilingnya ada taman-taman dan tempat duduk. Cocok banget deh buat berpiknik belajar. 

Tokyo University
Eksis Duluuu
Meskipun waktu gw berkunjung di Todai itu adalah hari Minggu, tetep masih banyak banget mahasiswa yang 'ngendon' di taman-taman sekitar rektoratnya. Tebak, mereka ngapain? Yes, definitely mereka lagi belajar. Jadi waktu gw kesana sama temen-temen gw dimana kita datang sambil ngobrol kesana kemari & cengengesan, waktu sampai daerah tamannya langsung kicep gara-gara lihat mahasiswa yang lagi pada asyik belajar. Gila sih! Klo masalah disiplin dan kerja keras emang sudah terbukti mah Jepang.

Tokyo University
Belajar di bawah pohon sakura yang baru mau tumbuh
Secara umum, bangunan di Todai ini arsitekturnya kayak bukan lagi di Asia guys, tapi kayak tipikal bangunan universitas di Eropa atau Amerika. 


Tokyo University
Arsitektur Tokyo Daigakuen
Di jalan jalan sekitar Todai ini ditanami pohon-pohon sakura. Jadi otomatis bakal jadi pemandangan yang cantik klo pas musim semi. Pemandangan bunga Sakura yang lembut dan cantik dipadukan dengan bangunan-bangunan tua kecoklatan khas Eropa. Sayangnya pas gw berkunjung disana masih awal musim semi, jadi ya bunga sakuranya masih antara ada dan tiada, belum yang bloom perfectly.


Naik Kereta

Setelah makan siang dan sholat dhuhur di Todai -lebih tepatnya sholat di lorong-lorong kampus (cek tips tempat sholat saat di luar negeri), maka perjalanan pun dilanjutkan menuju Odaiba. Oh ya perlu untuk diketahui ya temen-temen, Odaiba ini merupakan sebuah pulau buatan yang memang dikhususkan untuk atraksi turis & hiburan. Nah lho, klo itu sebuah pulau, gimana caranya kesana dong? Berenang? Naik kapal? Atau naik helikopter? Jawabannya adalah NAIK KERETA. Yes, jadi pemerintah Jepang membangun semacam jalan di atas laut gitu untuk menghubungkan Tokyo dengan Odaiba. Kece banget dong!
Monorail
Nah jalan ini sebenarnya bisa dilalui berbagai macam moda transportasi seperti kendaraan pribadi, bis, kereta (monorel), dan kaki. Wutt kaki??? Yes benar, jadi klo misal kalian merasa punya banyak waktu dan energi, atau merasa ingin menikmati suasana senja sambil jalan kaki menembus laut bersama sang terkasih, maka jalan kaki ini sangat direkomendasikan hahaha. Berhubung gw nggak ada "sang terkasih", dan gw pun g punya kendaraan pribadi, maka jadilah gw memilih naik kereta aja. Tapi serius lho, menurut gw keren banget ini pemerintah Jepang bangun infrastrukturnya. Jadi jalan yang dibangun itu nggak hanya mengakomodir buat kendaraan pribadi aja, tapi juga kereta dan pejalan kaki. Si jalan ini terbagi menjadi 3 lorong yaitu lorong buat jalan raya, lorong buat kereta/monorel, dan lorong buat pejalan kaki (bukan trotoar ya). Jadi masing-masing jalan inipun tidak menganggu satu sama lain, yang naik kendaraan pribadi bisa kebut-kebutan, yang jalan kaki pun bisa tenang dan aman, karena ya jalannya sudah dipisah. Standing applause deh buat para civil engineer yang merancang ini.


Patung Liberty

Nah setiap berkunjung ke Odaiba, nggak afdhol kalau nggak foto di patung Liberty ala ala ini. 

Odaiba
Liberty Statue
Yah bisa juga lah buat panjat sosyel, bilangnya sih di New York, padahal mah di Odaiba 藍. Atau bisa juga buat tebak-tebakan "hayo tebak aku lagi dimana?". Kalau ada komentator yang jawab benar, bisa dikasih hadiah piring cantik #halahapasihjayus.



Gundam

Oke buat para pecinta Gundam di luar sana, kayaknya tempat ini masuk di list liburan kalian deh ya. 

Odaiba
Gundam
Nah patung gundam yang ada di Odaiba bukan hanya sekadar patung, melainkan bisa bergerak dan berganti pose di jam-jam tertentu. Biasanya nih guys, kalau udah mendekati jam jam mau ganti pose, banyaaaaaak banget orang yang standby buat merekam entah untuk koleksi pribadi, dipamerin ke temennya yang fans gundam buat manas-manasin (ini kasus nyata di temen gw ) , atau buat sekedar update di medsos. Di sini juga lumayan sulit ya kalau mau foto, soalnya banyak banget orang-orang mau foto dengan berlatarkan gundam ini.



Shopping: Aqua City, Diver Plaza


Okeiiii, disini ada beberapa pusat perbelanjaan yang menarik untuk dikunjungi. Jadi buat para wisatawan yang doyan belanja & ingin borong oleh-oleh bisa langsung serbu disini.

Odaiba
Shopping
Klo gw sendiri belanja beberapa titipan temen & makan di stand Hanamaru Udon. Nah, buat temen-temen yang ingin cari makanan halal di Jepang, kalian bisa banget berkunjung di Hanamaru Udon ini karena beberapa menunya inshaAllah halal seperti Kake Udon, Tamago Udon, dan gw lupa sisanya . Harganya pun sangat terjangkau, bahkan lebih murah dibanding Marugame Udon di Indonesia. Dan oh ya, si Hanamaru Udon ini juga banyak banget franchise-nya di seluruh penghujung Jepang, jadi mudah dicari.



Night View Odaiba

Sebenarnya masih banyak spot-spot menarik di Odaiba yang bisa dikunjungi, seperti Fuji TV, museum, dll. Cuman karena gw sudah terlampau capek (berdiri nontonin konser band Jepang nggak tau apa di depan Diver Plaza) gw memutuskan pulang aja sambil nanti cari makan malam haha.
Konser ala ala
Odaiba
Night View Odaiba
Odaiba
Gundam Night View
Nah berhubung waktu itu adalah peralihan antara musim dingin dengan musim semi, maka di Odaiba banyak sekali spot-spot illuminations khas musim dingin (bisa juga cek foto-foto illuminations di Tokyo Dome disini).



Makan Pakistani Food dekat Tokyo Tower

Oke, kalian masih ingat cerita gw waktu berkunjung ke Tokyo Tower dan menemukan resto pakistan halal yang enak? (Cek postnya disini ya). Nah waktu itu gw pergi bersama geng liqo gw, nah sedangkan di kesempatan ini gw lagi bersama geng anak UI, jadi gw meracuni mereka buat makan di tempat yang sama waktu gw makan bareng geng liqo hehe. Dan yah memang bukan pilihan yang salah. 

Makan-makan
Waktu itu kita beli paket makan dimana per orang sekitar 1500 yen (sekitar 180 ribu), dapet makanannya banyak banget doooong!!!! 1500 yen itu dapet nasi bumbu, roti Nan gede banget, jus jeruk, air putih (refill sepuasnya), sepotong ayam, dan 2 jenis kare. Mantappp banget nggak tuh, Guys?



Oke demikian cerita gw selama jalan-jalan menuju Odaiba. Semoga post ini bisa membantu kalian yang sedang merencanakan liburan menuju Odaiba.

Ba bhayyyy !!!!!

Wassalamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Senin, 09 April 2018

6th Week In Japan: Jalan Jalan ke Kamakura

Dibanding tempat-tempat wisata lain yang udah pernah gw kunjungi di Jepang, gw rasa Kamakura inilah yang paling dabest. Wiii, kok bisa? Yap, meskipun dari segi biaya entah itu transportasi maupun tiket masuk ke objek wisata adalah paling mahal kalau dibandingkan dengan destinasi-destinasi sebelumnya, Kamakura tetap menang. Oh ya, Kamakura inilah destinasi pertama gw yang keluar dari perfektur Tokyo karena Kamakura sendiri terletak di Perfektur Kanagawa. Apa sih yang bikin Kamakura keren banget dan wajib dikunjungi? Yes, disinilah gw pertama kalinya lihat bunga sakura karena sakura di Tokyo belum tumbuh/mekar, selain itu Kamakura memiliki sebutan "Kyoto of the East" dikarenakan Kamakura dipenuhi banyak sekali objek wisata berbau tradisional dan atmosfir pedesaan seperti Kyoto. Trus darimana sebutan "East-nya"? karena Kamakura sendiri terletak di dekat Tokyo yang dimana merupakan wilayah bagian timur di Jepang.

Terlalu banyak objek wisata yang ada di Kamakura, bahkan gw bingung pas bikin itinerary mau kemana aja karena rata-rata objek wisata tutup pada pukul 5 sore dan dengan posisi objek wisata yang tersebar di seantero Kota Kamakura makanya gw terpaksa kudu menseleksi dan milih objek wisata apa aja yang harus dikunjungi dalam 1 hari kunjungan. Eits, kenapa nggak nginep aja biar bisa full keliling Kamakura? Yah gimana lagi cyyn, saya mahasiswa miskin tak punya duit buat sewa hotel. Hehehe. Yap, sebelum gw cuap-cuap lebih jauh gw mau pamer dulu foto bunga sakura di Kamakura hahaha. Ini dia, tadaaaa.


Kamakura
Bunga Sakura yang Mulai Mekar di Kamakura
Nah, tapi tenang aja gw udah berusaha semaksimal mungkin bisa berkunjung dan keliling Kamakura mulai dari ujung kota ke ujung lain kotanya hahaha. Oh ya gw lupa bilang kalau Kamakura sendiri bisa dibilang lumayan dekat dari Tokyo yaitu di sebelah selatannya Tokyo. Untuk menentukan itinerary ke Kamakura, gw pake panduan dari Kamakura Travel Map yang gw download di Google, bisa dilihat di gambar di bawah. Panduannya bisa dibilang cukup representatif, jadi kita bisa punya bayangan untuk turun di stasiun apa dan berapa biaya yang dikeluarkan unuk memasuki tiap objek wisata.

Kamakura
Panduan Lengkap Jalan-Jalan ke Kamakura

Gw lupa berapa duit yang gw habisin buat transportasi ke Kamakura dari Tokyo tapi yang pasti antara 1000-1500 yen untuk sekali jalan. Jadi buat perjalanan PP persiapkan aja duit sekitar 3000 yen untuk transportasi. Eh tapi jangan ngeluh dulu dengan harga transportasinya, pokoknya 3000 yen benar-benar worthed lah buat Kamakura. Nah tuh kan gw kebanyakan cuap-cuap lagi, yak langsung cekidot aja !

Kencho-Ji Temple

Oke inilah destinasi pertama gw, untuk kesini gw turun di stasiun Kita-Kamakura yang merupakan stasiun pertama kali dilewati saat memasuki daerah Kamakura dari arah Tokyo. Perjalanan menuju Kamakura dari arah Tokyo memakan waktu sekitar 1,5 jam. Nah kalau ada kata "Temple" berari dia adalah rumah ibadah untuk penganut agam Budha, sedangkan kalau "Shrine" adalah untuk agama Shinto. Dan biasanya orang Jepang menganut 2 kepercayaan ini ya meskipun orang Jepang sekarang rata-rata tidak memiliki agama/kepercayaan dan menjadikan berkunjung ke Temple/Shrine atau bahkan merayakan natal sebagai tradisi (kata temen lab gw yang orang Jepang). Pas gw nyampe di stasiun Kita-Kamkura gw benar-benar ngerasain atmosfir yang sangat berbeda dibanding Tokyo. Kalau di Tokyo stasiun pasti besar, padat, dan ramai. Nah stasiun Kita-Kamakura ini super slim dan deso-deso gimana gitu, bentuknya cuman segaris doang macam stasiun KRL Pancasila. Pemandangan di sekitar stasiun juga yang deso-deso gimana gituu.

Kamakura
Stasiun Kita-Kamakura
Kamakura
Jalanan Khas Pedesaan keluar dari Stasiun Kita-Kamakura
Nah lokasi Kencho-Ji Temple dengan Stasiun Kita-Kamakura sangatlah dekat, dengan jalan kaki hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit. Oh ya, Kencho-Ji Temple ini merupakah salah satu temple terbesar di Kamakura. Biaya masuk menuju temple adalah 300 yen. Saat pertama kali masuk temple, maka akan disambut oleh gerbang yang gw nggak tahu apa namanya.

Kamakura
Tiket Masuk Kencho-Ji Temple

Kamakura
Gerbang Menuju Kencho-Ji Temple

Wilayah di dalam temple sangatlah luas. Jangan tertipu dengan pintu masuk temple ini yang bisa dibilang kecil, saat kalian masuk ke dalam temple barulah sadar kalau temple ini benar-benar luas dan panjang. Oh ya, pas masuk ke temple, pengunjung akan diberi semacam guide map tentang apa saja yang bisa ditemukan di temple. Oh ya, disinilah gw lihat bunga sakura mekar uhuyyy. Nah tanpa babibu bisa langsung cek ajalah foto dibawah.

Kamakura
Sakura di Kencho-Ji Temple

Kamakura
Kencho-Ji Temple

Kamakura
Spot di Kencho-Ji Temple



Meigetsuin Temple

Perjalanan pun gw lanjutkan menuju Meigetsuin Temple yang terkenal bunga hydrangea-nya. Kayak gimana sih bunga hydrangea? Itu tuh yang biasanya ada di puncak yang bentuknya bola-bola. Nah sayangnya, karena gw kesini pas winter, gw kebingungan kemana si bunga hydrangea kok nggak kelihatan batang hidungnya padahal kalau gw lihat di google, temple ini benar-benar dipenuhi dengan bunga hydrangea. Yap, tak lain dan tak bukan, dikarenakan winter bunga hydrangea tidak tumbuh. Yahhh. Padahal gw udah bayar 300yen buat tiket masuk demi lihat bunga hydrangea.

Kamakura
Ekspektasi

Kamakura
Realita: Bunga Hydrangea yang Kering Kerontang :"(
Yah nggak papalah, memang ya, paling bagus ke Jepang itu pas musim semi atau setidaknya musim gugur lah, jadi pemandangannya bisa cantik-cantik entah itu bunganya atau warna-warna dan musim gugur. Yap, meskipun begitu temple ini cukup bagus kok dan yah, sebenarnya ada spot buat foto ala-ala lagi minum teh gitu, cuman karena mahal biayanya sekitar 1000 yen, nggak jadi deh *dasarkismin. Nah ini gw langsung kasih aja lah ya foto-foto di Meigetsuin Temple.

Kamakura
Orang-Orangan Sawah

Kamakura
Taman Zen = Taman Khas Jepang

Kamakura
Bangku berlatar Bunga Ume
Kamakura
Eksis
Kamakura
Patung

Oh ya gw mau cuap-cuap dikit nih, bisa dilihat di salah satu foto yang gw upload ada satu yang bercaption "Taman Zen". Nah fyi, Taman Zen ini adalah taman yang memiliki desain khas Jepang. Hmm apa sih uniknya? Bisa dilihat di gambar kalau taman Zen ini menggunakan kombinasi antara batu, pasir, dan semak-semak/tanaman untuk membentuk lansekapnya. Jadi ceritanya. pasir yang ada di taman ini melambangkan air dimana bisa dilihat dari adanya pola "sisiran" pasir yang membentuk riak-riar air. Nah, kalau ingin lihat taman tipe seperti ini, biasanya satu lokasi dengan kuil/temple zen contohnya si Meigetsuin temple ini.

Hachimangu Shrine

Nah, untuk menuju Hachimangu Shrine, gw kudu berpindah dari stasiun Kita Kamakura ke stasiun lain yaitu stasiun Kamakura. Pas gw kesini, lagi ada upacara pernikahan dan upacara agama di shrine-nya jadilah gw nggak masuk ke dalam. Pas gw kesini ada semacam stand-stand makanan di luar shrine, nah jadinya disini gw yang udah bosen sama shrine dan temple' memilih untuk beli makanan aja di luar shrine. Yeah.

Kamakura
Perjalanan Menuju Hachimangu Shrine
Makanan yang gw beli disini adalah manisan sejenis ringgo ame, cuman bedanya disini buah yang dipakai untuk manisan adalah anggur dan strawberry. Harganya pun murah banget guys, yang anggur cuman 100yen dan strawberry cuman 200 yen. Bisa dilihat gambarnya dibawah.

Kamakura
Manisan Strawberry

Kamakura
Manisan Anggur 100 yen


Kosoku-Ji Temple

Dari stasiun Kamakura, gw beralih ke Stasiun Hase. Di stasiun ini gw berkunjung ke 2 temple yaitu Kosoku-Ji Temple dan Kohtoku-In Temple. Di Kosoku-Ji Temple inilah gw melihat banyak bungan sakura yang mulai mekar padahal saat itu masih bulan Februari. Lokasi Kosoku-Ji Temple ini antara stasiun Hase dengan Kohtoku-In Temple. Jadi kalau mau ke Kohtoku-In Temple bisa sekalian mampir dulu di Kosoku-Ji Temple.
Kamakura
Bunga Sakura yang Mulai Mekar di Taman Kohtoku-In Temple


Kamakura
Kohtoku-In Temple

Kohtoku-In Temple

Nah, rata-rata orang yang berkunjung ke Kamakura, menjadikan Kohtoku-In Temple sebagai tujuan utamanya. Jadi Kohtoku-In Temple ini semacam landmark-nya Kamakura dengan patung Budha-nya yang super besar. Pokoknya kalau di Kamakura, rata-rata souvernir yang dijual ada gambar/ornamen si patung Budha ini.

Kamakura
Patung Budha Besar Landmark Kamakura
Kohtoku-In Temple
Tiket Masuk

Enoshima-Beach

Nah akhirnya sampelah ke tujuan terakhir gw di Kamakura yaitu Enoshima-Beach. Pantai ini letaknya lumayan dekat dari stasiun Hase (arah berlawanan dengan Kohtoku-In temple). Yap, disini gw sekalian nunggu sunset (padahal nggak kelihatan sunsetnya -,-). Anehnya, meski saat itu gw lagi musim dingin dengan suhu sekitar 5C, masih aja ada orang-orang yang surfing di pantai ini. Beuhh.

Kamakura
Surfer

Kamakura
Kapal di Pantai Enoshima

Kamakura

Nah, itu dia sepenggal perjalanan gw di Kamakura siapa tahu bisa jadi referensi buat agan-agan dan sista-sista yang ingin dan akan berkunjung ke Jepang.

Happy Vacation !!!