Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2023

Hidup Sebagai Muslim di Berkeley, California, Amerika Serikat

 Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh



Setelah hiatus lama (cielah hiatus, kayak komikus aja), akhirnya gw mau balik lagi nulis di blog yang udah usang ini. Kali ini, gw mau membagikan tentang pengalaman hidup gw sebagai muslim di Amerika Serikat, khsususnya di Berkeley. Jadi sejak September 2022, gw pindah ke Berkeley, California, US, untuk menempuh studi selama kurang lebih 1 tahun ke depan di Bioengineering UC Berkeley. 

Jadi sampai saat ini, kurang lebih sudah 5 bulan hidup di negeri Paman SAM. Waktu 5 bulan sudah cukup lah ya buat ngasih testimoni? Ya dicukup-cukupin ajalah. Tujuan gw bikin tulisan ini adalah sebagai kenangan buat diri gw di masa depan (maklum anaknya sentimentil, paling suka nge-keep memori) dan siapa tahu post ini bermanfaat buat teman-teman yang membutuhkan informasi ini. Tanpa perlu cuap-cuap lebih panjang lagi, langsung aja deh kita mulai~~~


Praduga dan Realita

Sebelum gw berangkat ke US, bisa dibilang gw udah mempersiapkan diri untuk menjadi minoritas kelak di Amerika Serikat. Berdasarkan pengalaman hidup gw sebelumnya yang sempat tinggal di Jepang (baca ceritanya disini), gw berkesimpulan bahwa akan sulit hidup sebagai muslim di Berkeley nanti. Bisa jadi gw harus cari-cari tempat sholat seperti parkiran, taman, atau tangga emergensi, sebagaimana yang gw lakukan saat di Jepang. Gw juga udah berdoa sama Allah, biar Allah jaga gw selama di Berkeley, biar gw tetap istiqomah menjalankan kewajiban sebagai muslim dan tidak terbawa arus. Gw juga udah menyiapkan diri kalau-kalau di US nanti, gw akan makan seafood dan sayur-sayuran aja karena gw pikir daging disana pasti semuanya tidak halal (sebagaimana dulu gw tinggal di Jepang). Intinya, gw udah bersiap dengan segala kemungkinan terburuk.

Dan ternyata segala praduga gw tersebut terpatahkan saat gw sampai di Berkeley. Sebaliknya, justru gw menemukan komunitas muslim yang besar di Berkeley (gw nulis ini sambil merinding-merinding terharu guys). Gw nggak menyangka UC Berkeley punya musholla di kampus yang bahkan ukurannya lebih gede dari musholla-musholla di beberapa mall di Jakarta. Mushollanya nggak cuman satu, tapi 2. MasyaAllah, Alhamdulillah. Di luar 2 musholla tersebut, ada juga beberapa ruangan kecil yang terkhususkan untuk sholat di beberapa gedun di kampus. Duh, bener-bener nggak nyangka. Alhamdulillah :""""""


Muslim Student Association

Sama seperti di Indonesia yang kalau tiap kampus atau sekolah ada rohis (rohani islam), disinipun ada, namanya MSA (Muslim Student Association). Biasanya MSA ini ada di tiap-tiap kampus atau college di US yang ada komunitas mahasiswa muslimnya. Di UC Berkeley pun ada MSA, namanya Cal MSA, bisa klik disini untuk ngepo-in instagramnya. MSA inilah yang mengorganisir kegiatan mahasiswa-mahasiswa muslim di UC Berkeley. Divisinya ada banyak, mulai dari political action, community service, tech & design, finance, dll. 

Di semester lalu, gw sempet tergabung jadi staff di Community Service Committee (CSC). Di sana gw ketemu banyak temen baru alhamdulillah. Dan saat gw gabung divisi itu, gw satu-satunya wajah Asia Tenggara, yang lain antara wajah pakistan/india/bangladesh/middle eastern, bisa dibilang gw jadi keliatan ter'pop-up' gara-gara mukanya beda sendiri, udah gitu ngomong enggresnya masih ada logat Jawa pula hahaha. Di bidang CSC, kitalah yang mengorganisir kegiatan bagi-bagi makanan ke homeless a.k.a tunawisma (fyi, di Berkeley banyak banget tunawisma) setiap selesai sholat Jum'at, dan acara pengabdian masyarakat lain. Sayangnya, gw cuman bergabung staff CSC ini di semester lalu aja, di semester ini gw memutuskan keluar karena kesibukan lab & kuliah.

Ya intinya, gw bersyukur gw menemukan saudara-saudara sesama muslim di Berkeley apalagi dengan adanya MSA ini, kita jadi punya wadah untuk melakukan kegiatan positif bersama. Alhamdulillah


Sholat Jum'at

Ini juga hal yang nggak gw expect akan ada di UC Berkeley. Secara dulu pas masih tinggal di Tokyo, boro-boro ada sholat Jum'at, tempat sholat aja seadanya di tangga emergency, jadi wajar kalau gw nggak berekspektasi apapun dengan Berkeley. Dan ternyata o ternyata pemirsa, di kampus UC Berkeley diselenggarain sholat Jum'at doong. MasyaAllah. Jadi setiap waktu sholat Jum'at, kita akan makai hall yang biasa dipakai buat basket untuk kemudian diubah menjadi tempat sholat Jum'at. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga diperbolehkan untuk sholat Jum'at disini. Gw pun menggunakan kesempatan itu untuk ikutan sholat Jum'at, karena dengan begitu setidaknya gw bisa dengerin khutbah Jum'at serta bisa kenalan sama muslimah-muslimah lainnya. Alhamdulillah. 

Gw inget banget pertama kali gw ikut sholat Jum'at di kampus, gw nangis terharu denger khotbah Jum'atnya yang entah bagaimana sangat relate dengan masalah gw saat itu plus menampar & menusuk hati ini. Sejak dari situ gw bertekad "oke, aku akan ikut sholat Jum'at seterusnya disini'. Oh ya, sebenernya di kota Berkeley, ada masjid dan masjid itu diselenggarakan sholat Jum'at juga. 


Kajian

Musholla aja gw nggak expect akan gw temukan di Berkeley, apalagi kajian, boro-boro kepikiran di otak gw. Dan ternyataaa masyaAllah alhamdulillah, ada kajian rutin di kampus dan Masjid Berkeley dong. Aaaaaaa, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Dulu pas gw hidup di Tokyo, satu-satunya pengalaman gw ikut kajian ya cuman di KBRI yang itupun ustadznya adalah ustadz Hanan Attaki yang kebetulan lagi mampir ke Tokyo. Dan ternyata disini, pihak MSA secara rutin mengadakan kelas/kajian setiap minggu dengan ustadh-ustadh dari Amerika. Alhamdulillah.

Kajian biasanya terdiri dari beberapa series, misal kajian tentang ramadhan ada 6 series, berarti selama 6 minggu ke depan kajian itu, nanti setelah kelas seriesnya akan muncul series kajian yang lain. Kajian disini biasanya dimulai setelah Maghrib, jadi disaat mahasiswa udah pada kelar dengan kegiatan kelasnya. Bisa dibilang, kehidupan gw disini yang mana adalah negara minoritas muslim malah justru lebih islami ketimbang kehidupan gw pas di Indo dulu hahaha. Gw merasa lebih banyak ikut kajian disini ketimbang pas di Indonesia. Semoga Allah menjadikan gw istiqomah ke depan. Aaamiin.


Makanan Halal

Sebagaimana gw bilang sebelumnya bahwa gw udah mempersiapkan kemungkinan terburuk bahwa bisa jadi selama hidup gw 1 tahun di Berkeley, gw akan makan seafood dan sayuran aja. Dan ternyata salah doong, nggak cuman 1 tapi ada banyak toko-toko yang menjual daging ataupun bumbu-bumbu halal di Berkeley. Aaaaaaaaaaa, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Gw udah overthinking bahwa gw akan jadi herbivora selama disini, taunya ada banyak toko-toko yang jual daging halal. Nggak cuman toko daging, nggak sedikit juga restoran-restoran ataupun kantin kampus yang menjual makanan halal. Alhamdulillah. Yah pokoknya mah, buat saudara-saudari muslimku yang berencana hidup disini, nggak perlu takut nggak bisa makan enak disini hahaha. Makanya kayaknya keterlaluan banget dengan segala akses makanan halal yang ada disini, tapi masih coba-coba makanan yang haram. Nggak ada excuse :"


Nah itu dia ya sepenggal cerita gw tentang hidup sebagai muslim disini. Intinya gw bener-bener bersyukur alhamdulillah, Allah kasih kemudahan gw hidup sebagai muslim disini.

Sebenarnya gw berencana menambahkan foto-foto, tapi gw udah nggak sabar buat publikasiin. Tenang aja, gw janji nanti gw akan berburu foto-foto yang cakep dan gw tambahin ke sini. Mungkin post ini akan bertambah juga setelah nanti gw mengalami bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha di Berkeley. InsyaAllah. Tungguin aja yaaa hehehhe

Akhir kata,

Wassalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Jumat, 12 November 2021

Prokrastinasi: Klo bisa nanti, kenapa harus sekarang?

Ada satu scene di serial spongebob yang gw ingat, yaitu saat Mr. Krab meminta Squidward untuk melakukan sesuatu, lalu Squidward menjawab:

"Why do today what you can put off till tomorrow?"

"Kenapa harus dilakukan sekarang jika bisa dilakukan besok?"

Pertama kali gw denger kalimat itu yaitu saat SD sekitar 15-17 tahun yang lalu -nah lho, ketauan kan tuanya-, gw ketawa dan geleng-geleng kok bisa sih ada orang kayak Squidward yang disuruh bos-nya malah jawab sekenanya gitu, ditambaj dengan muka yang memancing hasrat penonton untuk menampol. Berkebalikan dengan Squidward, dulu gw adalah sosok yang amat rajin, jadi procrastination a.k.a menunda-nunda nggak ada dalam kamus hidup gw. 

"Klo bisa sekarang ya sekarang, kenapa harus besok? Apa sih susahnya dikerjain sekarang?"

-Diri gw jaman SD-

Bisa dibilang gw dulu adalah anak yang sangat bersemangat yang mungkin agak menyerempet ke ambis; yang memiliki obsesi untuk melakukan segala sesuatu dengan cepat dan terbaik. Jadinya, gw nggak relate sama sosok Squidward di scene di atas, tapi jelas relate dengan Spongebob yang selalu berusaha ngasih yang terbaik buat Mr. Krab dan Crusty Crab. 

15 tahun kemudian, entah karena kualat dengan omongan sendiri yang takabur-sombong-sesumbar, atau memang gw berada di titik udah lelah-burnout dan sejenisnya; terjatuhlah gw ke dalam lubang prokrastinasi alias menunda-nunda pekerjaan. Belum pernah sebelumnya gw merasakan nikmat sekaligus tersiksanya menjadi seorang procrastinator. Yap menikmati, karena ada suatu kenikmatan (sesaat) yang kita dapatkan dengan bersantai-santai tidak mengerjakan tugas atau tanggung jawab kita. Namun sekaligus merasa tersiksa, karena setelah kenikmatan tadi, gw akan dihantuin oleh pekerjaan yang belum gw lakukan -yang bahkan tak jarang masuk ke dalam mimpi saking kepikirannya-, apalagi kalau mengerjakannya di last minute, gw merasa seperti seorang sprinter yang mengerahkan kecepatan maksimum dengan jantung dag dig dug meminta harap semoga pekerjaan ini bisa selesai. 

Klo gw baca ulang tulisan barusan, kayaknya nikmat yang gw rasakan di awal nggak sebanding dengan perasaan tersiksa setelahnya. Yaiyalah! Gw pun berkesimpulan bahwa prokastinasi bukanlah sesuatu yang baik, juga sesuatu yang harusnya  gw hindari. Oke, memang di beberapa momen, saat mendekati deadline itulah kadang memunculkan inspirasi. Gw pun mengakui itu. Tapi garis bawahi ya, di beberapa momen. Bagaimana dengan mayoritas momen lainnya? Tentu tidak saudara-saudara -pernyataan ini berdasarkan hasil observasi pada sendiri dari sekian ratus kasus prokrastinasi yang telah dilakukan-. Dan tentunya akan sangat toxic sekali bagi pola pikir kita apabila kita selalu mengharapkan keajaiban munculnya inspirasi saat detik-detik terakhir yang kemudian menjadikan itu justifikasi untuk terus-terusan prokastinasi. Iya klo dapat inspirasi? Klo nggak? Nangis & panik. Titik.

'Aku bukan seorang prokastinator, aku hanya seseorang yang
lebihmenyukai mengerjakan semua pekerjaanku
dalam keadaan panik di saat deadline'

Meskipun gw tahu bahwa prokastinasi dampaknya kurang baik bagi gw secara personal maupun  profesional, gw masih saja lagi dan lagi terjerumus dalam procrastination. Oke, saatnya harus berubah. Dimulai dengan evaluasi diri a.k.a muhasabah: 
 - Apa yang mendasari untuk melakukan prokastinasi? 
 - Di saat seperti apa yang memicu keputusan untuk prokastinasi? 
 - Apa yang membuat 'kecanduan' untuk terus melakukan prokastinasi? 
 - Hal apa yang kemudian memicu untuk memulai mengerjakan pekerjaan?


Pemicu Prokastinasi

Dari hasil muhasabah diri tadi bisa digeneralisir bahwa terdapat 2 sebab umum kenapa kita melakukan prokrastinasi: perfeksionis dan menghindari perasaan tidak menyenangkan saat mengerjakan pekerjaan tersebut. Okeh, gw elaborasi satu-satu.

1. Perfeksionis

Perfeksionis di sini bisa berarti menginginkan pekerjaan yang kita kerjakan itu sempurna, tanpa cacat, pokoknya dabest of dabest lah. Dikarenakan adanya ekspektasi sekaligus tuntutan ke diri sendiri bahwa yang dia kerjakan harus sempurna a.k.a perfect, maka di saat dia merasa bahwa mungkin dia belum bisa mengerjakan pekerjaan tersebut dengan sempurna, maka terjadilah penundaan atau prokastinasi. Di dalam pikirannya, dia akan terus menunggu sampai dirinya siap dan mampu menghasilkan pekerjaan yang perfect, barulah mau memulai pekerjaan. Masalahnya siapnya kapan? Selain itu, tak jarang pelaku perfeksionis ini terlalu menuntut dirinya dengan tuntutan yang memberatkan atau bahkan cenderung tidak realistis, yang tentunya berakibat pada kesempurnaan yang semakin sulit dicapai. Akhirnya? Ya begitulah. Nah ada satu komen menarik dari seseorang di youtube yang berbagi pengalamannya tentang perfeksionis dan hubungannya dengan prokrastinasi.

Hubungan Perfeksionis dan Prokrastinasi
Ada yang relate?

Bisa juga orang tersebut menginginkan pekerjaan yang sempurna karena takut akan penilaian buruk orang lain. Istilahnya, uda overthinking duluan gitu. Di pikirannya kalau yang dia lakukan tidak sempurna (sempurna ini menurut standar dia ya), maka orang lain akan mencemooh, menghakimi, dan lain-lain yang negative. Realitasnya, tidak banyak orang yang peduli-peduli amat dengan yang kita lakukan, sepanjang pekerjaan kita 'normal' alias nggak jelek-jelek banget, ya nggak bakal dikasih negative feedback juga. Klo overthinking akan penilaian buruk ini terus dibiarkan, lalu di sisi lain si orang ini terus-terusan takut klo pekerjaannya nanti kurang sempurna, ya bisa-bisa ditunda terus itu.

Ketika kebanyakan mikir tentang strategi dan gimana cara
mengerjakan pekerjaan di otaknya, sampai-sampai pekerjaan yang 
sebenernya malah nggak dilakuin di dunia riil


Selanjutnya perfeksionis di sini juga bisa berarti membutuhkan situasi, kondisi, mood yang ideal + sempurna untuk memulai pekerjaan. Lagi-lagi, yang membuat standar situasi, kondisi, mood yang ideal tadi ya dirinya sendiri. Sebagai contoh: Fajar sudah berniat mengerjakan PR keesokan paginya. Tibalah hari esok, hujan deras mengguyur sejak pagi tadi. Fajar yang awalnya mau mengerjakan PR jadi kehilangan mood dengan suasana cuaca yang hujan tadi, Fajar membuat standar bahwa saat mengerjakan PR harus dalam keadaan suasana langit cerah. Fajar pun menunda mengerjakan PRnya sampai menunggu langit sudah cerah kembali. Contoh lainnya seperti menunda pekerjaan hanya merasa agak lelah karena tadi pagi habis jogging, menunda pekerjaan karena tetangga sedang renovasi rumah jadinya bising, dsb. Intinya mereka memasang prasyarat standar situasi-kondisi yang sempurna untuk memulai suatu pekerjaan. Masalahnya, kan nggak setiap sesaat itu memiliki sikon yang ideal. Ditambah: Heiii! Deadline tidak peduli dengan situasi-kondisimu, heii!!!

Yasss ✊


2. Menghindari perasaan tidak menyenangkan

Ini juga adalah perasaan yang pernah gw rasakan. Merasa yang dikerjakan itu sebagai beban, yang kemudian memunculkan rasa tidak enak saat mengerjakannya, kemudian menunda-nunda sebagai bentuk escapism a.k.a kabur. Tapi semakin ditunda semakin tidak enak juga perasaannya, karena terbayang-bayang beban perkerjaan yang belum dikerjakan, tapi nggak mau mengerjakan karena merasa nggak nyaman, tapi kemudian merasa terbebani masih ada pekerjaan yang belum dikerjakan, tapi nggak mau mulai mengerjakan karena nggak nyaman... Muter muter terooosss. Jadinya lingkaran setan yang susah buat kita keluar kecuali kita mulai, ya mulai ngerjain! 

Duh, ruwet!

Ironisnya, perasaan tidak nyaman itu bukanya hilang dengan prokastinasi yang dilakukan, yang ada malah semakin bertumpuk dan bertumbuh. Yang awalnya 'nggak nyaman' jadi 'nyaman kuadrat' terus jadi 'nyaman kubik' *lah kok malah jadi volume.


Trus gimana dong? Bagaimana cara keluar dari lingkaran prokrastinasi?

Trus gimana dong? Oke disini gw mau memaparkan hal-hal apa yang gw lakukan untuk menanggulangi  kebiasaan prokastinasi gw ini. Oh ya, disclaimer dulu, gw bukan motivator, psikolog, psikiater, trainer, suster, barber, carpenter, komputer, printer, atmosfer.. -plis 😑, intinya adalah gw bukan seorang yang secara keilmuwan formalnya layak untuk memberikan tips-tips semacam ini, tips yang mau gw berikan adalah berdasarkan pengalaman pribadi, jadi jelas sifatnya subjektif, tidak bisa one size fits all. Lalu apa aja?

1. Mengakui dan menerima bahwa diri ini tidak sempurna, dan memang tidak akan pernah sempurna

Sekarang-sekarang ini lagi banyak kita temui istilah 'berdamai dengan diri sendiri', nah istilah tersebut juga berlaku untuk kasus kita ini. Kita berusaha berdamai dan menerima bahwa diri ini tidak sempurna dan memang tidak akan pernah sempurna. Oh ya, hal ini bukan sesuatu yang mudah lho bagi seorang perfeksionis, ya namanya juga orang yang ingin semuanya 'perfect' tentunya sulit untuk mengakui bahwa bahkan dirinya sendiri itu tidak 'perfect'. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk kemudian timbul keaadaran serta mengakui bahwa dirinya dan apa yang dia lakukan memang tak akan pernah sempurna. 

Mencoba menjauhkan diri dari sifat perfeksionis benar-benar membantu gw untuk hidup dengan perasaan yang lebih nyaman dan tenang. Dan entah gimana, menurut pengalaman gw juga dengan menjauhkan diri dari sifat perfeksionis, membantu kita untuk membiasakan tidak mencari pengakuan dan pujian orang lain. Fokus dengan apa yang kita lakukan tanpa menggantungkan kebahagiaan atau kepuasan kita dari pujian dan pengakuan orang lain. Ya intinya hidup jadi lebih tenang lah, nggak 'kemrungsung'. 

2. Berani menerima kesalahan & kegagalan

Sebagaimana menerima ketidaksempurnaan, menerima dan mengakui kesalahan & kegagalan juga tidak kalah susah. Rasanya gengsi gimanaaa gitu #plakk. Biasanya tidak mengakui kesalahan dan kegagalan, akan sepaket dengan: takut melakukan kesalahan, takut dikritik, takut tersakiti akibat pengakiman dari orang lain, dsb. Singkatnya adalah kita berani evaluasi diri bahwa kita memang melakukan kesalahan dan itu adalah hal yang wajar. Fokus kita bukan pada kesalahan, melainkan pada apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut alias move on. Bagaimana kalau dihakimi, dicemooh? Well well well, itu cuman ada di pikiran kita aja kok, belum tentu ada yang mencemooh kita, klopun ada, ya itu hal yang wajar, siapa sih di dunia ini yang tidak pernah dicemooh, dihina? Nabi aja dihina. Bahkan Tuhan aja yang udah ngasih kita apapun yang Maha Pemurah, Maha Bijaksana, Maha mengetahui; masih aja tetep ada yang mencemooh; apalagi kita yang jelas-jelas pasti punya kesalahan.

3. Mulai Aja Dulu

Ini bukan hastagnya tokopedia ya, tapi ya emang "mulai aja dulu". Bayangan tentang perasaan yang tidak menyenangkan ketika mengerjakan pekerjaan itu ada di otak kita aja. Paksakan diri untuk "mulai aja dulu", dan ternyata rasanya nggak setidak-menyenangkan yang kita bayangkan bukan?

4. Berdoa

Hmmm kok bisa tiba-tiba berdoa? Yas berdoa, bagi gw yang beragama islam, sangat penting untuk meminta pertolongan serta melibatkan Allah ketika akan melakukan segala sesuatu. Poin 1-3 susah untuk dilakukan kalau hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri, sedangkan klo kita berdoa kita minta pertolongan agar dikeluarkan dari 'jurang prokrastinasi' ini, inshaAllah akan dimudahkan. Apa sih yang susah buat Allah. Meskipun gw taruh ini di nomor 4, nemun sesungguhnya doa adalah langkah pertama. Berdoa minta petunjuk apa yang harus dilakukan, berdoa agar dijauhkan dari sifat prokrastinasi ini, dan berdoa agar diberkahi waktu dan umur kita supaya bisa dilakukan untuk hal-hal yang bermanfaat.


Cuap-Cuap Terakhir

Nah kayaknya itu aja yang mau gw sampein, itupun udah panjang kali lebar yak hahaha. Semoga teman-teman yang masih terjerumus dalam lingkaran prokrastinasi, bisa segera menemukan jalan keluar. Dan semoga bagi yang sudah menemukan jalan keluar, tidak kembali terjerumus ke dalam 'lembah hitam'.

Ciao!!

Minggu, 31 Januari 2021

Film Soul (2020): Rentetan Pelajaran Kehidupan

Post ini bukanlah tentang review film, -ya karena gw sendiri emang bukan reviewer atau kritikus film handal 😆-. Post ini lebih berisi tentang makna dan pelajaran kehidupan yang gw dapet setelah menonton film Soul (2020). Film ini rilis streaming tanggal 25 Desember 2020 di Disney+, dan menurut gw, film ini cocok sebagai film penutup tahun 2020, tahun "spesial" dengan pandemi korona dan segala tetek bengeknya. Dari film-film yang udah gw tonton, film Soul ini jadi salah satu yang paling mengena di hati gw. Mungkin juga karena gw berada di range usia yang kalau istilah jaman sekarang sedang masuk fase QLC alias "quarter life crisis", dimana mungkin banyak dari kita sedang mencari makna dan tujuan hidup, jadi gw merasa cocok dan "ngena" banget dengan adegan-adegan yang ada di film ini. Sedikit curcol -yang mungkin tidak penting bagi pembaca-, gw sebenarnya udah pingin banget nulis post ini semenjak Desember 2020 lalu, namun dikarenakan gw sedang rempong dengan penulisan tugas akhir beserta tetek bengeknya, akhirnya barulah sekarang gw sempat untuk menulis post ini hohoho.


Sinopsis

Secara singkat, film ini berkisah tentang Joe Gardner, seorang guru musik di SMA, yang sangat menyukai dan berpassion dengan musik jazz utamanya dengan piano. Meskipun dia seorang guru musik di SMA, Joe punya keinginan terpendam agar bisa menjadi musisi Jazz dan tampil dalam pertunjukan. Hingga kemudian, datanglah momen dimana Joe mendapat kesempatan langka untuk bergabung dengan grup musik dari musisi Jazz ternama yaitu Dorothea. Namun belum sempat Joe menghadiri pertunjukan pertamanya, Joe malah jatuh ke lubang yang membuatnya koma. Saat itu, jiwa alias arwah Joe sudah berada di alam Great Beyond -ya mungkin analoginya kalau di agama islam itu adalah alam akhirat-. Joe tidak terima dirinya sudah "mati" sebelum sempat tampil di pertunjukan musik pertamanya -hal yang paling dia nanti dalam hidup. Sehingga Joe pun kabur dari alam Great Beyond dan secara tidak sengaja masuk ke alam Great Before: alam bagi jiwa-jiwa yang belum dilahirkan. Di alam inilah, Joe bertemu dengan jiwa 22 dan dari situlah petualangan mereka dimulai. -Oke, ternyata sinopsis yang gw buat nggak singkat-singkat amat ya haha, malah panjang jadinya-

Nah, back to the topic: jadi pelajaran apa yang gw dapet dari film ini? Nggak usah lama-lama, langsung aja cekidot. 

Warning! buat yang belum pernah nonton film ini, tulisan gw akan banyak mengandung spoiler

1. Terlalu Fokus pada Tujuan Hidup dan Diri Sendiri

Jazz, jazz, jazz. Hal itulah yang ada di pikiran Joe dan yang selalu ia perbincangkan ke orang-orang. Menjadi seorang musisi jazz memang adalah tujuan hidupnya dan Joe sendiri merasa passion atau sparks dalam hidupnya adalah musik jazz. Tentu, memiliki tujuan hidup bukanlah sesuatu yang salah; justru dengan punya tujuan hidup kita tahu kemana arah hidup kita dan secara tidak langsung akan memotivasi diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, saat kata "terlalu" ditambahkan, maka akan menghasilkan efek yang berbeda. Terlalu fokus pada tujuan hidup hingga menjadikan itu sebuah obsesi, justru akan menimbulkan masalah-masalah lain seperti: kurang peduli dengan keadaan di sekitar, kurang bersyukur, kurang menikmati momen hidup, kecemasan, dan sebagainya. Dimana masalah-masalah ini akan gw bahas lebih detail di poin-poin selanjutnya.
Jazz, Jazz, Jazz
Pesan lain yang gw dapat adalah bahwa janganlah kita terlalu fokus pada diri sendiri, seakan-akan menganggap bahwa dunia ini berputar di sekeliling kita saja. Menjadikan kita abai dengan orang-orang di sekitar kita yang sebenarnya mereka peduli dan menyayangi kita. Seperti Joe yang saking terlalu fokus dengan dirinya sendiri: dia menjadi kurang ngeh dengan betapa sebenarnya ibunya menyayanginya dan mau mendukung keinginan Joe untuk mejadi musisi Jazz, menjadi kurang ngeh bahwa muridnya Connie butuh dukungan dan diyakinkan untuk bermain Jazz, dan kurang ngeh bahwa Dez tidak selalu ingin berbicara tentang Jazz saja saat Joe mengunjungi barber shop-nya. 

Mengenai "terlalu fokus pada diri sendiri" ini, gw pernah mendengar suatu video di youtube dari seorang psikiater: dr. Andri, Sp.Kj. [1], bahwa terlalu fokus pada diri sendiri adalah hal yang tidak baik, bahkan jika terakumulasi dalam waktu yang lama bisa menyebabkan gangguan mental. Beliau berkata, sebagai manusia tentu wajar jika memiliki ego, namun tak jarang kita -ya gw juga tentunya- terlalu mengedepankan ego kita sendiri, dimana kita berharap: bahwa kita menjadi nomer 1, kita berharap orang lain memperhatikan kita, kita berharap pasangan kita nurut atau sesuai kemauan kita, kita berharap orang lain mendengarkan keluhan kita, kita berharap orang-orang mengerti kemauan kita, dan buanyaaaak lagi pokoknya seakan-akan dunia ini cuman berputar di diri kita sendiri aja. 
  • Bahkan, pada orang yang terlalu fokus pada diri sendiri, sedikit cobaan atau sakit yang dia rasakan, bisa saja dia meresponnya dengan menganggap bahwa dirinyalah yang paling menderita di dunia ini, seakan-akan lupa bahwa ada orang di luar sana yang terlahir dengan kecacatan, kemiskinan, sekaligus yatim-piatu namun dia tetap semangat untuk hidup. 
  • Atau saat sekali saja tidak diperhatikan orang lain, langsung berpikir bahwa tidak ada orang di dunia ini yang perhatian padanya, seakan-akan lupa bahwa baru saja beberapa waktu lalu ada teman yang perhatian mengiriminya bubur ayam saat tau dia sakit. 
  • Atau saat isi chat-nya hanyalah dari teman kantor/kuliah yang bertanya urusan kerja/kuliah saja, dia langsung menganggap bahwa tidak ada orang yang benar-benar peduli padanya dan menganggap mereka menghubunginya saat butuh saja, seakan-akan lupa bahwa saat dirinya pernah tertimpa musibah, teman-teman kantor/sekolahnya menggalang donasi untuknya. 
See? Very toxic thinking, right? Dan mungkin kita pernah atau bahkan sering menemukan orang-orang dengan pola pikir seperti ini di sekeliling kita atau bahkan justru jangan-jangan malah diri kita sendiri yang seperti itu. Dokter Andri bilang bahwa hal ini bisa kita cegah dengan cara memerhatikan dan memberikan kebahagiaan pada orang atau makhluk lain. Misal dengan membantu orang lain, bersedekah, sekedar memberi makan pada kucing jalanan, mengucapkan selamat pagi atau pujian ke orang lain atau pasangan kita, mendengarkan dengan hikmat orang yang sedang curhat atau bercerita ke kita meskipun kita sendiri sudah pernah tahu cerita tersebut namun tetap mendengarkannya karena ingin membahagiakan orang tersebut [2], dan buaanyak lagi. Intinya adalah kita harus mengurangi egosentris yang ada dalam diri kita, dengan cara lebih banyak "memberi".

2. Obsesi & Kecemasan

Saat Joe dan 22 mengunjungi "The Zone" tempat dimana jiwa-jiwa yang masih hidup "zone out" dari dunia nyata karena melakukan suatu hal dan sangat tertarik padanya, contohnya seperti seorang pebasket yang sedang menikmati bermain basket. Nah ada satu dialog di adegan ini yang sangat mengena di hati gw, yaitu saat Joe melihat gerombolan "the lost souls" atau jiwa-jiwa yang hilang dimana jiwa-jiwa tersebut terselimuti oleh gumpalan hitam dan seolah-olah berjalan tanpa arah. Saat Joe bertanya apa yang terjadi pada mereka hingga menjadi seperti itu, lalu Moonwind menjawab:
"Poor soul. Some people just can't let go off their own anxiety and obsession, making them lost and disconected from life. And this is the result"

"Lost souls actually are not that different from those 'in the zone'. The zone is indeed enjoyable, but when that joy becomes an obsession, one becomes disconnected from life"

Obsesi & Kecemasan
Entahlah, gw pikir dialog ini seakan-akan menyindir/memperlihatkan bahwa orang-orang yang terlalu obsesi dan cemas terus menerus dalam hidupnya, maka sangat mungkin orang tersebut mengalami gangguan psikologis, bahkan jika kondisinya lebih parah membuatnya seakan-akan terputus dari dunia nyata. Well, kasus kayak gini tentunya nggak jarang kita temui kan. Gw pernah dengar kasus tentang Mr. X yang terobsesi menjadi anggota DPR sehingga dia mengeluarkan segala uang yang dia punya untuk kampanye bahkan hingga berhutang. Ternyata, dia tidak terpilih menjadi anggota DPR, sudah banyak uang yang dia keluarkan, belum lagi kewajiban membayar hutang yang dia pakai untuk kampanye. Wajar dia merasa sedih dan stress, namun kemudian sedih & stressnya ini tak kunjung reda karena sedari awal dia terobsesi untuk menjadi anggota DPR. Bukannya lapang dada menerima kekalahan dan mencari solusi untuk masalahnya, dia malah semakin sedih & stress karena obsesinya tidak tercapai. Endingnya? Dia didiagnosis dengan schizophrenia: gangguan mental yang membuat penderitanya tidak bisa membedakan kenyataan dan ilusi. Sungguh sayang bukan. Atau kalau di film Soul ini, kasusnya adalah seorang Manajer Investasi dimana kerjaan sehari-harinya memperhatikan pergerakan saham, yang mungkin membuatnya selalu dalam keadaan cemas dan tegang terus-menerus karena khawatir saham tiba-tiba anjlok dan sebagainya; serta memiliki obsesi berlebihan agar dia selalu mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari trading ini. Hasilnya? Dia seperti "zombie" di dunia nyata dan menjadi "the lost souls" di The Zone. 
Saat si Hedge Fund Manager sadar 😅
Dialog ini sekali lagi mengajarkan gw untuk jangan terobsesi dan terlalu cemas akan sesuatu, untuk lebih "slow-down" dalam pace hidup gw, dan untuk menyadari bahwa hidup ini janganlah terfokus pada satu hal saja, banyak hal lain yang bisa kita lakukan dalam hidup dan pilihlah hal-hal yang memang apabila kita lakukan membuat kita merasa lebih hidup dan bahagia.

3. Peduli & Memahami Orang Lain

Saat Connie datang ke apartemen Joe untuk mengatakan bahwa dia berhenti bermusik. Joe -yang saat itu ada di tubuh kucing- meminta 22 -yang sedang ada di tubuh Joe- untuk mengabaikan "drama" Connie. Namun 22 memutuskan untuk menemuinya dan mengajaknya bicara & berdiskusi. 22 mendukung keinginan Connie yang ingin berhenti bermusik jika memang itu yang diinginkannya. Namun kemudian saat 22 melihat Connie bermain trombon dengan hikmat seakan-akan masuk ke dalam "The Zone", 22 pun langsung terpesona dan mengatakan bahwa Connie benar-benar menyukai dan berbakat di bidang musik. Setelah itu, Connie pun memutuskan untuk tetap bermain musik. See? Connie sebenarnya tidak membenci atau bahkan ingin berhenti bermusik, ia hanya butuh diyakinkan saja akan kemampuan bermusiknya. Di sini gw belajar bahwa, kita harus peduli dan peka pada orang lain. Kalau ada orang yang menemui kita lalu ingin "curhat" (-curhat ya, bukan ghibah-), maka kita dengarkan saja apabila itu memang membantunya menjadi lebih tenang dan meringankan bebannya, berusaha memahami apa yang dia rasakan, lalu kita memberikan tanggapan atau kalimat yang afirmatif padanya.
Ketika mendengarkan curhatan connie
Adegan lain adalah saat di barber shop, dimana 22 bingung dan bertanya pada Joe apa yang harus dia katakan pada Dez, si tukang cukur. Joe mengatakan bahwa selama ini dia biasanya berbicara tentang Jazz dengannya. Namun yang terjadi, 22 malah berbicara banyak hal mulai dari gaya rambut hingga tentang filosofi hidup terhadap Dez, bahkan pelanggan lain di barbershop tersebut pun ikut terhanyut dengan ocehan 22. Dari situ, kemudian keluarlah pengakuan dari Dez bahwa dia dulu sebenarnya bercita-cita menjadi dokter hewan, namun karena keterbatasan finansial, maka dia menjadi tukang cukur. Saat mereka berpisah dengan Dez, Dez berkata bahwa dia senang bahwa mereka tidak lagi berbicara tentang Jazz dan Dez senang saat Joe bertanya tentang dirinya. 
Belajar mendengarkan & peduli dengan orang lain :)
Entah gimana ya, adegan ini juga bener-bener bikin "ncess" di hati. Gw sebagai orang yang ekstrovert sekaligus cerewet membuat gw tidak jarang mendominasi percakapan, dan gw sadar bahwa kadang-kadang gw suka kelewatan misal dalam percakapan itu mungkin porsi bicara gw 70% sedangkan lawan bicara hanya 30%. Dari adegan ini membuat gw sadar bahwa kita pun harus berusaha memahami orang lain dan harus menahan diri agar tidak terlalu fokus membicarakan diri sendiri. Saat kita memahami & menghargai orang lain dengan bertanya atau membiarkan dia bercerita tentang kabar atau kehidupannya, maka secara tidak langsung kita membuatnya bahagia dan merasa dihargai. Saat apa yang kita lakukan membuat orang lain bahagia, kita pun pasti ikut ketularan bahagia juga  ðŸ˜Š.

4. Openness

Adegan di saat Joe menemui ibunya untuk meminta tolong membetulkan celananya yang robek, juga jadi salah satu adegan favorit gw. Di adegan ini, baik Joe maupun ibunya akhirnya saling bicara dari hati ke hati tentang keinginan mereka masing-masing dan alasan di balik itu. Joe yang awalnya mengira bahwa ibunya tidak pernah menyetujui mimpinya, menjadi tahu alasan di balik ketidaksetujuan itu. Si Ibu pun sadar, bahwa mau sebagaimana khawatirnya si Ibu tentang masa depan Joe, dia tidak bisa melarang keinginan Joe karena memang itulah yang Joe inginkan dalam hidup. Di akhir, si Ibu akhirnya mendukung keinginan Joe bahkan memberikannya setelan yang bagus untuk tampil di pertunjukan. 
Keterbukaan
Sebagai anak, pasti adalah hal-hal dimana kita dan orang tua memiliki pendapat yang berbeda; entah itu pilihan jurusan, pilihan karir, atau pilihan jodoh. Namun ketidak-sinkronan pendapat itu tidak lantas menjadi alasan kita untuk menjudge bahwa orang tua tidak mendukung pilihan kita. Selalu ada cara untuk melunakkan hati orang tua, salah satunya dengan bicara dari hati ke hati sebagaimana yang Joe lakukan dengan ibunya. Dan ya, percayalah bahwa orang tua yang telah merawat kita dari kecil, pasti hanya ingin yang terbaik untuk kita dan tidak ingin kita menderita -oke, ini gw berbicara mayoritas ya-. Jadi, kuncinya komunikasi. Gw sendiri mengalami ini baru-baru ini, yang awalnya selama ini gengsi untuk mengkomunikasikan ke orang tua tentang suatu hal, namun ternyata saat gw jujur tentang perasaan gw, tanggapan orang tua sangat terbuka dan bener-bener sangat baik. Bikin gw menyesal kenapa nggak dari dulu aja ya begini haha, tapi bersyukur juga akhirnya lega bisa komunikasiin dan jadi sadar bahwa ke depan kalau ada apa-apa ya dikomunikasikan aja.

5. Just Do It

Pesan ini gw dapat dari adegan dimana 22 menggoda Joe untuk segera menghubungi Lisa, perempuan yang ia sukai. Joe tidak mau dan beralasan bahwa saat ini dia sedang tidak ingin berurusan dengan hal berbau romansa cinta. 22 pun langsung membalas "Oh, memangnya kau sesibuk itu? Mau nunggu sampai mati 2x dan belum sempat mengutarakan perasaan ke Lisa, gitu?" 😆. Well, ini bener banget hahaha. Kalau memang suka, yasudah nyatakan saja, apalagi klo nggak ada halangan apa-apa. -Ini gw membicarakan hubungan romansa orang dewasa ya, anak SD & ABG stay away-. Betapa banyak dari kita menyia-nyiakan kesempatan, nggak cuman romansa tapi di hal-hal lain juga seperti karir dan lain-lain, karena kita yang ragu. Padahal ya, tinggal lakuin aja. Just do it!
Mau nunggu sampai mati kedua kali?

6. Perhatikan kata-kata

22 yang sudah sekian ribu tahun mengikuti You Seminar dan sudah bertemu dengan sekian ribu mentor, namun tak satupun dari mereka berhasil membuat 22 mendapat earthpass sampai akhirnya 22 bertemu dengan Joe dan berpetualang di bumi dan mendapatkan earthpass-nya. Namun, justru saat mendapat earthpass, Joe sendiri tidak percaya bahwa 22 mendapatkan itu karena dirinya sendiri, melainkan Joe menuduh bahwa earthpass itu didapatkan karena 22 berada di dalam tubuh Joe. Mendengar perkataan itu, 22 sedih dan memutuskan untuk menyendiri. Kata-kata umpatan dari Joe, beserta kata-kata dari ribuan mentor lain tentang dirinya yang tidak akan pernah layak hidup di bumi, yang tidak punya sparks dalam hidup, yang tidak punya tujuan dalam hidup; semuanya bergumul dalam kepala 22. Menjadikannya percaya dengan kata-kata itu dan semakin rendah diri bahwa dia tak akan pernah layak hidup di bumi, hingga di titik dimana 22 berubah menjadi The Lost Soul. See? Bagaimana kata-kata yang keluar dari mulut kita bisa mengubah persepsi orang akan dirinya. Dan entah berapa kali kita sadar atau tidak sadar, mengucapkan kata-kata yang menyakiti perasaan orang. Kita tidak pernah tahu bagaimana level respon orang dalam menerima kata-kata kita, namun apapun itu, kita sendiri yang harus mengatur agar kata-kata yang kita keluarkan bukanlah hal yang menyakitkan ataupun merendahkan orang lain. 
Depresi

7. Bersyukur

Adegannya adalah di saat si tokoh utama Joe berbincang ke Dorothea setelah mereka tampil dalam pertunjukan Jazz, momen yang selama ini dinanti-nantikan oleh Joe, namun Joe malah merasa tidak puas/bahagia. Joe berkata "Aku sudah lama menanti-nantikan hal ini seumur hidupku, kupikir akan terasa berbeda tapi nyatanya tidak". Lalu Dorothea menjawab:
"I heard this story about a fish, he swims up to an older fish and says: 'I'm trying to find this thing they call the ocean'. 'The ocean?' the older fish says, 'that's what you're in right now'. 'This', says the young fish, 'this is water. What I want is the ocean!"
Jawaban Dorothea menyiratkan bahwa sering sekali manusia kurang bersyukur dan memiliki cara pandang yang sempit/terbatas hingga kita tak menyadari bahwa kita selama ini sedang diberi anugrah/rizki. Kalau cara pandang kita diubah menjadi helicopter view, mungkin disitulah kita baru sadar betapa banyak nikmat yang sebenarnya sudah kita dapat dan keinginan yang sudah kita capai. 

Beberapa adegan lain di film Soul (2020) juga menyadarkan gw untuk bersyukur di hal-hal sekecil apapun itu, seperti menyaksikan helaian kelopak bunga yang jatuh di musim gugur, merasakan nikmatnya setiap gigitan & kunyahan dari sepotong pizza, merasakan hembusan angin dari lubang exhaust, memandangi langit biru, merasakan tatapan hangat dari ibu, bersenda gurau dengan ayah, bersepeda di cuaca yang bagus, menyaksikan indahnya kembang api di malam tahun baru, memandangi langit sore dari jendela kereta, bahkan sekedar merasakan terpaan ombak di telapak kaki saat berdiri di tepi pantai. Semua hal-hal itu seringnya luput untuk kita syukuri. 
Adegan di Film Soul yang sukses bikin termehek-mehek
Jujur, di adegan tersebut gw menangis menyadari betapa kurangnya gw bersyukur selama ini dan menyadari bahwa selama ini gw telah menjalani hidup yang indah dan penuh kenikmatan, namun sayangnya gw kurang ngeh dengan segala kenikmatan itu. Memang di dalam hidup selalu ada cobaan dan ujian, namun apabila dibandingkan dengan jumlah rezeki dan nikmat yang gw peroleh, cobaan dan ujian itu tidak ada apa-apanya. Yes, seringkali kita terlalu fokus pada 1% ujian hidup yang sedang kita jalani, dan melupakan 99% sisanya yang justru berisi nikmat dan anugerah. Intinya adalah syukuri segala nikmat yang ada dan nikmati setiap momen hidup yang sedang kita jalani. 

8. Ikhlas

Menyambung dari poin sebelumnya tentang bersyukur, tibalah momen dimana Joe sudah ikhlas akan kehidupan yang telah ia jalani dan siap untuk mati dengan mengembalikan earthpass kepada 22.  Ini bener-bener menyentuh. Maksud gw, hidup Joe saat itu baru sekali saja tampil di pertunjukan Jazz padahal menjadi musisi Jazz bersama Dorothea adalah hal yang sudah ia impikan selama ini, tapi Joe memilih untuk ikhlas bahwa tak apa dia baru sempat 1x saja main di pertunjukan Jazz. Adegan ini mengajarkan gw untuk ikhlas menerima apapun ketetapan yang Allah berikan. Ketetapan itu bisa baik atau buruk, tapi definisi baik dan buruk datangnya dari manusia, tapi Allah, Tuhan yang menciptakan kita yang MahaTahu & MahaBijaksana, tahu yang terbaik untuk kita, jadi percaya saja bahwa ketetapan itu memang yang terbaik untuk kita dan menjadi ikhlas terhadapnya. Ikhlas meskipun yang kita inginkan tidak tercapai. Ikhlas saat diberi cobaan. Ikhlas saat diberi sakit. Ikhlas menerima segala kekurangan yang kita punya. Namun, seperti gw bilang tadi, di luar ikhlas yang harus kita lakukan dalam menerima segala ketetapan yang ada, perlu diingat lagi bahwa sungguh betapa banyak nikmat dan anugerah yang telah Tuhan berikan untuk kita, baik kita memintanya atau tidak. Jadi, logikanya ikhlas harusnya mudah untuk kita lakukan mengingat sudah banyak dan tak terhitung nikmat yang telah Tuhan berikan.

9. Nikmati setiap Inchi Momen Hidup a.k.a "Live in The Moment"

Pesan ini gw ambil dari adegan saat salah seorang "Jerry" komen tentang kesalahan manusia dalam memahami makna sparks serta adegan di bagian akhir film sebagaimana gw bilang di poin 7 & 8 dimana Joe flashback tentang apa yang ia alami di dunia dan sudah ikhlas dengan hidupnya dan apa yang telah ia lalui. 

Dari sini gw mendapat pesan bahwa: bahagia itu bisa dan berhak kita miliki, tanpa perlu menunggu sesuatu yang kita anggap sebagai "tujuan hidup" atau "sparks" tercapai. Tentu tidak salah, memang dalam hidup sebaiknya kita punya tujuan, punya rencana jangka pendek atau jangka panjang entah terkait sekolah, karir, atau pengembangan diri kita; sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Namun perlu diingat, terlalu fokus pada tujuan atau rencana hidup ke depan, bahkan menjadikannya standar bahwa itulah definisi kebahagiaan kita, itu justru akan menghilangkan kesadaran kita akan nikmat-nikmat yang kita dapat saat menjalani proses menuju tujuan tersebut, yang seharusnya kita pun menjadi bahagia karenanya. Oke, ribet ya bahasa gw? Hahaha. Simple-nya gini, misal Pak Dono seorang dosen yang ingin punya tujuan ingin menjadi profesor. Tujuan yang wajar bukan? Yap. Secara tak sadar, Pak Dono menjadikan atau mempersepsikan bahwa tujuan "profesor" tersebut adalah definisi kebahagiannya. Hari-hari Pak Dono pun dipenuhi dengan berbagai usaha agar dia memperoleh gelar profesor. Di pikirannya adalah profesor, profesor, profesor. Seperti Joe: jazz, jazz, jazz. Pak Dono merasa belum lega atau bahagia kalau belum jadi profesor, atau dengan kata lain terlalu fokus dengan tujuannya, terlalu fokus pada apa yang belum dia dapatkan; sama seperti yang terjadi pada Joe Gardner. Nah, hal ini justru yang akan menjadikan kita lupa untuk sadar dan mensyukuri setiap momen hidup yang kita lewati untuk mencapai tujuan tersebut. Kita lupa mensyukuri apa yang sudah kita miliki/terima saat ini. Nah adegan di bagian ending film tersebut benar-benar menampar gw secara pribadi, bahwa selama 24 tahun hidup: gw kurang sadar, hadir, dan bersyukur di setiap momen hidup yang gw lewati. Gw terlalu fokus dengan tujuan, dengan apa yang belum gw miliki, dan kurang menyadari betapa banyak hal yang seharusnya gw syukuri serta betapa banyak orang-orang yang sayang sama gw. Yap, gw nangis (lagi) pas adegan ini. Intinya: kita (terutama gw) harus banyak-banyak bersyukur, bersyukur atas kehidupan yang gw dapatkan saat ini, harus lebih aware dengan lingkungan sekitar, serta menikmati setiap momen hidup yang dilewati baik itu menyenangkan maupun tidak. Serta menyadari bahwa merasakan kebahagiaan itu tidak perlu menunggu tujuan tercapai, melainkan sudah berhak kita rasakan saat ini di momen ini, dengan cara bersyukur dan menikmati setiap momen hidup yang kita jalani
I am gonna live every minute of it
"Yesterday is history, tomorrow is mystery, but now is a gift. That's why it is called present"
-Master Oogway-
Anyway, pendapat ini pun terkonfirmasi saat gw mendengar video Youtube dr. Andri Sp.Kj. juga, beliau menyebutkan adanya hubungan antara mengejar kebahagiaan dan munculnya gangguan kecemasan dan psikosomatis [3]. Beliau menyebutkan bahwa, saat seseorang memiliki tujuan maka dia secara tak sadar mempersepsikan tujuan tersebut sebagai standar kebahagiannya. Selama proses mengejar tujuan tersebut, secara sadar atau tidak sadar malah justru membuat si orang tersebut menjadi cemas dan tegang sampai tujuannya tercapai. Rasa cemas ini akan mempengaruhi amygdala yang ada di otak dan mengakifkan hormon kortisol, dan apabila terakumulasi dalam waktu yang lama malah akan menimbulkan gangguan kecemasan dan psikosomatis. Oleh karena itu, dalam mencapai tujuan/kebahagiaan, dr. Andri menyarankan bahwa kita harus menghargai setiap proses yang kita lewati dan bersyukur atas segala hal (kemampuan, fokus, sumber daya) yang kita punya saat ini dalam mencapai tujuan tersebut.

Cuap-Cuap Terakhir

Yah itu dia, pesan-pesan yang gw tangkap dari film ini. Tentunya beda kepala akan beda pula pemikiran & penafsiran, jadi bagi kalian yang sudah menonton ini bisa jadi tidak setuju dengan yang gw tulis atau punya penafsiran lain akan film ini. Dan yah, tentu itu hal yang wajar. Lalu, buat kalian yang belum menonton film ini, gw sangat merekomendasikan film ini terutama buat kalian yang sedang berada di range usia 20-40 tahun. Memang biasanya film animasi cenderung diperuntukkan untuk penonton anak-anak, tapi entah kenapa menurut gw, film ini jauh lebih cocok ditonton oleh orang-orang di range usia dewasa muda dibanding anak-anak.

Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin gw sampaikan. Gw rasa ada "makna tersembunyi" dibalik penamaan tokoh 22. Kenapa harus "22"? Ya tentunya selain menunjukkan kalau si tokoh 22 ini sudah suangaaat luaamaaaa berada di alam Great Before (karena di momen Joe datang ke You Seminar, urutan unborn soul sudah mencapai 100 milyar sekian 😂), mungkin juga angka 22 secara implisit menunjukkan usia dimana manusia biasanya mulai "galau" dan mencari-cari tentang makna dan tujuan hidup. Persis seperti tokoh 22 yang memang sedang bingung apa motivasi, alasan, dan tujuannya untuk hidup di bumi.

Oke itu dia tulisan dari gw. Nggak tahu kenapa, tumben sekali gw bisa-bisanya bikin post dengan tema seperti ini hahaha. Intinya gw cuman pingin sharing tentang insight-insight yang gw dapat dari film Soul ini, and I think those are worth sharing. Sekaligus post ini jadi reminder buat diri gw sendiri agar lebih baik ke depannya.

Semoga bermanfaat! Ciao!



Referensi:
  1. Andri. 23 November 2017. Jangan terlalu fokus pada diri sendiri. https://www.youtube.com/watch?v=M5-CXaYO3g4
  2. Firanda Andirja. 8 April 2020. Keutamaann sedekah, sifat pemaaf, dan tawadhu. https://www.youtube.com/watch?v=kDoeuxKXwAs&t=638s
  3. Andri. 25 Januari 2021. Bagaimana mengejar kebahagiaan malah membuat cemas?. https://www.youtube.com/watch?v=WBXfCNYVQZs

Kamis, 31 Desember 2020

Damai

Sebagai penutup tahun 2020 ini -dengan segala suka-duka yang telah terlewati- gw ingin menuliskan suatu hal yang baru kali ini gw sadari betapa pentingnya, betapa butuhnya, dan betapa nikmatnya merasakan hal itu, yaitu damai. Ya, kedamaian hati. Kalian bisa menyebut dengan istilah lain: ketentraman hati/jiwa, ketenangan hati/jiwa. Di titik ini, kalau gw diminta mendefinisikan apa itu kebahagiaan, maka gw akan dengan mantap menjawab: hati yang damai, tentram, dan tenang. 

Di titik ini, kalau gw diminta mendefinisikan apa itu kebahagiaan, maka gw akan dengan mantap menjawab: hati yang damai, tentram, dan tenang. 

Damai

Damai sendiri menurut gw menjadi suatu barang yang mahal. Apalagi di jaman seperti sekarang ini, dimana informasi mudah sekali didapat termasuk informasi yang bahkan kita tidak berniat untuk tahu pun, kita tetap mendapat informasinya. Yang menjadi masalah adalah informasi tersebut tidak selalu berupa informasi baik, tapi juga informasi buruk, yang mungkin berdampak buruk pada hati, pikiran, dan perasaan kita; baik secara disadari maupun tidak. Tidak dipungkiri banyak kasus dari kita (dan tentunya termasuk gw) baik itu secara sadar maupun tidak sadar membandingkan kondisi hidup kita dengan orang lain dan sayangnya kondisi hidup orang lain yang kita bandingkan itu adalah kondisi yang "lebih" dari kita. Dampaknya? Tentu tetap ada yang termotivasi untuk meningkatkan kualitas hidupnya, namun tak sedikit pula yang justru merasa minder, merasa tidak berguna, merasa cemas, merasa sedih, menjadi kurang bersyukur dengan kondisi hidupnya, bahkan parahnya bisa menjadi iri-dengki hingga ingin agar kenikmatan yang diperoleh orang lain itu dicabut/dihilangkan. Naudzubillah min dzalik.

Banyaknya informasi yang masuk ke dalam otak kita entah itu baik ataupun buruk ikut berkontribusi pada "ruwet"nya pemikiran kita, atau kalau dalam bahasa Jawa ada istilah "kemrungsung". Contohnya saja di tahun 2020 khususnya di periode COVID-19 ini, sejak awal 1 Januari 2020 hingga 31 Desember 2020, tak henti-hentinya diri kita digempur informasi negative. Mulai dari munculnya wabah di Wuhan, orang terkonfirmasi positif pertama di Indonesia yang kemudian diikuti dengan panic buying di berbagai supermarket; jumlah masker yang tak memadai hingga harus antri di apotik hingga 2 jam hanya untuk mendapat 2 helai masker saja; update info setiap hari tentang jumlah pasien positif dan kematian; lalu kabar dari saudara, teman, atau tetangga yang terkonfirmasi positif padahal kita sempat berkontak dengan mereka; lalu merasa mengalami gejala-gejala seperti COVID-19 dilanjutkan dengan mengoogling tentang gejalanya yang malah semakin membuat panik; dan banyak lagi tak bisa disebutkan satu-persatu. Bayangkan saja, berita-berita negative itu kita konsumsi setiap hari. Bahkan beberapa kali gw bertemu kasus, dimana orang tersebut mungkin secara tidak sadar terobsesi untuk mengetahui semua berita yang ada, ingin menjadi orang yang paling update informasi dan merasakan kepuasan di dalamnya, bahkan sampai tahap merasa cemas/gelisah apabila dirinya tidak update informasi. Berita-berita artis pun yang sebenarnya tidak terlalu berdampak (atau bahkan memang sama sekali tidak berdampak) pada kehidupan kita, mau tidak mau kita konsumsi saat kita membuka feeds sosial media, atau portal berita di hp kita, atau di televisi. Intinya adalah terlalu banyak informasi yang masuk ke otak kita.

Tak sedikit penelitian, salah satunya survei yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA), yang menyebutkan bahwa terlalu banyak mengkonsumsi informasi (terlepas apakah itu informasi positif maupun negatif) bisa berdampak pada mood yang menurun, kelelahan, sulit tidur, serta pikiran yang menjadi cemas dan khawatir [1, 2]. Di penelitian lain juga disebutkan bahwa  paparan berita negative berkontribusi pada keadaan mood, munculnya pikiran khawatir dan cemas, bahkan memperburuk masalah pribadi yang tidak ada relevansinya secara spesfik dengan paparan berita [3]. Belum lagi terkait dengan sosial media, dimana penggunaan berlebihan hingga ke taraf adiksi terutamanya pada orang-orang yang melakukan vaguebooking berpengaruh pada kesehatan mental dengan munculnya gejala-gejala seperti kesepian, pikiran untuk bunuh diri, kecemasan (social enxiety), dan menurunnya empati [4]. Bagi kalian yang belum tahu, vaguebooking sendiri merupakan suatu perilaku pasif-agresif memposting suatu status atau gambar di media sosial (biasanya instagram, twitter, atau facebook) dengan tujuan mencari perhatian dan mendapatkan respon dari teman atau follower [5]. Tentunya sebagian besar dari kita pernah melakukan hal ini bukan, tidak terkecuali diri gw sendiri. Di usia gw yang ke-24 ini, yang bisa dibilang sudah "agak" dewasa, gw suka malu sendiri -dan sangat amat menyesal tentunya- membayangkan kelakuan-kelakuan gw jaman dahulu atau bahkan baru beberapa bulan lalu dimana gw memposting sesuatu hanya untuk cari perhatian. Meh. Setelah dipikir-pikir lagi, gw nggak tahu letak dimana esensinya mencari perhatian manusia, toh kalaupun yang diinginkan adalah pujian, apalah arti sebuah pujian karena pujian manusia hanya sepanjang lidahnya. Atau kalau yang diinginkan adalah rasa simpati, toh buat apa, karena gw sendiri sudah punya tempat untuk bercerita dan berkeluh kesah yaitu orang tua dan teman terdekat gw yang memang benar-benar peduli dengan gw, dan tentunya Allah; jadi ngapain lagi cari simpati dari orang lain. Tapi it's ok, itu semua sudah berlalu dan jadi pelajaran buat gw untuk menjadi lebih baik dan dewasa ke depannya.

Contoh vaguebooking + bonus meme

Selain cemas & khawatir, hal lain yang bisa menghilangkan kedamaian dalam hati adalah rasa sedih. Rasa sedih yang gw maksud disini adalah rasa sedih yang berkepanjangan. Tentunya dalam hidup kita pernah dikecewakan atau disakiti, juga mengalami kegagalan. Ada yang ditinggal nikah mantan, ditipu rekan bisnisnya, punya keluarga atau lingkungan yang toxic, dikhianati teman, difitnah, gagal keterima PTN, orang tua atau kerabat meninggal, mengalami kesempitan ekonomi, konflik dengan mertua dan ipar, skripsi yang tak kunjung di ACC oleh pembimbing, terlilit hutang, dan banyak lagi. Yang jelas hidup kita sebagai manusia tentunya tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, itu hal yang tak bisa kita elakkan. Mengalami rasa sedih itu wajar, namun apabila kita terus memperpanjangnya dan memikirkannya terus menerus dalam waktu yang lama akan berpengaruh pada hati dan perasaan kita. Tindakan memperpanjang dan memikirkan terus menerus (repetitive thingking) ini disebut dengan ruminating, gw sendiri sudah pernah membahasnya di post ini. Ruminating jika dilakukan berkepanjangan bisa berpengaruh terhadap kesehatan mental [6]. 


Cemas, Khawatir, dan Sedih

Ketiga jenis perasaan inilah yang bisa menghilangkan kedamaian dan ketentraman hati. Bahkan dari ketiga perasaan ini bisa memunculkan hal-hal buruk lainnya, misalnya orang yang cemas dan khawatir bisa jadi akan sulit berpikir positif, di bayangannya hanya ada pikiran-pikiran negative yang bahkan belum tentu atau memang tidak terjadi; yang kemudian berefek pula pada mudahnya berburuk sangka. Contoh nyata yang gw amati dan alami sendiri dari lingkungan di sekitar gw: Ibu X meminta ART-nya untuk membeli obat di apotik dekat rumah, tak dinyana sudah 1 jam ART tersebut belum kunjung kembali ke rumah. Ibu X merasa cemas dan khawatir, hingga muncul pikiran-pikiran negative "ngapain sih kok bisa lama banget? Kan apotiknya deket. Jangan-jangan dia pergi main nih, kesempatan mumpung lagi keluar malah dipakai buat main". See? Tanpa ada bukti, sudah menerka-nerka sendiri, terkaan yang negative pula. Hingga kemudian si ART pulang melaporkan bahwa alasan dia lama pergi karena obat yang akan dibeli stock-nya habis di apotik dekat rumah, sehingga pergi ke apotik lain yang lebih jauh dan ternyata harus mengantri panjang. Tuh kan! Bentuk cemas dan khawatir lain yang gw temui juga di lingkungan sekitar gw adalah kecemasan akan keamanan: dimana si orang ini bolak-balik mengecek pintu untuk memastikan apakah sudah terkunci atau belum padahal jelas-jelas sudah terkunci, atau saat mengendarai kendaraan melewati suatu jalan muncul pikiran-pikiran negative seperti takut kalau tiba-tiba muncul pencopet/penjambret/begal atau malah kuntilanak, pocong, dan sejenisnya. Atau juga cemas dalam hal kebersihan, tidak percaya kalau baju yang sudah dicuci oleh ART atau laundry itu sudah bersih, jadi harus mengulang lagi mencuci karena khawatir baju tersebut kurang bersih. Gw sendiri yang tidak merasakan dan mengalami perasaan-perasaan itu saja merasa sesak saat menulis contoh-contoh kasusnya, apalagi orangnya langsung yang mengalami. Nggak bisa gw bayangin gimana  "kemrungsung"nya dan sesaknya dada orang-orang yang mengalami kecemasan dan kekhawatiran berlebihan ini.

Hal lain yang juga merupakan manifestasi dari rasa cemas, khawatir, dan sedih adalah overthinking. Overthingking adalah perilaku memikirkan sesuatu secara berlebihan dan terus menerus, yang dipicu oleh kekhawatiran akan suatu hal mulai dari masalah sepele dalam kehidupan sehari-hari, masalah besar, hingga trauma akan masa lalu [7]. Sepertinya term overthinking menjadi populer mulai tahun 2020 ini, salah satu pemicunya adalah kondisi pandemi COVID-19 yang membuat kita berdiam diri di rumah terus ditambah paparan media tentang profil-profil CEO muda kaya raya dengan umur masih di bawah 30 tahun, seakan-akan menjejali kita generasi milenial dan yang sedang masuk usia dewasa muda akan definisi "kesuksesan" serta ekspektasi akan kesempurnaan. Lalu tanpa sadar dan membanding-bandingkan diri sendiri, kurang bersyukur, dan terjadilah overthinking

Ingat itu!

Saat mau maju presentasi: "Entar gimana ya? Bisa ngomong lancar nggak ya", "Nanti audiens-nya ngetawain gw nggak ya?", "Kalau nanti gw salah ngomong gimana ya?", "Kalau pas presentasi tiba-tiba gw blank gimana ya?", "Kalau entar gw pingsan gimana ya?", "Kalau pas gw presentasi, tiba-tiba ada meteor jatoh gimana ya?".
Melihat feed instagram seorang selebgram sekaligus pengusaha sukses: "Kok dia bisa sukses gitu ya?",  "Kok gw gini-gini aja?, "Gw bisa kayak dia nggak ya?", "Ortu gw bangga ama gw nggak ya?", "Dia makan apa ya?" "Kalau gw dah mati dulu sebelum sukses gimana ya?".
Keinget masa lalu dengan mantan: "Kok dia bisa mutusin gw ya?", "Gw salah apa ya?", "Apakah gw kurang ganteng?", "Kenapa dulu gw nggak berjuang dulu ya?, "Kok dia bisa cepet move on ya?".
Ngelihat temen kelas izin ke toilet untuk BAB: "Kok ada orang yang bisa boker di sekolah ya?", "Kira-kira bakal disiram nggak ya?", "Kira-kira toilet mana yang dia pakai buat boker?", "Kira-kira bekas toilet yang dia pakai bakal ninggalin bau nggak ya?". 

Oke, sepertinya gw jadi ikutan "gila" dengan menulis kemungkinan-kemungkinan pikiran overthingking ini hahaha. Yang jelas overthingking ini sangat mengganggu tidak hanya bagi si orangnya saja, tapi bagi lingkungan sekitarnya. Saat overthingking ini dilakukan terus menerus maka bisa mengganggu kualitas hidup seperti: insomnia, muncul anxiety dreams, menurunkan performa kerja, menjadi insecure, meningkatkan risiko terjadinya depresi, cenderung mengurangi interaksi sosial dengan orang lain, dan mengganggu kesehatan fisik seperti sakit kepala, sesak nafas, jantung berdebar, sakit kepala, hingga tekanan darah tinggi [7]. Ada satu meme yang menurut gw kocak dan menampar banget buat kita-kita yang masih overthinking.

Till death

Rasa cemas, khawatir, dan sedih tentunya wajar dialami oleh kita manusia. Namun saat perasaan itu terlalu berlebihan, maka akan mengganggu kehidupan kita. Tak jarang juga, menjadi pemicu penyakit-penyakit mental seperti: anxiety disorder, obsessive compulsive disorder, post traumatic stress disorder, depresi, dan lain-lain. Tentunya munculnya penyakit mental bukan disebabkan oleh satu penyebab tunggal misal dari perasaan cemas-khawatir-sedih berkepanjangan saja, melainkan juga ada faktor-faktor lain misal ketidakseimbangan senyawa kimia dalam otak, lingkungan, kondisi fisik tertentu, dan pengaruh genetik. Menjadi seorang pasien mental ilness tentunya bukanlah hal yang diinginkan, pasien harus menjalani pengobatan dan terapi dalam jangka waktu bulanan hingga tahunan, bahkan ada yang sampai seumur hidup. Tentunya hal ini membutuhkan komitmen yang kuat dan biaya yang tidak sedikit (oke, ini untuk yang berobat secara pribadi, jika dengan BPJS maka gratis). Belum termasuk efek samping dari obat-obat yang dikonsumsi. Oleh karena itu, bagi kita yang alhamdulillah-nya masih diberi mental yang sehat, sebisa mungkin kita mengontrol hati dan perasaan kita dan selalu berpikir positif agar hati dan pikiran kita tetap damai dan tenang. Merasakan cemas, khawatir, dan sedih tentu hal yang wajar; tapi jangan sampai menjadi berkepanjangan. Buat teman-teman yang sedang menderita mental illness, tidak perlu berkecil hati. Tuhan memilih kalian untuk menghadapi ujian ini karena kalian memang mampu untuk menghadapinya. Jadi tetap semangat!


Laa Khaufun Alaihim wa Laa Hum Yahzanuun

Ada satu kalimat yang ternyata beberapa kali diulang-ulang dalam Al Qur'an yaitu "Laa khaufun alaihim wa laa hum yahzanuun". Frasa tersebut diulang sebanyak 12 kali di Al Qur'an di antaranya di surat Al Baqarah, Ali Imran, Al Ma'idah, Al An'am, Al A'raaf, Yunus, dan Al Ahqaf [9]. Apabila kita perhatikan surat-surat tersebut maka kalimat tersebut diturunkan oleh Allah baik di periode Makkah dan Madinah. Kalimat tersebut difirmankan Allah dalam konteks penyebutan sifat-sifat orang yang beriman. Penyebutannya yang berkali-kali hingga diturunkannya di 2 periode kenabian, menunjukkan seberapa pentingnya kalimat tersebut. Memang apa sih artinya? Secara harfiah kalimat tersebut berarti

"Tiada rasa takut pada diri mereka dan tidak pula mereka bersedih"

Jika kita tinjau per kata

  • "Khauf" berarti takut, takut yang dimaksud adalah takut akan masa depan
  • "Hazan/Huzn" berarti sedih, sedih yang dimaksud adalah sedih akan masa lalu

Entah kenapa saat mengetahui hal ini gw merasa tertampar. Setiap membaca Al Qur'an gw belum pernah memerhatikan dengan benar-benar kalimat ini. Namun di suatu momen dimana gw merasakan cemas, khawatir, dan sedih secara bersamaan; lalu atas petunjuk Allah, gw menemukan kalimat ini. Kalau istilah anak zaman sekarang "relate banget". Yes, rasa cemas dan khawatir memang biasanya terkait dengan masa depan, sesuatu yang tidak pasti; sedangkan rasa sedih terkait dengan masa lalu yang mungkin kita masih belum move on atau masih sakit hati. Gw sadar mungkin selama ini yang membuat hati gw belum tenang dan damai adalah adanya rasa cemas, khawatir, dan sedih ini. Pencapaian, harta benda, atau travelling -hal-hal yang gw pikir bisa membahagiakan- ternyata tidak berpengaruh pada kedamaian, ketentraman, dan ketenangan hati, rasa cemas-khawatir-sedih itu masih ada. Allah sendiri menjanjikan akan menghilangkan perasaan cemas, khawatir, dan sedih tadi untuk orang-orang yang beriman kepadaNya. 

"Barang siapa yang benar-benar mengikuti petunjuk-Ku (Al Qur'an), maka ia tidak akan merasa takut, khawatir, dan sedih" Q.S. Al Baqarah:38

Hal ini menunjukkan betapa mahalnya rasa damai itu. Betapa eksklusive-nya memiliki rasa damai karena hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Gw jadi teringat suatu kajian dimana Pak Ustadz-nya menyebutkan suatu kalimat yang diucapkan oleh para salaf. Di momen itu gw masih belum ngeh alias belum ngena di hati dengan kalimat tersebut, namun sekarang setelah melewati berbagai hal selama 2020 ini, gw jadi mulai mengerti dan memahami kalimatnya:

"Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan (ketenangan) yang ada di hati kami, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang (untuk merebutnya)" [10]

Sekali lagi kalimat di atas menegaskan betapa mahalnya rasa damai itu dan bahkan dianalogikan seorang raja dan pangeran yang tentunya hidup diselimuti dengan kekayaan dan kekuasaan, nyatanya siap untuk "bertarung" merebut jika tahu seberapa damai dan tenangnya hati yang dimiliki oleh ulama salaf. 


Ikhlas, Sabar, Syukur, dan Tawakal

Keempat kata ini: ikhlas, sabar, syukur, dan tawakal; adalah hal yang selalu diajarkan di agama gw, yaitu agama Islam. Mungkin di agama-agama lain pun sama. Gw juga mendapat 4 kata ini dari seorang psikiater yang gw tonton channel youtubenya yaitu dr.Andri. Di channel youtube beliau, lebih banyak membahas tentang gangguan kecemasan dan psikosomatik; saran yang sering beliau ulang-ulang untuk pasien dan audiensnya adalah ikhlas, sabar, syukur, dan tawakal. Dah itu aja. Padahal beliau ini beragama Budha, jadi ajaran tentang 4 hal tersebut pun berarti mungkin memang termaktub juga di ajaran agama Budha. Setelah gw pikir-pikir, memang 4 hal tersebut adalah kunci untuk menghilangkan perasaan cemas, gelisah, khawatir, dan sedih.

  • Ikhlas
    Ikhlas disini berarti menerima setiap takdir dan ketetapan yang Allah berikan, terlepas apakah itu takdir yang baik maupun yang buruk. Bahkan definisi "takdir buruk" pun adalah pada pandangan manusia, namun di pandangan Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, takdir tersebut adalah takdir yang terbaik bagi kita. Tak jarang beberapa waktu setelah mengalami takdir yang kita anggap buruk tersebut, kita baru menyadari hikmah yang ada di baliknya. Gw sendiri pun kalau berkilas baik selama 24 tahun hidup di dunia ini, gw menyadari bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu entah itu baik maupun buruk memang sebaiknya terjadi dan kalaupun gw punya pilihan untuk mengubah takdir atau kembali ke masa lalu, gw akan tetap memilih peristiwa-peristiwa tersebut terjadi sebagaimana adanya karena sekarang gw merasakan banyak hikmah yang gw dapat dari hal-hal di masa lalu tersebut. Kalaupun sampai sekarang kita masih belum tahu apa hikmah dari takdir yang ditetapkan ke kita, yakinlah bahwa takdir tersebut memang yang terbaik untuk kita.
    Ikhlas juga berarti menerima diri sebagaimana adanya. Ini salah satu quotes yang gw dapat dari dr. Andri. Intinya kita menerima dan mengakui segala kelebihan dan kekurangan kita. Mengakui kegagalan yang kita alami dan menerimanya. Menerima bahwa itu semua adalah bagian dari diri kita dan bagian dari hidup kita. Manusia tidak ada yang sempurna, begitupun kita, jadi tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi sempurna di segala aspek kehidupan.
    Karena gw beragama islam, gw ingin menyampaikan definisi ikhlas dalam pandangan Islam. Ikhlas yang dimaksud adalah mempersembahkan segala yang kita perbuat hanya untuk Allah SWT. Kita bertindak, berucap, ataupun beribadah semuanya hanya untuk meminta ridho Allah, bukan ridho manusia. Tak jarang kita sebagai manusia masih memasukkan pendapat orang lain dalam setiap perbuatan atau langkah yang kita ambil. Hal ini bisa membuat kita khawatir, cemas, gelisah, dan sedih; karena selalu memikirkan perkataan orang lain atas apa yang sedang atau akan kita perbuat. Tak perlu juga kita mencari muka di hadapan manusia, karena mau sebaik apapun kita, akan selalu ada orang yang mencela/tidak suka dengan kita. Yang kita pedulikan pendapatnya hanya Allah SWT semata. Kita berbuat baik, mau ada orang yang menyadari atau tidak, mau ada yang memuji atau tidak; tidak usah dipedulikan karena tujuan kita berbuat baik adalah untuk mencari ridho Allah SWT semata [11].

  • Sabar
Sabar ini memiliki keterkaitan dengan penjelasan ikhlas. Disini gw akan membahas sabar juga dari sudut pandang islam. Pengertian sabar menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah adalah "sabar dalam meneguhkan diri menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah [12]. Jadi terdapat 3 macam sabar dan mari kita fokus ke poin ke 3 yaitu "menjaga perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah". Ini juga perkataan yang gw dapat dari dr. Andri, beliau bilang bahwa ada hal-hal yang terjadi di luar kuasa kita, seperti misal ada orang yang membenci/mengkhinati kita atau kita tertimpa musibah. Nah untuk hal-hal yang ada di luar kemampuan kita, maka tak perlu menyalahkan diri sendiri dan cukup bersabar menerimanya. Hal-hal tersebut (dalam hal ini takdir) memang sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, namun yang bisa kita kontrol adalah bagaimana respon kita dalam menghadapi hal tersebut, melatih agar kita punya hati yang lapang dan mudah memaafkan. Gw tahu hal-hal ini tidak semudah itu dilakukan, namun ya memang ini faktanya. Bayangkan saja ada orang yang hatinya lapang, sabar, dan mudah memaafkan; maka betapa damai dan tentram hatinya. Selain itu, Rasulullah juga pernah bersabda tentang hakikat sabar
"Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan"
  • Syukur
Selanjutnya adalah bersyukur. Bersyukur menerima apa yang kita miliki saat ini. Terkadang kita terlalu fokus pada hal-hal besar yang kemudian kita anggap itu sebagai rezeki yang patut disyukuri, membuat kita lupa bahwa ada hal-hal kecil yang sering kita tidak sadari namun seharusnya patut kita syukuri juga. Terkait hal ini, gw jadi teringat beberapa adegan film Soul, sebuah film apik penutup tahun 2020. (Anyway, bagi kalian yang belum menonton filmnya, gw sangat merekomendasikan film ini terutama buat yang berusia 20-40 tahun karena banyak pelajaran kehidupan di dalamnya). Adegannya adalah di saat si tokoh utama Joey berbincang ke Dorothea setelah mereka tampil dalam pertunjukan Jazz, momen yang selama ini dinanti-nantikan oleh Joey, namun Joey merasa tidak puas/bahagia. Joey berkata "Aku sudah lama menanti-nantikan hal ini seumur hidupku, kupikir akan terasa berbeda tapi nyatanya tidak". Lalu Dorethea menjawab:
“I heard this story about a fish, he swims up to an older fish and says: ‘I’m trying to find this thing they call the ocean.’ ‘The ocean?’ the older fish says, ‘that’s what you’re in right now.’ ‘This’, says the young fish, ‘this is water. What I want is the ocean!’”
Jawaban Dorothea menyiratkan bahwa sering sekali manusia kurang bersyukur dan memiliki cara pandang yang sempit/terbatas hingga kita tak menyadari bahwa kita selama ini sedang diberi anugrah/rizki. Kalau cara pandang kita diubah menjadi helicopter view, mungkin disitulah kita baru sadar betapa banyak nikmat yang sebenarnya kita dapat dan keinginan yang sebenarnya sudah kita capai. Film Soul (2020) juga menyadarkan gw untuk bersyukur di hal-hal sekecil apapun itu, seperti menyaksikan helaian kelopak bunga yang jatuh di musim gugur, merasakan nikmatnya setiap gigitan di potongan pizza, merasakan hembusan angin dari lubang exhaust, memandangi langit biru, merasakan tatapan hangat dari ibu, bersenda gurau dengan ayah, bersepeda di cuaca yang bagus, menyaksikan indahnya kembang api di malam tahun baru, memandangi langit sore dari jendela kereta, bahkan sekedar merasakan guyuran ombak di kaki saat berdiri di tepi pantai. Semua hal-hal itu seringnya luput untuk kita syukuri. Jujur, di adegan tersebut gw menangis menyadari betapa kurangnya gw bersyukur selama ini dan menyadari bahwa selama ini gw telah menjalani hidup yang indah dan penuh kenikmatan. Memang di dalam hidup selalu ada cobaan dan ujian, namun apabila dibandingkan dengan jumlah rezeki dan nikmat yang gw peroleh, cobaan dan ujian itu tidak ada apa-apanya. Yes, seringkali kita terlalu fokus pada 1% ujian hidup yang sedang kita jalani, dan melupakan 99% sisanya yang justru berisi nikmat dan anugerah. Intinya adalah syukuri segala nikmat yang ada dan nikmati setiap momen hidup yang sedang kita jalani. 

Adegan di Film Soul yang sukses bikin termehek-mehek

  • Tawakal
Poin selanjutnya adalah tawakal, tawakal berarti berusaha bersungguh-sungguh dan selanjutnya adalah bertaqwa dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ini juga membantu kita untuk menghindari rasa cemas. Misal besok akan ada ujian, yang penting asal kita sudah berusaha dan belajar semaksimal mungkin maka sudah tak perlu dipusingkan bagaimana nasib esok hari, kita serahkan sisanya kepada Allah. Allah sendiri menjanjikan kesuksesan dan keberuntungan bagi orang-orang yang bertaqwa.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” Q.S. Ath-Thalaq:2-3
  • Dzikir
Sekali lagi karena gw adalah seorang muslim, maka gw menambahkan tips menurut islam yang bisa memberikan kedamaian dan ketenangan hati, yaitu dzikir. Dzikir sendiri artinya mengingat Allah. Allah-lah sang pemilik hati, maka dengan kita berdzikir dan bersandar kepada Allah, maka Allah mampu membuat hati kita menjadi tentram karena Allah mampu membolak-balikkan hati. [13, 14]
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" Q.S. Ar Ra'du:28

 

Cuap-Cuap Terakhir

Kayaknya sampai disini tulisan gw tentang "damai". Gw nggak menyangka kalau tulisan ini akan sepanjang ini hahaha. Sebenarnya, gw sendiri awalnya ragu untuk membuat tulisan ini di blog pribadi karena gw tipikal orang yang kurang suka men-share isi perasaan hati ke khalayak umum. Namun berhubung banyak insight dan pelajaran kehidupan yang gw dapatkan sampai menemukan esensi "damai" ini, gw memutuskan untuk menshare ini via post di blog, karena siapa tahu bisa bermanfaat bagi yang membaca, who knows. Tulisan ini juga menjadi reminder untuk gw ke depannya untuk selalu menjaga kedamaian dan ketenangan hati gw..

Semoga kita semua selalu bisa menjaga ketakwaan kita kepada Allah SWT dan selalu dilimpahi hati yang damai dan tentram. Aaaamiiin.

Wassalamu'alaikum warrahmatullah wabarakatuh


Referensi:

  1. Heid, M. (2020, Mei 19). You Asked: Is It Bad for You to Read the News Constantly? (Time) Retrieved from https://time.com/5125894/is-reading-news-bad-for-you/

  2. Mazalin, D., & Klein, B. (2008). Social Anxiety and the Internet: Positive and Negative Effects. E-Journal of Applied Psychology, 4(2), 43-50.

  3. Johnston, W. M., & Davey, G. C. (2011). The psychological impact of negative TV news bulletins: The catastrophizing of personal worries. British Journal of Psychology, 88(1), 85-91.

  4. Berryman, C., & Ferguson, C. J. (2018). Social Media Use and Mental Health among Young Adults. Psychiatric Quarterly, 89, 307–314.

  5. Parrack, D. (2012, February 15). What Is Vaguebooking? 5 Classic Examples. Retrieved from Make Use of: https://www.makeuseof.com/tag/imbecilic-art-vaguebooking/

  6. Claycomb, M. A., Wang, L., Sharp, C., Ractliffe, K. C., & Elhai, J. D. (2015). Assessing Relations between PTSD’s Dysphoria and Reexperiencing Factors and Dimensions of Rumination. PLOS ONE, 10(3), e0118435.

  7. Nareza, M. (2020, June 16). Hati-Hati, Dampak Overthinking Bisa Berakibat Fatal. Retrieved from Alodokter: https://www.alodokter.com/hati-hati-dampak-overthinking-bisa-berakibat-fatal

  8. Ankrom, S. (2020, April 17). When Depression and Anxiety Occur Together. Retrieved from very well mind: https://www.verywellmind.com/depression-and-anxiety-2584202

  9. Al-Jaizy, H. (2016, January 1). Tahukah Anda: Maksud dari “Laa Khaufun Alaihim wa Laa Hum Yahzanuun”? Retrieved from Nahi Munkar: https://www.nahimunkar.org/tahukah-maksud-laa-khaufun-alaihim-wa-laa-hum-yahzanuun/ 

  10. Rawai’ut Tafsir Ibnu Rajab 2/134, Darul ‘Ashimah, cet.I, 1422 H, Syamilah

  11. https://www.youtube.com/watch?v=ghrxdWK2eqs

  12. Wahyudi, A. (2008, July). Hakikat Sabar (Bag. 1). Retrieved from muslim.or.id: https://muslim.or.id/217-hakikat-sabar-1.html

  13. https://www.youtube.com/watch?v=QX0fitvtsuY&t=357s

  14. Taslim, A. (2010, Oktober). Menggapai Ketenangan Hati dengan Mengingat Allah (1). Retrieved from muslim.or.id: https://muslim.or.id/4783-menggapai-ketenangan-hati-dengan-mengingat-allah-1.html