Senin, 25 Mei 2020

Review: The Ordinary Alpha Arbutin 2% + HA dan Niacinamide 10% + Zinc 1%

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Hai semuanya!! Akhirnya bisa nulis lagi beauty review ya. Nah, produk yang akan gw bahas hari ini adalah kombinasi produk The Ordinary yang paling terkenal yaitu Alpha Arbutin 2% + HA dan Niacinamide 10% + Zinc 1%. Dalam review ini, gw nggak akan mereview satu-satu kinerjanya melainkan mereview bagaimana kinerja mereka bila digunakan secara bersamaan. Tanpa lama-lama, langsung aja deh cekidot!

Konsep Brand The Ordinary & Tujuan Pemakaian

Gw salut sih sama konsep brand The Ordinary yang "to the point" dimana mereka langsung menjadikan nama bahan aktif utamanya sebagai nama produk-nya; jadinya kita sebagai konsumen pun langsung tahu kandungan si produk itu apa beserta fungsinya; sedangkan kebanyakan brand lain itu kita harus cek dulu komposisinya untuk tahu kandungan bahan aktif yang dipakai apa saja, misal: Wardah lightening series -> cek ingredients -> "Oh, ternyata lightening agent-nya adalah si licorice extract".

Review The Ordinary
"To The Point"-nya Produk-Produk The Ordinary

Memang sih, ke-to the point-an The Ordinary ini mungkin akan agak menyulitkan buat teman-teman yang baru masuk ke dunia per skincare-an karena memang masih awam dengan nama-nama bahan aktif beserta kegunaannya. Justru menurut gw, di sinilah seninya, kita dipaksa untuk belajar: untuk mencari tahu apa permasalahan dan kebutuhan kulit kita, lalu memutuskan untuk memilih bahan aktif mana yang akan kita pakai. Masih tetap bingung?  Tenang saja guys, The Ordinary sendiri menyediakan panduan mengenai fungsi dan cara penggunaan produk mereka di websitenya, bisa dicek disini. Gw sendiri pun jadi lebih paham dengan dunia per-skincare-an gara-gara si The Ordinary ini. Sejak saat itu, gw pun lebih selektif memperhatikan komposisi tiap produk biar nggak sekedar kemakan iklan.

Harga

Untuk harga sebenarnya bervariasi ya tergantung tempat belinya dimana. Kalau gw sendiri pernah beli di salah satu star seller di Shopee, lalu terakhir gw beli via website Ponny Beaute. Nah Ponny Beaute ini adalah distributor resmi produk The Ordinary di Indonesia. Produk the Ordinary yang dijual disini pun sudah terdaftarkan di BPOM. 

Website Ponny Beaute

Makanya karena hal-hal tersebut, gw sebagai konsumen merasa lebih aman karena produk yang akan didapatkan terjamin keasliannya (-bukan berarti beli di shopee atau olshop lain itu produknya palsu ya, hanya saja kita harus lebih jeli untuk memastikan keaslian produknya). Sayangnya kalau beli di Ponny Beaute, harga produknya akan cenderung lebih mahal dibanding olshop-olshop lainnya. Berikut adalah harga produk jika beli di Ponny Beaute.

The Ordinary Alpha Arbutin 2% + HA Rp 200.000,00
The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% Rp 175.000,00

Kandungan dan Klaim

Untuk produk yang pertama tentunya sudah jelas bahwa kandungan utamanya adalah Alpha Arbutin 2% dan Hyaluronic Acid (HA). Alpha arbutin merupakan bahan aktif yang kegunaannya sebagai agen pencerah. Sesuai dengan kegunaannya, klaimnya menyebutkan bahwa produk ini memiliki fungsi untuk mengurangi penampakan noda hitam dan hiperpigmentasi. Kandungan Alpha Arbutin sebesar 2% tergolong cukup tinggi dibanding produk kecantikan lainnya yang biasanya berada di kisaran 1%. Selanjutnya kandungan bahan yang kedua adalah hyaluronic acid (HA) dimana pihak Deciem (produsen) menyebutkan HA disini berfungsi untuk mengoptimalkan "transportasi" alpha arbutin ke kulit kita. Selain itu, HA juga berfungsi untuk menghidrasi kulit sehingga membuat kulit terlihat lebih kenyal. Komposisi lengkap dari The Ordinary Alpha Arbutin 2% +HA bisa dilihat di gambar di bawah.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Komposisi The Ordinary Alpha Arbutin 2% + HA

Selanjutnya produk kedua, kandungan utamanya adalah Niacinamide 10% dan Zinc 1%. Niacinamide atau vitamin B3 juga merupakan agen pencerah, oleh karena itu klaim produknya pun menyebutkan bahwa produk ini akan membantu menghilangkan kemerah-merahan dan warna kulit tidak merata pada kulit. Sedangkan kandungan zinc berguna untuk mengatur produksi sebum, oleh karenanya zinc pun disinyalir dapat membantu mengurangi produksi jerawat dan memperkecil penampakan pori-pori. Komposisi lengkap dari The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% bisa dilihat di gambar di bawah ya.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Komposisi The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%

Packaging

Ini dia tampilan dari box the Ordinary: bentuknya simple, informatif, dan to the point. Berhubung gw beli si produk The Ordinary-nya di Ponny Beaute, maka di bagian atas packaging terdapat segel dengan keterangan waktu kadaluarsa, cara penggunaan, dan barcode BPOM-nya.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Front-View Box

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Segel

Selanjutnya ini adalah tampilan dari botol The Ordinary yang juga simple, informatif, dan to the point. Bentuknya berupa botol kaca yang berisi 30ml produk, serta dilengkapi dengan pipet di bagian atasnya. Keberadaan pipet ini pun sangat membantu kita untuk mengatur jumlah penggunaan produk yang akan diaplikasikan ke muka.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Botol The Ordinary

Bentuk dan Tekstur

Untuk bentuk produknya, keduanya berupa cairan bening. Ada beberapa orang yang berbagi pengalamannya bahwa produk The Ordinary Niacinamide yang mereka pakai lama kelamaan berubah warna menjadi kekuning-kuningan. Nah untuk kasus gw sendiri, sampai produk di botol habis pun, si cairan produknya masih tetap bening transparan. Gw sendiri nggak tahu ya kenapa ada kasus yang produknya berubah menjadi kekuningan, entah memang produknya "terurai" atau rusak akibat sebab tertentu atau produknya tidak asli, -gw nggak tahu. 

Selanjutnya untuk masalah tekstur, keduanya berupa cairan kental. Tapi kalau misal gw bandingkan, seri Alpha Arbutin lebih kental dibanding si Niacinamide. Jadi klo misal lagi ditetesin ke muka, si Niacinamide ini akan lebih mudah jatuh mengalir ke bawah dibanding si Alpha Arbutin.

Penggunaan & Penyimpanan

Untuk cara penggunaan cukup simple: kita tinggal teteskan beberapa tetes produk menggunakan pipet ke kulit wajah kita atau bagian tubuh yang lain. Gw sendiri memakai sekitar 3 tetes: 1 tetes masing-masing di pipi kanan dan kiri, lalu 1 tetes di dahi; yaudah deh selanjutnya tinggal diratakan ke seluruh wajah. Nah biar aman dan mencegah ketidak-cocok-an, dari pihak produsen sendiri menyarankan untuk melakukan patch testing alias uji coba dulu sebelum diaplikasikan ke kulit wajah. Gimana cara melakukannya? Kalau gw sendiri biasa melakukan patch testing di daerah bawah telinga. Jadi gw tetesin 1 tetes ke kulit di bawah telinga kemudian diamati selama 24 jam apakah ada efek inflamasi atau tidak; kalau tidak berarti kita bisa lanjut memakainya ke kulit wajah. Alasan gw memilih kulit di bagian bawah telinga untuk patch testing adalah: gw beranggapan kulit di daerah situ memiliki karakteristik yang mirip dengan kulit wajah karena posisinya yang dekat sehingga cocoklah jadi lokasi "simulasi", selain itu kalaupun terjadi hal yang tak diinginkan yaitu inflamasi akibat patch testing maka lokasinya tersembunyi jadi nggak kelihatan wehehe (fyi, gw pakai jilbab).

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Panduan Patch Testing dari Deciem
Nah selanjutnya akan muncul pertanyaan: jika 2 produk the ordinary ini digunakan secara bersamaan, maka manakah produk yang digunakan terlebih dahulu? Atau bisa dicampur bersama-sama? Lalu, untuk pemakaianya apakah boleh pagi dan malam? Nah, dari pihak Deciem sendiri menuliskan di websitenya bahwa baik seri Niacinamide maupun Alpha Arbutin dapat digunakan di pagi maupun malam hari, dengan catatan tidak dicampur dengan produk skincare yang mengandung vitamin C (-karena niacinamide dapat merusak kinerja vitamin C, jadinya percuma juga makai produknya). Untuk penggunaannya, berdasarkan info-info yang gw dapat (-salah satunya dari seorang beauty vlogger yang berprofesi sebagai dokter yaitu Danang Wisnuwardhana), penggunaan diawali dulu dengan Alpha Arbutin, lalu setelah dipastikan produknya telah meresap sempurna ke kulit, maka kita bisa lanjutkan dengan si niacinamide.

Untuk proses penyimpanan, tidak ada instruksi khusus dari pihak Deciem; tapi gw sendiri menyimpan produk-produk tersebut di daerah yang tidak terkena sinar matahari langsung karena gw takut paparan sinar matahari bisa merusak atau mengurangi fungsionalitas produknya (-ini gw belum bisa konfirmasi ya, kapan-kapan gw update kalau udah tahu kebenarannya)

Review Penggunaan

Oke kita sekarang ke intinya nih: bagaimana pengalaman gw selama memakai kombinasi produk The Ordinary ini? Apakah memuaskan?

Pertama gw mau cerita tentang alasan gw mencoba kombinasi duo produk The Ordinary ini yaitu dikarenakan muka gw tiba-tiba ditumbuhi jerawat gede-gede secara serentak. Posisinya saat itu gw abis sakit gejala typhus, dan entah kenapa setelah selesai konsumsi obatnya malah tumbuh banyak jerawat di muka padahal sebelumnya baik-baik aja. Nggak cuman jerawat, muka pun tiba-tiba berubah jadi kusam. Udah berjerawat, kusam lagi. Duh! Kejadian itu pun terulang lagi sekitar setengah tahun kemudian dimana gw kembali lagi terserang typhus. Sepulang opname dari rumah sakit, kembali tumbuh jerawat gede-gede secara serentak di muka. Gw nggak tahu ya apakah ini memang kebetulan aja atau ada hubungannya dengan sakit atau obat typhus yang gw konsumsi. Gw pernah nanya ini ke dokter, dan dokternya jawab (-entah bercanda atau serius) kalau itu mungkin penyebabnya gw yang jarang mandi selama sakit -,-. Dok, plis deh :"

Selama 2 insiden itu, gw memutuskan untuk menggunakan kombinasi 2 produk The Ordinary ini. Pikiran gw waktu itu sih: kandungan Zinc bisa membantu mengurangi jerawat gw yang lagi mateng-matengnya plus membantu mengecilkan pori, lalu sisa bekas jerawatnya bisa dihempas pakai kandungan niacinamide dan alpha arbutin-nya. Oh ya, saat menggunakan ini gw stop sama sekali penggunaan skincare lain yang sama-sama berbentuk cair (toner/essence, serum), jadi murni cuman pakai 2 serum ini aja. Kenapa? Ya karena gw kurang nyaman melayer-layer skincare terlalu banyak ke kulit, rasanya terlalu over -kasian kulitnya (gw penganut paham skincare minimalis). Selain itu, gw juga pingin mengamati secara jelas bagaimana efek kombinasi 2 produk ini terhadap kulit.

Hasilnya? Sesuai ekspektasi guys!! Jadi gw menggunakan kombinasi kedua produk itu selama 1,5 bulan (Alpha arbutinnya habis, sedangkan Niacinamide masih sisa sedikit) dan hasilnya: jerawat gw mengempes, bekas jerawat lama-kelamaan memudar, serta wajah yang makin kinclong. Duh masih inget deh betapa senengnya gw waktu itu! Gw nggak pernah berekspektasi kalau hasil yang gw mau bisa didapat dalam waktu yang singkat yaitu 1,5 bulan. 

Ini dia foto dari minggu 1 ke minggu 3 (kiri ke kanan). Foto dilakukan di outdoor dengan matahari sebagai sumber cahaya. (Foto paling kiri sebenernya tidak "semuram" itu ya, mungkin saat itu kondisi sedang mendung jadi hasil fotonya agak lebih gelap). Oh ya foto yang tengah ini harusnya si jerawat lebih kelihatan jelas, tapi sayangnya saat itu gw lagi makai acne patch. Fyi, jerawat yang gw alami berupa jerawat tanpa mata atau blind pimple dan cystic acne.

Jerawat ooo jerawat (Kiri ke kanan: perjalanan penampakan jerawat dari minggu ke 1 ke 3)

Bisa dilihat kan dalam waktu singkat yaitu 3 minggu, jerawat yang ada di muka gw lama-kelamaan menghilang, bekasnya pun lama-lama ikut memudar, serta kulit gw semakin keliatan glowingnya *alhamdulillah. Namun, untuk masalah pori-pori, gw g melihat perubahan yang signifikan -pori-pori gw mah tetap segitu-gitu aja ukurannya. 

Tadi kan foto penggunaan selama 3 minggu, lalu bagimana foto muka setelah selesai penggunaan produk? Nah ini dia fotonya (bawah) diambil tanpa menggunakan filter sama sekali. Foto yang kiri adalah foto indoor dengan lampu sebagai sumber cahaya sedangkan foto yang kanan adalah foto outdoor dengan matahari sebagai sumber cahaya.

Foto After (Kiri-indoor, kanan-oudoor)

Kesimpulannya, gw puas dengan kinerja kombinasi duo produk the Ordinary ini. Klaimnya terbukti, nggak cuman omdo aka omong doang. Itu kan tadi kelebihan, apakah ada kekurangannya? Yes ada, yaitu produk ini membuat kulit gw jadi kering. Oleh karenanya gw berhenti memakai kombinasi 2 produk ini di 1,5 bulan pemakaian, tidak hanya karena muka yang sudah "sembuh" melainkan juga gw nggak mau kulit muka jadi semakin kering. Yap, akhirnya setelah itu gw kembali lagi ke skincare daily gw yang biasanya yaitu Laneige Clear C Advance Effector dan Laneige Clear C Peeling Serum. Kekurangan lainnya terletak pada produk The Ordinary Niacinamide, entah kenapa setelah gw memakai produknya akan terdapat residu putih di muka gw. Hal ini sangat mengganggu ya kalau misal kita pakai produknya di pagi hari lalu kita beraktivitas dan bertemu orang-orang, maka akan nampak ada residu putih seperti daki #plakk di muka kita. Ini pun menyulitkan juga kalau misal kita akan bermake up setelah menggunakan The Ordinary Niacinamide karena base make up akan susah nempel atau ikut mengelupas gara-gara si residu putih tersebut. Dari sini gw akali dengan memakai si Niacinamide di pagi hari hanya apabila di hari itu nggak ada aktivitas di luar. 

Repurchase?

Yes, definitely
Klaim terbukti, harga pun bersahabat, kurang apalagi coba? Oh ya, repurchase yang gw maksud disini adalah apabila memang di masa depan muncul kasus jerawat gede lagi (semoga nggak usah aja deh. Aaaamiin). Kenapa gitu? Gw disini memposisikan The Ordinary sebagai "obat" dalam skincare regime gw, jadi bukan sebagai daily skincare; dikarenakan hal yang gw ungkapkan sebelumnya yaitu skincare ini menyebabkan kulit gw jadi kering, bahkan pernah saking keringnya ada beberapa bagian yang mengelupas.

Jadilah muncul dilema: gw senang sama keampuhannya, tapi disisi lain kalau dipakai lama-lama malah bikin kulit kering (padahal aslinya berminyak). Itulah kenapa gw jadikan kedua produk tersebut ebagai "obat" alias special treatment (-dari periode Desember 2018 - Mei 2020, gw udah beli Alpha Arbutin 2x dan Niacinamide 3x). Saat permasalahan jerawat udah kelar, gw ya balik lagi ke skincare regime gw yang biasanya yaitu Laneige Clear C Advance Effector dan Laneige Clear C Peeling Serum.

Cuap Cuap Terakhir

Nah itu dia review gw yang panjang kali lebar tentang produk The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide, semoga bermanfaat ya :)
Gw juga mau bilang kalau review ini hanya berdasar pengalaman di kulit gw, bisa jadi akan memiliki pengalaman yang berbeda di kulit yang berbeda pula.
Terakhir, sampai jumpa di post beauty review lainnya!!
Ciao bella!
This entry was posted in

Sabtu, 09 Mei 2020

Jalan-Jalan ke Mount Takao: Menyepi Sejenak dari Hiruk-pikuk Kota Tokyo

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh


Haloo semuanya!!!! Kali ini gw kembali lagi dengan post berbagi pengalaman gw saat travelling. Tempat wisata yang akan gw ceritakan ada di perfektur Tokyo. Hayoo, kalau kalian denger kata "Tokyo", kira-kira objek wisata apa yang muncul di benak kalian? Shibuya? Asakusa? Tokyo Skytree? Ueno? Tokyo tower?. Aiiiss itu mah udah mainstream, kali ini gw akan mengajak kalian menjelajah ke objek wisata di Tokyo yang jarang disadari dan dikunjungi oleh turis terutama turis dari Indonesia. Nama tempatnya tidak lain dan tidak bukan adalah "Mount Takao", alias Gunung Takao. What? Di Tokyo ada gunung? Yes, ada wankawan. Letaknya memang beneran pinggiran Tokyo sih, meskipun begitu tempat ini layak buat kalian kunjungi. 

Namanya sih memang Gunung Takao ya, tapi jangan berkekspektasi bahwa gunung ini seperti Gunung Semeru atau gunung-gunung lain di Indonesia dengan ketinggian sekitar ribuan meter. Gunung Takao hanya memiliki ketinggian sekitar 600m di atas permukaan laut. Ha? Pendek banget, itu mah rumah gw juga di ketinggian segitu kaleee. Eits, tapi kabar baiknya dengan ukuran gunung yang tergolong "mini" ini berarti kita bisa dengan mudah mendakinya dan tidak perlu persiapan khusus kalau mau mendaki. Seru banget kan?

Lokasi

Untuk menuju Mount Takao cukup diperlukan waktu sekitar 50 menit dari stasiun Shinjuku  melalui line Keio menuju stasiun Takaosangushi. Sebentar banget kan? Kurang lebih mirip-mirip lah waktunya dengan naik KRL dari stasiun Depok ke stasiun Manggarai hehehe. 

Mount Takao
Penampakan Stasiun Takaoganouchi

Sesampai di stasiun, kita akan disambut oleh warung-warung yang menjual berbagai macam aksesoris dan makanan, jadi bisa banget buat kalian yang lupa bawa bekal bisa mampir dan beli makan disini (-tentunya buat yang muslim bisa lebih berhati-hati lagi untuk memilih makanan yang benar-benar halal dan thayyib).

Untuk pendakian ke atas gunung kita diberikan 3 pilihan transportasi:
  1. Cable car
    Bentuknya seperti kereta atau tram gitu ya. Nah si cable car ini bisa mengantar kita ke atas kurang lebih setengah perjalanan. Untuk biaya yang dikenakan yaitu sekitar 600 yen (ini harga tahun 2018 ya, nggak tahu apakah sekarang sudah naik apa belum)
  2. Chair Lift
    Bentuknya mirip seperti chair lift yang biasa kita temui saat kita mau ke puncak bukit untuk sky gitu. Sama dengan cable car, chair lift ini hanya mengantar kita sampai setengah perjalanan saja. Harga yang dikenakan oleh pengelolanya terbilang cukup murah yaitu 300 yen.
  3. Mendaki menggunakan kaki sendiri
    Ya ini adalah opsi bagi kalian yang tubuhnya fit, rajin olahraga; maka bisa memilih opsi ini.
Gw sendiri memilih opsi naik chair lift, selain murah harganya, juga dengan naik chair lift kita bisa sambil melihat pemandangan pepohonan sekitar. Ahayyy.

Mount Takao
Guide Map Takao
Untuk menuju titik puncak pendakian, disediakan berbagai macam opsi jalur dimana setiap jalurnya terdapat objek wisata (bisa sambil mendaki, sambil mampir-mampir gitu). Lebih jelasnya kalian bisa lihat di gambar peta di atas. 

Naik Chair Lift

Untuk naik chair lift, gw dan teman-teman harus menuju stasiun chair lift-nya dulu. Untuk menuju stasiun, kita diarahkan melalui jalan-jalan pedesaan yang indah banget, macam lagi di film-film gitu *mulainorak 😅.  Meskipun harus menempuh jarak sekian ratus meter, jadi tidak berasa karena sambil lihat pemandangan arsitektur pedesaan khas Jepang.

Mount Takao
Desa banget uyy
Mount Takao
Menikmati jalanan pedesaan
Saat sudah mencapai stasiun pun, kita kembali disambut dengan warung-warung di pinggir jalan yang menjajakan makanan dan berbagai macam cinderamata. Yang hobi belanja pasti bakal puas deh!

Mount Takao
Warung di depan stasiun chair lift

Mount Takao
Stasiun Chair Lift
Selanjutnya gw dan teman gw naiklah ke chair lift. Nah si chair lift ini hanya bisa dinaiki maksimum 2 orang untuk 1 kursi. Jadi ya kalau ada temannya bisa duduk berdua, atau yang datangnya sendirian ya bisa juga duduk sendirian di chairlift. Oh ya si chair lift tersedia rute bolak-balik ya, ada yang arah naik ke atas, juga sebaliknya disediakan rute turun ke bawah.

Mount Takao
Mulai bergerak mendaki

Mount Takao
Di bawah ada jaring-jaring
Gw mengunjungi Gunung Takao pada awal bulan Maret yang berarti sedang peralihan dari musim dingin ke musim semi, jadi ya mohon maklum kalau pemandangan di sekitar hanya berupa pohon-pohon dengan dahan gundul atau daun-daun kering. Gw sendiri lebih menyarankan kalau kalian ingin berkunjung kesini adalah saat musim semi atau musim gugur karena dijamin pemandangannya bakal bagus banget! Bayangin aja deh kita naik chair lift di samping kanan kiri ada deretan pepohonan berwarna merah-kuning-coklat khas musim gugur. Indah sekali! Atau di kala musim semi, menaiki setapak demi setapak jalan dengan sesekali dijatuhi beberapa kuntum sakura, uulaalaa.

Mount Takao
Mount Takao saat musim gugur

Mendaki di Sisa Pendakian

Sebagaimana gw bilang sebelumnya kalau naik chair lift ini menghemat setengah perjalanan, sisanya? Ya jalan kaki. Waduh, kalau tersesat gimana? Nah tenang aja guys, bisa dikatakan hampir di setiap sudut tempat akan kita temui banyak papan penunjuk jalan. Kita pun bisa membekali diri dengan peta Gunung Takao yang kita download dari internet.

Mount Takao
Panduan Jalur Pendakian dan objek wisata di sekitar Mount Takao

Untuk mencapai puncak Gunung Takao terdapat beberapa jalur pendakian (trail), dan di setiap jalur kita bisa menemui spot menarik, seperti temple, jembatan, taman monyet, air terjun, dan lain-lain. Berhubung gw sama teman-teman kemaruk pingin menjajal semua trail biar bisa menjelajahi semua objek wisata, maka kita memutuskan untuk mencoba semua trail ~mumpung masih muda dan kuat. "Awalnya". Kemudian semua berubah setelah gw dan teman-teman kelelahan dan kaki pegal-pegal padahal baru menjajal 3 trail hahaha. Udah nggak minat deh nyobain semua trail, rasanya saat itu pingin pulang aja terus ngolesin balsem geliga atau koyo cabe ke kaki.

Nah ini dia beberapa foto yang gw ambil selama perjalanan mendaki. Jalanan pendakian ada yang berupa jalanan tanah dan ada pula yang berupa jalanan cor. Saran gw adalah: pakailah sepatu olahraga semacam sepatu lari yang alasnya bergerigi. Gw saat itu salah pakai sepatu, gw pakai sepatu yang alasnya rata jadilah bahaya kalau lagi naik jalan yang curam.

Mount Takao
Papan penunjuk jalan

Mount Takao
Jalan setapak tanah

Mount Takao
Yakuo-In Temple di Trail 1

Mount Takao
Suspension Bridge di Trail 4

Oh ya, saat berkunjung ke Mount Takao, gw sarankan untuk bawa bekal ya, soalnya gw jamin kalian bakal kelaparan akibat kehabisan tenaga wehehe. Sebenarnya di atas gunung pun ada beberapa spot orang jualan, meskipun begitu yang dijual kebanyakan cemilan, kebanyakan cemilan, makanan agak berat yang dijual pun hanya sejenis sukiyaki itupun nggak ada nasinya :" (*Kebiasaan orang Indo, nggak pakai nasi, nggak kenyang). Jadi jangan berekspektasi kayak pas naik gunung di Indo dimana kita bisa nemu abang-abang atau mbak-mbak penjual indomie, pecel, bakwan goreng panas, soto ayam, atau kopi panas di perjalanan. 

Mount Takao
Stand penjual

Mount Takao
Istirahat sejenak sambil menyantap sukiyaki panas 500-an yen

Penurunan

Oke setelah puas menjelajah gunung Takao dan kaki sudah tidak kuat rasanya untuk diajak mendaki -saking lelahnya bahkan sampai lupa mengambil foto saat sudah mencapai puncak gunung takao :"), maka diputuskan untuk turun saja. Nah untuk turun ini juga ada beberapa opsi sebagaimana saat mendaki tadi, antara kita ingin naik cable car atau chair lift; atau ya jalan kaki saja. Kami pun memilih untuk jalan kaki karena mikir pasti nggak capek, toh jalanannya turun kan? *asumsi awal. Ternyata o ternyataaa, jalanan turunannya curam kali permirsahh!!! Ada beberapa jalan yang sudut kemiringannya hampir 45 derajat, jadi intinya sama aja: butuh tenaga untuk menopang berat tubuh agar tetap seimbang saat turun dan tidak jatuh bergelindingan. Padahal jalan-jalan tersebut sudah menggunakan prinsip "pesawat sederhana" -pelajaran fisika jaman SMP, yaitu dibuat miring dan berkelok-kelok untuk meminimalisir kerja yang dilakukan, tapi yah tetap melelahkan juga*ngeluh mulu XD. Nggak bisa bayangin kalau pas berangkat tadi milih jalan kaki ketimbang chair lift hahaha. Lain kali, mungkin gw akan berkunjung kesini lagi tapi dengan kondisi tubuh yang lebih fit jadi bisa jalan kaki dari titik awal pendakian sampai puncak. Aaaamiin

Pesawat sederhana

Syukurnya, jalanan turun ini berupa cor atau aspal jadi setidaknya tidak berbahaya kalau sedang hujan, meskipun begitu nggak memungkiri juga dengan jalanan aspal yang keras itu akan membuat tekanan kaki ke jalan semakin sakit karena tahanan yang kuat dari si aspal, seperti yang dipaparkan oleh hukum 3 Newton (duh, kesambet apa gw jadi ngomongin fisika). Nah ini dia gambaran jalan turunnya.

Mount Takao
Turuuuuuuuuuun

Mount Takao
Curam

Mount Takao
Garis Finish, Yeyyy

Alhamdulillah, akhirnya setelah menempuh perjalanan turun selama kurang lebih 45 menit, akhirnya sampailah gw dan teman-teman di garis finish. Sebenarnya di bagian lereng ini terdapat beberapa macam objek wisata seperti kuil atau museum, namun berhubung saat itu gw udah lapar (lagi) dan ngidam makan spaghetti tinta cumi-nya Pizzeria di Koganei, gw memutuskan nggak mampir ke objek wisata tersebut dan langsung cabut pulang wehehehe.

Mount Takao
Menyusuri jalan pedesaan setelah melewati garis finish
Mount Takao
Museum di lereng gunung

Cuap Cuap Terakhir

Nah itu dia pengalaman gw ke Mount Takao, semoga bisa membantu teman-teman yang sedang merencanakan liburan ke Tokyo.

Sampai jumpa!!!





Ditulis dikala seharusnya mengerjakan revisi proposal penelitian,
namun memilih untuk kabur sejenak dan menulis kenangan saja

Minggu, 26 April 2020

Pain is Normal, but Suffering is Optional

Belajar memaafkan

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Hai! Berhubung hari ini sedang dilanda rasa sedih, kuputuskan untuk menulis tentang rasa sedih serta nasihat untuk diriku sendiri agar keluar dari jerat kesedihan ini :)

~~~

Ada kalanya kita marah, kecewa, dan sedih atas apa yang orang lain lakukan. Apalagi kalau orang lain itu adalah orang terdekat kita yang seharusnya melindungi, menghargai, atau menyayangi kita.

Emosi itu akan semakin terakumulasi saat kita secara konstan menerima perlakuan tidak baik tersebut selama bertahun-tahun atau mungkin selama lebih dari separuh umur kita. Membuat perasaan marah, kecewa, dan sedih semakin menjadi-jadi hingga kita ada di titik dimana kita merasa menderita dan tidak nyaman.

Seseorang pernah berkata padaku bahwa kunci untuk menghilangkan emosi negatif tersebut adalah dengan dimulai dari "memaafkan"

Dan benar apa yang dikatakannya, memaafkan tidak hanya membantu kita untuk berdamai dengan subjek yang telah "menyakiti" kita, melainkan lebih utamanya berdamai dengan diri kita sendiri.

Kenapa?
Jika kita tilik lebih jauh, memaafkan pada dasarnya adalah demi kesehatan jiwa kita sendiri, bukan demi orang lain. Memaafkan berarti kita menerima kesalahannya dan melepaskan kemarahan atau dendam. Pemaafan sejatinya adalah upaya self-care untuk diri kita sendiri agar tidak terjerat rasa sakit berkelanjutan.

Apa maksudnya pemaafan adalah self-care?
Kecewa, sakit hati, dan marah itu adalah reaksi normal saat kita dilanggar atau dilukai. Namun reaksi-reaksi itu bisa berangsur mereda, kecuali KITA SENGAJA (ATAU TANPA SENGAJA) memperpanjangnya. Atas dasar itu, memaafkan adalah upaya proaktif kita untuk memicu, memproses, dan mempercepat peredaan rasa sakit (hati) agar tidak berkepanjangan. Memaafkan adalah keputusan untuk berhenti menyimpan kemarahan, kebencian, pemikiran negatif, dan sebagainya; karean sadar bahwa hal tersebut akan MEMPERPARAH rasa sakit yang ada.

Ada suatu istilah berbahasa inggris yang sepertinya tepat untuk menggambarkan masalah ini yaitu Ruminating. 

"Ruminating are excessive and intrusive thoughts about negative experiences and feelings"

Jujur sulit untuk menemukan apa padanan 1 kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk kata ini, namun jika berusaha untuk diterjemahkan kurang lebih seperti ini "Berulang-ulang membayangkan masalah serta menerka-nerka berbagai alasan, faktor, dan kejadian di sekelilingnya". Hal ini benar-benar akan semakin memperpanjang dan memperparah sakit. Sikap ruminating itulah yang biasanya OTOMATIS kita lakukan saat dilukai oleh orang lain, makanya kita merasa jauh lebih parah dan sengsara daripada yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, perilaku ruminating ini sulit sekali disadari dan cukup sulit juga untuk dikurangi. -Berlaku pula untukku.

Belajar memaafkan
The Trap of Ruminating

Jika sikap ruminating ini sangat berlebihan hingga kita sendiri tidak dapat mengontrolnya dan membuat sulit merasakan kebahagiaan, mungkin itulah saat dimana kita harus menghubungi profesional seperti psikolog atau psikiater. Bahkan telah diteliti bahwa ada korelasi yang kuat antara sikap ruminating dengan mental health problem baik itu memicu ataupun memperparah mental health problem yang sudah ada. Berikut adalah beberapa penelitian yang menjelaskan bagaimana ruminating bisa memicu PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dan pembuatan suatu model untuk menghubungkan antara depresi, ruminating, dan stressor (pemicu stress). 

Belajar memaafkan

Alirkanlah emosi

Tentunya kita ingin hidup kita dijauhkan dari kesedihan, kekecewaan, dan berbagai macam emosi negatif, apalagi terkena mental health problem, sebaiknya tidak usah. Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya bahwa kitalah yang bisa memilih apakah kita ingin terus terluka atau tidak. Kita adalah yang membuat keputusan. Marilah membuat keputusan untuk berdamai dengan diri kita.

Salah satu caranya bisa dengan melepaskan emosi kita. Seseorang pernah memberitahu bahwa kita bisa memulainya dengan berlatih mengelola emosi dengan cara melepaskan dan tidak menahannya. Semakin banyak emosi yang tertahan akan semakin sulit untuk mengelolanya, ibarat seperti banjir yang terjadi karena banyaknya air yang datang namun tertahan karena saluran air yang kecil. Tentu kita akan sulit mengendalikannya bukan?

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan. Misal dengan memiliki jurnal emosi dimana kita bisa mencurahkan semua emosi yang kita rasakan tiap hari di masa-masa terberat kita. Bisa juga dengan art therapy dimana kita membuat 1 karya entah itu lukisan, sketsa, atau tulisan untuk membantu kita mengalirkan emosi yang ada (ya, tulisan ini adalah usaha yang kulakukan untuk mengalirkan emosi). 

Cara  terbaik lainnya adalah apabila kita memiliki teman dekat yang bisa kita hubungi atau telfon untuk dijadikan support system saat kita sedang down. Tentunya apabila posisinya dibalik: kita berada di posisi sebagai si support system, maka kita cukup mendengarkan cerita teman kita saja tanpa menghakimi mereka. Yap karena mereka hanya butuh didengarkan bukan di salah-salahkan. (Untuk hal ini aku ingin bercerita satu pengalaman.  Ada satu waktu dimana aku menerima kabar yang benar-benar membuat sedih, marah, kesal, takut, dan khawatir bercampur jadi satu. Saat itu posisiku sedang di bandara, sendirian & bingung. Tanpa babibu, aku langsung menelpon teman dekatku dan mencurahkan segala kebingungan dan kesedihan yang ada. Alhamdulillah, aku memiliki teman dekat yang begitu baik. Tak sedikitpun dia melontarkan kata-kata yang menghakimiku, namun justru kata-katanya membuat hatiku tenang dan tidak khawatir lagi. Sebenarnya malu juga kalau dibayangkan momen saat itu: ada gadis -duduk di antara pohon-pohon di spot foto instagrammable bandara- sedang menelpon dengan air mata yang mengalir, macam orang abis diputus cinta via telpon aja. Saking fokusnya curhat, sampai kelupaan kalau gate masuk akan ditutup, dan ya hasilnya ketinggalan pesawat :" Anehnya saat itu aku merasa tidak masalah dan tidak menyesal sama sekali saat mengetahui ketinggalan pesawat. Aku berpikir bahwa yang terpenting saat itu adalah hatiku yang tenang. Tidak bisa membayangkan juga bagaimana bisa melalui penerbangan 2 jam dengan hati yang runyam).

Terapi lainnya adalah dengan menyiapkan toples dan sticky notes, jadi saat kita merasakan keberuntungan atau kebahagiaan, kita bisa tuliskan di notes lalu gulung dan masukkan ke toples. Selanjutnya kita bisa buka setiap periode tertentu, misal: setiap bulan, dan kita baca kembali. Bahkan saat menuliskan ini saja, aku sudah membayangkan adegan kebahagiaan dan ulasan senyum yang akan muncul saat membaca satu demi satu gulungan kertas. Intermezzo--Adegan ini mengingatkanku pada salah satu scene di film A Millionaire First Love dimana saat itu si Om Hyun-Bin memberikan satu toples berisi kapsul gulungan kertas yang harus dibaca oleh mbak-mbak gebetannya setiap hari. Gulungan itu berisi kata-kata positif dan kata-kata cinta untuk si gebetannya. Om Hyun-Bin menyebut gulunagn tersebut sebagai "obat" dengan dosis satu kali setiap hari, karena di saat itu posisi gebetannya sedang sakit keras. Duh, gimana nggak tersentuh coba?

Belajar memaafkan
Wondering why I like you, I miss you. It's a disease

Selanjutnya cara lain adalah dengan melakukan random aktivitas positif, misalnya dengan memberikan nasi padang kepada seorang pengemis, membelikan ayam untuk kucing di jalanan, menyingkirkan batu yang ada di tengah jalan, membantu ibu kos merapikan sepatu dan sandal di depan kos, dan lain-lain. 

Hal ini tentunya selain membantu menghilangkan emosi negatif, juga akan membantu kita untuk memahami bahwa kita memiliki arti dan kebermaknaaan hidup. Bahwa kita seharusnya lebih memikirkan apa yang kita punya daripada apa yang kita tidak punya.

Nah itu dia sepenggal tulisan dan curahan hati tentang rasa sakit dan memaafkan. Semoga bermanfaat :)

Pain is normal, but Suffering is Optional



Tulisan ini ditulis di siang hari
dikala masa self-distancing aka pembatasan diri
- ceasafira -



Sumber:
  • Hosseinichimeh, N., Wittenborn, A.K., Rick, J., M.S., & Rahmandad, H. (2018). Modelling and estimating the feddback emchanisms among depressions, rumination, and stressors in adolescents. PLOS ONE, 13(9), e0204389. doi:10.1371/journal.pone.0204389
  • Claycomb, M. A., Wang, L., Sharp, C., Ractliffe, K.C., & Elhaj, J.D. (2015). Assessing Relations between PTSD's Dysphoria and Reexperiencing Factors and Dimensions of Rumination. PLOS ONE, 10(3), e0118435. doi:10.1371/journal.pone.0118435
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/326944#when-to-see-a-doctor
  • https://www.bbc.com/news/magazine-24444431

Jumat, 24 April 2020

Hari Pertama Ramadhan 1441 H

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Ramadan 1441 H

Beberapa kali aku mendengar selentingan bahwa kebanyakan wanita suka mengingat-ngingat kenangan dan kemudian cenderung untuk meromantisasinya. Seperti seseorang gadis yang tak bosan untuk pulang kampung ke rumah orang tuanya untuk sekedar melepas rindu dengan pohon kersen yang sering ia panjat saat masih kecil atau sekedar bersepeda berputar-putar mengitari persawahan untuk kembali membangkitkan kenangan di waktu pulang sekolah dulu saat bersepeda ditiup semilir angin serta disambut aroma pembakaran balok-balok tanah liat yang akan dijadikan bata. Bagi orang lain mungkin tak ada yang istimewa dengan hal tersebut, tapi bagi si gadis kenangan-kenangan kecil itulah yang akan membuatnya tak bosan dan tak sabar untuk pulang kembali ke rumah (-tentunya selain ingin bertemu orang tua). Jadi apakah aku setuju dengan pernyataan bahwa "wanita suka mengingat-ngingat kenangan dan kemudian cenderung untuk meromantisasinya"? Ya, sepertinya iya -setidaknya itu berlaku untuk diriku sendiri.

Di hari ini, Hari Jum'at, tanggal 1 Ramadan 1441 H; otakku memerintahkan dirinya sendiri untuk membangkitkan kenangan bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya yang semarak. Ya, Ramadhan tahun ini begitu berbeda, maksudku suasananya. Suara lantunan bacaan sholat tarawih yang bergaung di speaker masjid serta deretan penjaja takjil dan lauk pauk untuk buka puasa atau sahur yang berderet di jalanan, kini tidak lagi aku menemukannya, -setidaknya di daerah tempat tinggalku. 

Ya, aku kangen suasana Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Tak kusangka kenangan-kenangan itu akan begitu berarti di kala Ramadhan tahun ini, dimana kami semua diharuskan berdiam diri dan melaksanakan ibadah di rumah. Mungkin ramadhan kali ini tak akan ada lagi undangan berkumpul untuk buka puasa dari semua kalangan teman entah itu teman TK, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, paguyuban, asrama, kosan, geng A, geng B, dan banyaaak lagi yang mungkin sebelumnya membuat kantong kita semua kering. Bahkan mungkin shalat ied tahun ini pun belum tentu kami rasakan dengan sholat berjama'ah di masjid atau lapangan yang kemudian dilanjutkan dengan halal bi halal ke tetangga dan sanak saudara. 

Sekarang aku jadi kangen untuk melakukan semua itu. Izinkan aku untuk membangkitkan kenangan Ramadan 3 tahun terakhir.

Aku kangen Ramadan tahun 2017 

Aku kangen Ramadan tahun 2017 dimana di saat itu aku menghabiskan 2 minggu Ramadan bersama temanku Yayas di Karanganyar, saat itu kami melaksanakan kerja praktik. Selama disana, kami menginap di rumah kosong milik teman orang tua Yayas, di sebuah desa dekat dengan Pabrik Gula Colomadu, pabrik gula yang sudah ada sejak 1861 dan pernah jaya di masa penjajahan Belanda dulu. Mungkin dikarenakan lokasi penginapan kami yang ada di pedesaan, membuat suasana ramadan saat itu terasa syahdu & berkesan. 
Foto Pabrik Gula Colomadu tahun 2018 yang sudah direvitalisasi
Aku kangen dimana tiap malam sambil memakai mukenah kami berdua mengendarai sepeda melewati hamparan sawah dengan penerangan jalan yang seadanya. Teringat saat kami mempercepat kayuhan pedal saat harus melewati suatu rumah yang dijaga anjing galak -yang selalu menggonggong saat kami lewat. Ingat sekali di hari ketiga aku tarawih, sepeda yang biasa kukendarai untuk berangkat tarawih hilang dimaling orang di parkiran masjid. Sejak saat itu, aku sering mendengar bisik-bisik di kala tarawih dari ibu-ibu atau anak-anak yang membicarakanku "Itu lho, mbak yang dari Jakarta yang sepedanya hilang" atau malah ada yang terang-terangan menghampiriku "Kamu mahasiswa dari Jakarta yang sepedanya hilang ya?", sepertinya dari respon mereka, aku adalah korban pertama  kasus kemalingan di desa itu (?) hehehe. Sejak saat itu pula, pemerintah Desa tersebut membangun portal di beberapa jalan untuk mencegah kemalingan lagi, yap sekitar 3 hari setelah kejadian kemalinganku, kutemui di beberapa jalan tiba-tiba sudah dipasangi portal saja. Bayangkan kehadiran si mahasiswa dari ibukota ini tiba-tiba membuat perubahan secara tidak langsung di suatu desa? (Fyi sejak saat itu, aku tetap naik sepeda saat berangkat tarawih, bedanya kali ini tidak sendiri-sendiri melainkan berboncengan dengan temanku).

Aku juga kangen dengan suara lantunan Al Qur'an setiap sehabis maghrib dan sepulang tarawih dari Yayas atau Dek Novi (anak umur 10 tahun, tetangga depan rumah tempat kami menginap yang sering main ke tempat kami). Kangen setiap pulang tarawih, menemani Dek Novi mampir ke warung dekat masjid buat sekedar membeli es fanta atau es krim atau terkadang kami harus menasihatinya setiap Dek Novi ingin membeli berbagai macam jenis petasan. Kangen membeli makanan berbuka setiap pulang magang di depan Stadion Manahan Solo yang harga-harganya membuat syok saking murahnya bila dibandingkan dengan harga di ibukota. Kangen main make up make up an sama Dek Novi buat ngabuburit nunggu waktu berbuka puasa. Kangen bantuin Dek Novi mengerjakan PR matematikanya. Kangen kami bertiga zumba malam-malam sehabis tarawih. Kangen juga di saat kami bertiga berboncengan mengendarai motor butut yang tarikan gas-nya sudah endat-endut untuk membeli takjil dekat rumah, membeli STMJ (susu telur madu jahe) ke Surakarta, atau mengambil uang di ATM yang sayangnya lokasi ATM terdekat ada di sebuah mall di Kota Boyolali hahaha jauh bat.  

Aku kangen Ramadan tahun 2018

Aku kangen Ramadan tahun 2018. Itu adalah ramadan terakhirku sebagai mahasiswa S1 di UI. Hal-hal yang menjadi favoritku saat menjalankan ramadan selama berkuliah di UI adalah bagaimana aku dengan teman-teman se-kontrakanku keluar mencari ta'jil terutama di daerah perempatan dekat RS Graha Permata Ibu. Setiap Ramadhan, daerah tersebut benar-benar ramai dipenuhi oleh penjaja ta'jil dan makanan lauk pauk. Sayangnya di tahun ini dipastikan penjaja ta'jil itu tidak ada, bukan saja karena korona, melainkan juga kini tempat tersebut sudah berubah menjadi jalan tol kukusan. Ada 1 penjual favorit yang dulunya berhabitat disitu yang sayangnya sekarang aku tidak tahu pindah kemana abangnya, yaitu penjual bubur kacang ijo madura. Yes, dulu aku dan teman-teman senge-fans itu sama bubur kacang ijo karya abangnya, kami membelinya selepas sholat tarawih, itu beneran bubur kacang ijo terenak di Kukusan deh. Aku sendiri adalah fans bubur kacang ijo, sudah banyak warteg dan warkop di Kukusan yang kudatangi untuk sekedar mencicipi bubur kacang ijonya, sayangnya selalu ada kekurangan seperti kuahnya yang terlalu kental, kacang ijonya yang terlalu hancur, rasanya yang hambar, dan lain-lain. Intinya bubur kacang ijo madura yang dulu habitatnya di daerah gerbang tol kukusan, adalah bubur kacang ijo terenak di seantero kukusan!
Masjid UI
Hal favorit lainnya menghabiskan ramadan di lingkungan UI adalah shalat tarawih di MUI (Masjid Ukhuwah Islamiyah) UI. Entah karena apa, rasa dan atmosfirnya berbeda saat menunaikan tarawih di sana, meskipun kami tahu untuk menuju kesana, haruslah sedikit repot dengan naik bikun atau naik motor. Bisa jadi juga karena lantunan bacaan sholat yang sangat merdu dari imamnya yang tentunya semakin mendinginkan kalbu. Yap, MUI memang memiliki kebijakan menggilir imam shalat tarawih, biasanya berasal dari qari' mahasiswa UI yang sudah pernah menang lomba tilawah Al Qur'an, jadi ya wajar suaranya merdu-merdu. Temenku ulpeh yang bahkan baru mendengar lantunan takbir imam-nya saja langsung berkomentar "Cea, suara imamnya lembut banget". Sebenarnya di MUI ada banyak sekali kegiatan saat bulan Ramadhan termasuk di antaranya ifthar, kajian tematik rutin tiap hari dan pesantren Ramadhan. 

Selanjutnya hal favorit lainnya saat ramadan adalah adanya keberadaan pasar malam di Kukusan. Sekali lagi posisi pasar malam ini adalah di daerah yang sekarang sudah menjadi tol Kukusan. Bagaimana bentuk pasar malamnya? Seperti pasar malam pada umumnya, ada kora-kora, bianglala, kereta mini, dan lain-lain. Karena penasaran, aku dan temanku Ulpeh memutuskan untuk mengunjungi pasar malam tersebut seusai tarawih. Kami mencoba kora-kora ala-ala, yang bahkan harga tiketnya saat itu mungkin sekitar 7000 saja hahaha. Bagaimana sensasinya? Seram! Bahkan lebih seram dibanding kora-kora ancol yang tentu ukurannya lebih besar. Bisa jadi karena si kora-kora itu dijalankan dengan tenaga manusia (di awal ada mas-mas berotot yang bertugas mendorong kora-kora itu biar bisa bergerak) jadi rasanya lebih tidak safety (?) Ditambah dengan suara deritan besi dan engselnya yang seakan-akan mengatakan bahwa engselnya bisa patah kapanpun dan kami penumpangnya akan terhempas (?) Terakhir adalah TIDAK ADA REM-nya!! Lho? Ya, yang menjadi rem-nya adalah si mas-mas berotot tadi, jadi dia akan mulai mengganduli sisi kora-kora agar lama-lama terhenti. Nah, kalau mas-nya lagi iseng nggak mau jadi rem gimana? Itulah kenapa kora-kora versi ini jauh lebih seram! Hahahahaha.
Uji Nyali dengan Kora-Kora Pasar Malam


Aku kangen Ramadan tahun 2019

Aku kangen Ramadan tahun 2019, dimana di tahun itulah pertama kalinya aku menghabiskan Ramadhan sendirian (Yah, maksudku sebelumnya aku hidup bersama orang tuaku selama 18 tahun dan saat kuliah S1 pun aku memilih untuk mengontrak satu rumah dengan sahabat-sahabatku, jadi aku selalu bersama-sama saat menghabiskan ramadan). Di tahun itu aku dan sahabatku sudah memasuki dunia kerja yang tentunya membuat kami tinggal terpisah satu sama lain, membuatku pertama kalinya merasakan hidup sendirian yang tentunya awalnya sangat sulit bagiku yang ekstrovert ini. 
Masjid Al Barkah, Tebet
Masih teringat, sepulang kerja aku akan mencari-cari takjil dan makanan di depan Masjid Al Barkah, Tebet; yang berhubung lokasinya hanya 15 m dari kosanku. Favoritku tentu nasi kuning dan tape ketan susu, kedua makanan itu adalah nasi kuning dan tape ketan susu terenak yang pernah kucoba selama ini, yap kalian harus mencobanya! 

Bersyukurnya di Ramadhan tahun 2019, 2 orang sahabatku yaitu Ulpeh dan Deci sering sekali menginap di kosanku, yah setidaknya bulan Ramadhan itu tidak sepenuhnya aku sendirian hahaha. Mereka berdua akan kuajak menikmati kuliner di depan Masjid Al Barkah atau di dekat Pasar Jaya Bukit Duri. Mereka berdua pun berpendapat hal yang sama bahwa nasi kuning dan tape ketan susu di depan Masjid Al Barkah adalah nasi kuning dan tape ketan susu terenak! Saking seringnya kami membeli makanan tersebut, ibu penjual nasi kuning dan uda tape ketan susu sampai mengenal kami bertiga. Hmm sepertinya saat wabah korona ini berakhir nanti, aku akan mengunjungi lagi nasi kuning dan tape ketan susu tersebut. Semoga penjualnya senantiasa diberi kesehatan. Aaamiin

Sehabis melaksanakan tarawih di Al Barkah, biasanya kami langsung memesan makanan via ojol ke Burger King Tebet yang rencana awalnya sih buat makan sahur. Namun, berhubung sehabis tarawih kami malah mengobrol ngalor ngidul sampai tengah malam (maklum lah ya, namanya juga cewek lagi kumpul), akhirnya tengah malam itu kami kelaparan dan memakan si burger king hahaha. Terus waktu sahur? Ya kami merebus mie instan dan makan lagi. Duh, gimana nggak makin gendut coba?

Cuap-Cuap Terakhir

Well, itu dia tulisan panjang kali lebar-ku tentang sepenggal kisah Ramadan 3 tahun terakhir ini. Menuliskannya kembali menyadarkanku bahwa aku harus selalu bersyukur di setiap momen yang aku jalani sekarang terlepas bagaimanapun itu, karena aku tidak tahu apakah di masa depan aku masih bisa merasakannya lagi dan yang pasti momen-momen yang pernah terjadi di masa lalu pastilah memberikan 'ibrah atau pelajaran untuk diriku di masa sekarang atau di masa depan. 

Terlepas ramadan tahun ini yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, tentunya kita sebagai umat muslim seyogyanya menyambut ramadan sebagaimana Rasulullah pun menyampaikan datangnya Ramadan sebagai kabar gembira karena banyaknya kebaikan yang berlimpah dalam berbagai bentuknya.

Ramadan tahun ini yang berbeda atau tidak sesemarak tahun-tahun sebelumnya pun seharusnya bukan menjadi bahanku untuk mengeluh atau membuat sedih diri sendiri. Betapa banyak kabar menyedihkan yang kuterima, dari seorang Ibu di Serang yang meninggal setelah 2 hari sebelumnya tidak makan, dari tetanggaku yang meninggal akibat positif COVID-19, dari teman dekatku yang baru saja diPHK karena perusahaan tempat dia bekerja bangkrut tidak memiliki pemasukan selama wabah COVID-19, dari teman dekatku yang harus melalui puasa dan lebaran sendirian di perantauan karena adanya larangan mudik dan pembatasan transportasi, teman dekatku yang calon suaminya di PHK akibat wabah COVID-19 saat mereka baru mulai menjajaki hubungan yang lebih serius; itu semua masih merupakan kasus individual belum terhitung kasus kumulatif seeprti total pegawai yang kehilangan pekerjaan akibat COVID 19, total orang yang meninggal, dll. Dari situ tentunya tidak patut kalau aku masih mengeluh dan lebih baik melakukan semampuku untuk membantu mereka yang kesusahan.

Semoga Allah segera mencabut wabah COVID-19 ini di muka bumi ini. Aaaamiin


Ditulis di hari pertama Ramadan 1441H

Kamis, 30 Januari 2020

Hal Menarik di Setiap Perjalanan Kereta Api

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh


Halo semuanyaaaa!!! 😄

Di post kali ini, gw mau agak berbeda nih dimana sebagai "anak anker" alias anak kereta (kereta api lho, bukan KRL) gw mau berbagi hal-hal menarik yang gw alami sebagai pengguna setia kereta api. Bisa dibilang, ada sesuatu yang magis (#cielah) dari kereta api, yang membuat kalian tetap akan kangen naik moda satu ini dibanding moda transportasi yang lain seperti pesawat, bis, atau mobil.

Pengalaman Kereta Api
Menunggu kedatangan kereta dengan berlatar pemandangan monas
Gw sendiri sudah naik kereta api dari semenjak gw ada di dalam kandungan 😂. Wadaw, kok bisa? Jadi orang tua gw tinggal di kota yang berbeda dengan kakek-nenek gw dan moda yang paling nyaman untuk berkunjung ke rumah kakek-nenek gw adalah kereta api; ditambah sekarang pun gw kuliah di ibukota yang sekali lagi membuat gw menggunakan moda kereta api untuk pulang kampung. Mungkin kalau dihitung sampai umur gw yang ke 23 sekarang ini, udah lebih dari 50 kali ya gw naik kereta api dengan berbagai macam kondisi dan bentuknya hahaha. 

Jadi, disini gw mau merangkum apa aja hal-hal menarik yang gw temui di kereta yang tentunya akan menjadi kenangan tersendiri buat gw untuk tetap kangen dan kangen lagi dengan kereta 😊.


1. Ticket War Tiap Mau Lebaran

Kalau di UI terkenal dengan istilah SIAK WAR, di dunia perkereta-api-an ada juga nih istilah yang gw bikin-bikin sendiri #plakk yaitu ticket war. Dibanding SIAK war yang bertujuan buat milih kelas dan dosen demi IP semester yang melegakan, si ticket War ini juga nggak kalah menegangkan buat memastikan kursi agar pulang kampung saat lebaran dengan selamat dan harga yang masih bersahabat. Sebelum pembukaan tiket, sedari 15 menit sebelumnya gw udah siap-siap dengan segala amunisi seperti internet, cemilan, dan berbagai macam gadget: laptop & hp semua dikerahkan untuk menghadapi war ini 😝. Website KAI atau traveloka udah gw refresh berkali-kali tiap 1 menit hahaha. Saat udah teng waktu bukaannya, gw langsung milih kereta dan kursi dan ngisi data-data secepat mungkin, kemudian langsung gw transfer atau lari-lari penuh kepanikan ke indomaret/alfamart buat bayar tiketnya karena waktu batas pembayaran cuman 38 menit 😆. 

Tentu saja segala sesuatu nggak selalu berjalan mulus, guys. 
  • Server down pas pembukaan tiket? Pernah. 
  • Ketiduran pas pembukaan tiket? Pernah (Mohon dimaklumi guys, pembukaan tiketnya itu jam 12 malam huhu). 
  • Udah lari-lari ke indomaret/alfamaret tapi ternyata disana antre panjang yang berakibat waktu habis dan nggak dapat tiket? Pernah. 
  • Udah lari-lari ke indomaret/alfamaret tapi ternyata lagi nggak berfungsi layanan bayar tiketnya? Pernah. 
  • Lagi buru-buru panik ngisi data diri KTP dan kawan-kawannya tinggal check out, tiba-tiba ke-out sendiri karena tiketnya udah habis? Pernah.
  • Terlalu lama galau milih kursi antara deket jendela atau deket jalan sampai akhirnya kehabisan tiket? Pernah.
  • Nggak ada masalah teknis apapun pas milih tiket atau masalah galau pilih kursi yang mana, tapi ada masalah kantong kering alias nggak punya duit buat beli tiket? Pernah 😆.
Pengalaman Kereta Api
Perjuangan demi selembar tiket
Nah ticket war ini cuman terjadi pas lagi high season aja ya macam lebaran, kalau di hari biasa mah santai-santai aja. Kalau dulu pembukaan tiket itu 3 bulan atau 90 hari sebelum hari keberangkatan, kalau sekarang di aturan yang baru pembukaan tiket itu 1 bulan atau 30 hari sebelum keberangkatan. Apa akibatnya kalau kalah dalam ticket war? Ya antara nggak dapat tiket atau dapat tiket tapi dengan harga yang mahal (di kereta api ada subclassnya, dimana kalau kita telat atau terlambat beli harga tiket maka akan dapat harga yang lebih mahal).


2. Tiket Tanpa Kursi

Fenomena tiket tanpa kursi ini cuman terjadi pas jaman dahulu, jaman sebelum Ignasius Jonan jadi Dirut KAI. Ini sebenernya bukan pengalaman yang menyenangkan ya, tapi kalau diingat-ingat lucu juga haha. Jadi jaman dulu, PT. KAI nggak cuman menjual tiket yang benar, tapi juga menjual tiket tanpa ada kursi -entah apa alasannya PT KAI kok bisa jualan tiket begitu. Namun, sejak Dirutnya Pak Ignasius Jonan, perlahan kereta api jadi jauuuh lebih rapi, termasuk penertiban tiket.

Gw sendiri pernah di kedua pihak: yang dapat tiket "benar" dan dapat tiket tanpa kursi. Pas gw dapet tiket yang emang "benar", gw jujur suka kesal sama orang-orang yang nggak dapat kursi dan nebeng di gagang kursi gw, ganggu gitu lho (-pikir gw saat itu yang masih SD). Hingga kemudian ada momen di mana keluarga gw kehabisan tiket lebaran yang berakibat terpaksa beli tiket tanpa kursi. Waktu itu ibu ama adek gw duduk di lantai kereta, bapak gw berdiri dan mondar-mandir kesana-kemari (ya Allah kasian kalau inget ini), sedangkan gw? Gw duduk di gagang kursi seorang penumpang (ortu gw izin ama penumpang itu biar gw bisa duduk di gagang kursinya). Gw merasa nggak enak sama itu orang takutnya dia nggak ikhlas atau nggak nyaman ada gw disitu. Nah, lho; kualat kan? Hahahaha. 


3. Tidur Beralaskan Koran di Lantai Kereta

Pengalaman ini juga nggak terlepas dari jaman-jaman PT. KAI belum dipegang Pak Ignasius Jonan hahaha, yah pokoknya di jaman itu kereta masih berantakan dan amburadul deh. Jadi ceritanya nih kalau misal sekeluarga naik kereta kan otomatis milih tempat duduk buat 4 orang terus kursinya dibikin hadap-hadapan gitu (jaman dulu kursi masih bisa digeser ngadep belakang atau depan). Saat ingin tidur, berhubung tidur dengan posisi duduk itu sama sekali nggak enak, ya akhirnya gelar koran dong di bawah kursi (toh masih termasuk teritori kursi) dan bobok disitu dengan kaki bebas telentang wkwkwkwk. Ya Allah, kalau dingat-ingat sekarang  kok ngenes banget yaaa hahaha. Tapi yang gw herannya kok waktu itu gw merasa nyaman-nyaman aja tidur beralaskan lantai kereta yang keras dan nggak merasa jijik sama sekali. Ditambah dengan ayunan dan goyangan gerbong yang meliuk-liuk membuat tidur semakin pulas. Duh, kangen deh jaman-jaman begitu 😊.


4. Dengkul Ketemu Dengkul

Pengalaman ini hanya bisa didapat bagi teman-teman yang naik kereta ekonomi, yang naik bisnis-eksekutif atau bahkan priority-luxury dijamin can't relate. Terkadang gw merasa bahwa pengalaman unik macam gini cuman bisa didapetin saat kita nggak punya banyak uang ya hahaha, ada hikmahnya juga. 

Jadi nih guys, posisi duduk kereta ekonomi itu hadap-hadapan ada yang formasinya 4 orang hadap-hadapan dan ada juga yang 6 orang hadap-hadapan. Namanya juga ekonomi; udah sempit, hadap-hadapan, jarak antar kursinya deket pula; jadilah seringkali lutut ketemu lutut 😆. Wah kalau udah kayak gini, nggak enak banget deh, udah gitu kudu tahan selama berjam-jam bahkan belasan jam buat di posisi macam itu. Coba bayangin kalau yang ketemu lutut-lutut itu sama-sama cowok atau cewek-cowok yang nggak saling kenal? Kan awkward ya hahaha, udah mukanya hadap-hadapan ditambah dengkul yang saling sentuh-sentuhan, awkward maksimal atau risih makmisal. Untung kaki gw pendek ya, jadi gw mah nggak pernah menemui masalah macam gini hahaha. Ada solusi lain sih, yaitu kalian janjian ama penumpang di depan biar kakinya selisih-selisihan; tapi masalah baru muncul lagi: siapa yang bisa duduk dengan nyaman kalau ada kaki orang lain ada di dekat dengan selangkangan kalian? 😆. Nah lho, serba salah kan?


5. Rebutan Bagasi

Kalau lagi musim lebaran, jangan heran dengan pemandangan seperti ini: satu keluarga dengan banyak tas: koper ada, tas jinjing ada bahkan tiap anaknya bawa tas ransel masing-masing, ditambah entah berapa buah kardus (biasanya isinya oleh-oleh), dan sekarung beras. Nah kalau udah ketemu yang semacam itu dan kalian telat masuk gerbong, yaudahlah pasrah dan ikhlas aja kalau misal kalian nggak kebagian bagasi hahaha. 

Jadi pas jaman-jaman lebaran, emang wajar bakal banyak orang plus banyak juga bawaannya, jadi kita-kita nih yang jomblo dan single dengan barang bawaan cuman 1 ransel atau 1 koper aja harus berjuang biar dapat bagasi atau kalau nggak ya nggak dapat bagasi. Cuman masalahnya guys, tipe-tipe penumpang yang bawa banyak bawaan seperti ini, kereta belum datang aja mereka udah baris di peron; apalagi pas keretanya dateng beuhhh mereka langsung lari secepat kilat buat ngetag bagasi. Ya jadilah orang macem gw yang nggak kuat adu serobot dan otot memilih untuk ngalah aja dan dapat bagasi seadanya, kalau nggak dapat bagasi pun yaudah gw taruh bawaan gw di bawah kolong kursi.
Pengalaman Kereta Api
Pemandangan bawaan penumpang khas mudik: kerdus-kerdus
Gw sebelumnya sempat kesal kalau ketemu yang macem gitu ya, mungkin harusnya ada aturan barang bawaan maksimal penumpang di kereta semacam di pesawat gitu; tapi sekarang mah gw udah biasa aja lagian cuman kejadian setahun sekali pas lebaran aja, atau bisa jadi barang yang mereka bawa itu adalah oleh-oleh yang udah diharapkan banget ama keluarga di kampung jadi ya udah nggak apa-apa. Peristiwa ini terjadi nggak cuman terjadi di 1 kelas aja ya, gw menemuinya baik itu di kelas ekonomi, bisnis, maupun eksekutif. Meskipun begitu, nggak bisa dipungkiri ya paling banyak di ekonomi.


6. Gerbong Restorasi aka Gerbong Makan

Ini nih mungkin spot favorit buat kalian anak-anak kereta. Memandang keluar jendela, melihat hamparan sawah sambil sesekali menyeruput teh panas, duuh nikmatnya. Gerbong restorasi juga bisa ya jadi tempat menghangatkan badan setelah kedinginan di kursi akibat AC yang dingin keterlaluan. Gw seneng banget nih disini, menikmati nasi goreng atau nasi rames yang lebih sering nasinya keras ditambah dengan segelas teh panas (literally panas) yang bisa membuat lidah terbakar sambil menikmati hamparan persawahan atau Laut Jawa sepanjang Jakarta-Semarang, apalagi kalau gerbong restorasinya lagi sepi jadi gw bisa semakin khidmat menikmati kesendirian ini hahaha.

Pengalaman Kereta Api
Menikmati santapan kereta di gerbong restorasi
Gerbong restorasi ini bisa menjadi awal mula sebuah cerita. Tak jarang orang bertemu dengan pasangannya di gerbong restorasi ini, membuat kaum-kaum jomblo jadi punya modus dan harapan terselubung saat mampir di gerbong restorasi. Tapi beneran lho, gerbong restorasi ini cocok buat jadi latar cerita, lihat aja berapa banyak film atau novel yang mengambil tempat di gerbong restorasi. Masih ingat dimana James Bond bertemu pertama kali dengan Vesper Lynd dalam Casino Royale? Ya di gerbong restorasi. Masih ingat dimana Hercule Poirot menjelaskan kecurigaannya tentang terjadinya pembunuh dalam Murder on the Orient Express? Ya di gerbong restorasi. Masih ingat dimana Angelina Jolie ketemu pertama kali sama Jhonny Depp dalam film The Tourist? Ya di gerbong restorasi. Masih ingat dimana Ray bertemu pertama kali dengan pujaan hatinya dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu? Ya di gerbong restorasi. Tuh banyak cerita kan di gerbong restorasi ^^

Pengalaman Kereta Api
Om James Bond dan Mbak Vesper yang ketemu di gerbong restorasi



7. Makanan Kereta

Sebenarnya sih nggak ada yang spesial juga dengan makanan kereta, nggak yang enak banget sampai terkenang gitu; justru yang terkenang adalah keheranan gw kok mau-maunya beli satu cup teh panas harga 15.000 yang mungkin isinya nggak nyampe 200 ml😆, overpriced-nya keterlaluan. Teh panas yang gw maksud disini beneran panas guys, jadi pas lagi dibikin sama pramusaji-nya beneran dicur-in langsung dari termos panas tanpa ada tambahan air dinginnya, kebayang nggak tuh sepanas apa XD; makanya gw baru bisa minum teh panas itu setelah menunggu 15 menit (sekaligus sebagai alasan untuk berlama-lama di gerbong restorasi).

Untuk makanan yang tersedia ada macam-macam ya, paling mainstream sih ayam goreng, nasi goreng, nasi rames, indomie, dan berbagai macam snack bermicin; meskipun begitu ada menu unik yang bisa kita temukan di kereta berupa makanan khas dari kota yang dilalui kereta tersebut. Contohnya untuk kereta jurusan Jakarta-Semarang, biasanya setelah kereta melalui Stasiun Cirebon, maka di restorasi akan disediakan empal gentong, salah satu kuliner wajib dicoba saat bertandang ke Cirebon. Gw pernah punya pengalaman saat puasa beberapa tahun lalu dimana saat itu PT KAI baik banget nyediain makanan buka puasa gratis buat penumpangnya, sayangnya sekarang udah nggak ada lagi.

Pengalaman Kereta Api
Alhamdulillah dapat menu buka puasa gratis dari PT KAI 😊
Sebenarnya secara keseluruhan bukan cita rasa makanan atau minuman yang menjadikannya menarik dan patut dikenang, melainkan bagaimana memori dari pengalaman itu sendiri: menikmati ayam goreng dengan daging yang alot ditemani dengan secangkir teh yang terlalu panas sambil menikmati alunan goyangan gerbong dan hamparan hijau persawahan.


10. Toilet Bolong

Pemandangan ini mungkin cuman ditemui di kereta ekonomi ya, kalau di bisnis dan eksekutif gw belum pernah menemui; itupun nggak semua kereta ekonomi seperti ini. Jadi guys, bentuk toilet di kereta itu bermacam-macam ya, ada yang jongkok ada yang duduk; dan ada pula yang bolong. Iya, bolong. Maksudnya? Jadi bentuknya cuman bolongan doang yang kemudian langsung terhubung ke rel kereta di bawahnya. Bisa bayangin kan kalau misal kalian BAK atau BAB dan kebetulan dapat toilet seperti itu? Ya langsung "plung" ke bawah. Sejak saat itu, gw jadi suka suudzon tiap liat kereta api lewat dan ada air yang mengucur dari bawah gerbongnya, jangan-jangan... 😆

Pengalaman Kereta Api
Eww bolong
Tapi pemandangan ini gw lihat uda beberapa tahun lalu ya, mayoritas toilet sekarang sudah punya sistem septic tank-nya sendiri jadi nggak otomatis "plung" gitu turun ke bawah.


11. Teman Seperjalanan

Berhubung selama 5 tahun terakhir ini gw seringnya naik kereta sendirian, jadinya gw selalu bertemu dengan orang asing sebagai temen duduk gw di kereta. Dari yang anak SMP, ibu-ibu, mbak-mbak, bapak-bapak, sampai kaki-nini. Ada yang dari awal naik sampai turun kereta, dieeem doang dan mainan hp; ada juga yang ramah dan ngajak ngobrol terus sampai nggak sadar udah 4 jam ngobrol; dan ada juga yang keponya keterlaluan entah kenapa 😅. Ada yang cerita mau ngunjungin cucunya di Semarang, ada yang cerita mau 'kulakan' baju di pekalongan, ada juga yang cerita anaknya sekarang lagi galau menentukan univ pilihan di jalur undangan, sampai cerita dari seorang direktur sebuah perusahaan mengenai pengalamannya menginterview berbagai macam jenis freshgraduate; yap selalu ada cerita dari teman seperjalanan.

Gw sendiri bukan tipe yang memulai pertama kali suatu percakapan saat di kereta, tapi gw pasti akan menanggapi dan tak segan untuk bercerita panjang lebar jika teman duduk gw memulai percakapan apalagi kalau dia terlihat menyenangkan untuk diajak ngobrol. Hal ini menjadi salah satu membuat gw penasaran kira-kira siapa ya yang nanti bakal jadi teman seperjalanan gw, apakah seorang pelajar, seorang ibu, seorang guru, seorang pedagang, atau yang lainnya. Kira-kira apakah kita nanti akan ngobrol panjang, ngrobrol seadanya, atau malah diam tak peduli sama sekali selama 6 jam perjalanan. Dan kira-kira ilmu atau wawasan apa yang akan gw dapat dari obrolan nanti, apakah hanya sekedar basa-basi atau pembahasan dalam mengenai suatu topik. Who knows?


12. Pemandangan

Pemandangan adalah hal nggak boleh luput gw sebutkan disini. Dimulai dari bentangan biru laut utara Jawa setiap menaiki kereta jurusan Jakarta-Surabaya; kemudian menikmati hijaunya persawahan berlatarkan pegunungan saat memasuki wilayah Kendal di kereta jalur utara; atau merasakan jantung yang deg-degan saat melewati Jembatan Cikumbang yang dikelilingi pemandangan indah khas parahyangan di kereta jurusan Jakarta-Bandung; atau merasakan pengalaman membelah perbukitan saat melintasi Purwokerto; dan masih baaaanyak lagi. Pengalaman yang menakjubkan bukan? Gw yakin mungkin ini menjadi salah satu faktor magis yang membuat orang untuk selalu kembali dan kembali menaiki kereta, terlepas dari berbagai macam moda transportasi yang tersedia.

Jembatan Sikumbang


Cuap Cuap Terakhir

Nah itu dia hal-hal menarik yang gw temukan di setiap perjalanan kereta api. Setiap orang punya anggapan sendiri mengenai apa yang dianggapnya menarik, jadi kalau misal kalian ada sesuatu yang menarik namun tidak dibahas oleh gw di post ini, kalian boleh banget cerita di komen di bawah :D.

Semoga tulisan ini bermanfaat ya! Sampai jumpa lagi!





- Safira CA -
Pelajar yang sedang berjuang menulis tugas akhir 
malah memilih mangkir demi menulis kenangan kereta yang tiba-tiba terpikir