Kamis, 23 Juli 2020

Pengalaman Pakai RATA.ID: Jurnal Perjalanan dan Testimoni

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Hai semuanya!
Jadi ini pertama kalinya gw akan berbagi pengalaman sekaligus mereview suatu produk atau jasa kesehatan yaitu RATA.ID. Singkatnya, si RATA.ID ini mengklaim bahwa dirinya merupakan penyedia jasa clear aligner pertama di Indonesia dengan tagline "Solusi Meratakan Gigi tanpa Kawat dan Behel", cukup menggiurkan kan? 

rata.id
Clear Aligner RATA

Pertama kali gw denger RATA ID adalah di Februari 2020 dari youtube channel-nya Tasya Farasya (bisa lihat videonya disini) dimana disitu Tasya mampir ke klinik RATA ID dan dijelaskan oleh foundernya yaitu drg. Devina bahwa produk RATA ID menggunakan teknologi canggih yaitu clear aligner untuk meratakan gigi dibantu dengan software AI untuk memprediksikan pergerakan gigi ke depan dari pasien sampai rata dengan harga yang terjangkau. Nah, ukuran terjangkau ini apabila dibandingkan dengan produk sejenis yaitu "invisalign" yang sudah dulu terkenal di luar negeri dimana untuk pemasangan dan treatment membutuhkan biaya sekitar 50-70 juta, sedangkan RATA hanya mematok 9,9 juta all in. Selain itu apabila dibandingkan dengan behel pada umumnya si RATA ini pun memiliki keunggulan, apa aja keunggulannya bisa langsung dilihat di tabel di bawah ya. Nah satu lagi poin plus si RATA, bahwa RATA ini menjanjikan gigi rata maksimal 6 bulan perawatan, wah gila sih, ini yang gw cari-cari selama ini karena halangan terbesar gw untuk behel adalah waktunya yang lama padahal kasus gigi yang pingin gw benerin cuma 1 gigi seri depan yang miring, serta ketakutan kalau ternyata gw harus cabut gigi kalau ingin behel (padahal belum tentu dicabut juga)

rata.id
Sumber: https://www.rata.id/

Saat ngelihat videonya Tasya Farasya, yang emang pas banget posisinya gw sedang mempertimbangkan treatment untuk meratakan gigi, jadilah gw mulai teracuni hahaha. Eits berhubung masalah gigi ini bukan masalah yang sepele, gw memutuskan untuk kepo dulu dengan si RATA, takutnya ini macam klinik tukang gigi abal-abal kan malah berabe. Gw kepo-in website dan instagramnya, gw juga kepoin siapa aja foundernya. Tak lupa gw kepoin si RATA ini dapat pendanaannya darimana, venture capitalnya siapa. What, sampai segitunya? Iya, gw kalau lagi mode kepo bisa beneran kepo maksimal hahaha. Intinya semua terlihat meyakinkan. Apalagi di instagram RATA disertai gambar before-after dari pasien-pasiennya, semakin membuat gw tergiur. Di sisi lain, gw juga mikir si Tasya Farasya ini kan youtuber terkenal, yakali dia mau merelakan integritasnya untuk promosi/ngenalin klinik gigi abal-abal apalagi Tasya-nya sendiri pun lulusan kedokteran gigi. Selain itu, di klinik RATA pun memang literally klinik dokter gigi, bukan tukang gigi. Lalu setelah membaca dan menonton berbagai macam review dari blog maupun youtube, akhirnya gw yakin untuk ngambil treatment ini. 

Gimana perjalanan gw dengan RATA? Langsung aja, check it out!
(P.S post ini bakal panjaaaaang, karena formatnya yang berupa "jurnal perjalanan" jadi lebih ke curhat di setiap step gw bersama RATA)

Evaluasi Online (7-10 Juni 2020)

Diawali dengan gw yang menDM RATA di instagram menanyakan apakah kasus gigi gw bisa ditangani oleh clear aligner dari RATA (-catatan: tidak semua kasus gigi bisa ditangani oleh RATA, untuk kasus yang kadarnya berat sebaiknya ke orthodontist saja). RATA langsung membalas DM gw dan menawarkan evaluasi online dengan cara mengirimkan foto dari 5 sudut (bisa dilihat contoh panduannya di bawah). Nah dari kelima foto ini kemudian akan dievaluasi oleh tim dokter gigi RATA apakah memungkinkan untuk ditreatment dengan RATA atau tidak.
rata.id
Panduan Foto

Tanggal 10 Juni 2020, gw dikirimin link video hasil evaluasi gigi gw via DM. Jadi di video itu ada dokter gigi yang memaparkan hasil "analisis"nya yang intinya keadaan gigi gw layak untuk mendapatkan treatment dari RATA.

Pembayaran (12 Juni 2020)

Selanjutnya gw ngebawelin si CS-nya dengan tanya segala macam tentang treatment RATA termasuk gimana nasib konsultasi gigi pas jaman COVID begini, takutnya nggak memungkinkan ke klinik gitu kan, Si Mbak CS mengatakan bahwa proses konsultasi dengan dokter gigi ke depannya akan dilakukan online (via ZOOM) dan khusus memang untuk penggunaan clear aligner ini tidak diperlukan banyak konsultasi seperti saat penggunaan behel gigi. Nah sebenernya disini gw agak was-was dan takut apakah akan efektif kalau konsultasinya online, kan sayang gitu udah ngeluarin duit tapi hasilnya nggak maksimal.
rata.id
Rezeki dapet promo :)

In the end, gw memutuskan untuk ambil treatment RATA. Beruntungnya gw, saat itu sedang ada promo THR yaitu diskon sebanyak 5,5 juta dari harga sebelumnya 12,9 juta (9,9 jt treatment aligner all in sampai selesai + 2 jt retainer + 1 jt voucher perawatan gigi). Alhamdulillah 😂. Gw pun cukup membayar 7,5 juta aja. Yeyyy. Untuk pembayarannya langsung gw bayar cash, sebenernya ada juga opsi cicil, cuman kata CS-nya sih harganya beda untuk opsi cicil. Gw sendiri berprinsip kalau bisa cash, ya cash aja sekalian wohoho.

Konsultasi Online (18 Juni 2020)

Setelah pembayaran selesai, si Mbak CS langsung mengarahkan gw membuat appointment konsultasi online dengan dokter gigi. Sebenarnya konsultasi onlinenya bisa langsung dilakukan hari esok atau lusa (nggak perlu nunggu lama), cuman berhubung di minggu itu lagi periode ujian akhir semester (UAS) jadilah gw putuskan konsultasi tanggal 18 Juni saat UAS udah berakhir hehehe. Nah konsultasi online ini emang case khusus pas jaman COVID ya, sebelum COVID  menyerang Indonesia, konsultasi dilakukan langsung di klinik RATA. Nah saat post ini di tulis, si klinik RATA sudah memiliki 5 klinik di Jakarta-Tanggerang, serta di beberapa kota besar lainnya. Keren juga ya. Ini pasti investasinya gede banget bisa buka banyak klinik padahal baru buka di Mei 2019.

Oke balik lagi ke topik konsultasi online. Di sesi ini lebih berisi gw yang curhat tentang masalah gigi gw dan ekspektasi ke depannya. Si dokter gigi-nya menjelaskan bahwa kemungkinan akan pakai aligner baik di rahang atas maupun bawah dan perlunya dilakukan slicing untuk memberi ruang gerak gigi nantinya. Selain itu, si dokter gigi juga meminta gw melakukan rontgen cephalometri dan mengirimkan hasilnya via CS. Overall gw puas sih ama sesi konsultasinya, dokternya sabar dan penjelasannya detail, tips buat pasien, banyak-banyaklah tanya pas sesi ini. Proses selanjutnya RATA akan mengirimkan bahan cetakan gigi, nah proses pengirimannya ini gratis asalkan lokasi rumah kalian masih di pulau Jawa. 

Cetak Gigi (20 & 26 Juni)

Tanggal 20 Juni, gw mendapat kiriman paketan dari RATA. Ini hitungannya cepat banget ya, secara posisi gw saat itu ada di Jawa Tengah. Di dalam paketan berisi buku panduan cetak gigi, 2 pasang adonan cetakan untuk rahang atas, 2 pasang adonan cetakan untuk rahang bawah, serta 4 tray pencetak. Gw jujur suka sama packaging dan desain dari kiriman RATA ini, keliatan banget ke-profesionalannya dan keniatannya, mulai dari desain box, desain buku-nya, dan cara membungkus si adonan cetakan dan tray-nya. Good Job! 
rata.id
Kiriman cetakan RATA

Sesuai jadwal, tanggal 26 Juni gw melakukan konsultasi online dengan dokter gigi RATA untuk panduan pemasangan cetakan. Oh ya, pemasangan cetakan via online ini pun hanya case khusus jaman COVID ya, sebelumnya di jaman masih "normal", pencetakan gigi dilakukan di klinik RATA dengan scan 3D yang tentunya lebih canggih dan presisi. Sebelum konsultasi, gw nonton tutorial pemasangan yang dikirim sama CS-nya, gw juga membaca review orang-orang saat pemasangan cetakan RATA ini. Ada beberapa yang cerita bahwa sulit sekali mencetak hanya dengan panduan dokter gigi secara online seperti ini, bahkan beberapa kasus harus dikirim lagi adonan cetakan karena cetakan sebelumnya tidak berhasil. 

Belajar dari pengalaman orang-orang ini, gw yang meragukan diri sendiri pun memutuskan untuk meminta bantuan temen gw yang sedang koas dokter gigi untuk menemani nanti saat konsultasi online. Dan benar saja, saat percobaan pertama dimana gw mencoba melakukan pencetakan sendiri,  adonan cetakan mengeras duluan sehingga cetakannya pun gagal akibat gw-nya yang terlalu lemot saat mencampur adonan putty hahaha. Akhirnya di percobaan ke 2-4, gw pun dibantu full sama temen gw yang dokter gigi ini, mulai dari pembuatan adonan sampai pemasangan tray ke mulut, dan voila, berhasil! Maklum ya, beda tangan orang awam sama tangan dokter gigi 😆. Ini bisa jadi tips buat teman-teman sih yang mau cetak gigi online dan ragu, bisa manfaatkan kenalannya yang dokter gigi hehehe.
rata.id
Hasil cetakan

Setelah di-acc cetakannya oleh dokter gigi, maka selanjutnya gw pun mengirim kembali si cetakan beserta box-nya ke RATA Jakarta untuk kemudian dibuatkan video 3D.

Video Simulasi 3D (16 Juli 2020)

Setelah kurang lebih 20 hari, CS RATA mengirimi gw video simulasi pergerakan gigi secara 3D via wa. Di video ini pun akan dilihatkan view dari depan, samping kanan-kiri, dan view dari "dalam mulut". Nah saat proses ini, kita bisa konsultasi atau tanya atau bahkan protes terkait hasil simulasi videonya ya. CS RATA pun menurut gw lumayan responsif saat kita tanya-tanya. Nah ini dia hasil simulasi 3D-nya (lihat gambar di bawah). Intinya untuk rahang atas diperlukan 10 set aligner sedangkan rahang bawah diperlukan 5 set aligner. 1 aligner sendiri dipakai selama periode 8-10 hari. Jadi kalau dihitung waktunya, rahang atas membutuhkan waktu 3 bulan untuk rata, sedangkan rahang bawah membutuhkan waktu 1,5 bulan. Hmmm cepet juga ya, jadi makin nggak sabar!
rata.id
Hasil simulasi pergerakan gigi 3D

Training Set Aligner (22 Juli 2020)

Di tanggal 22 Juli, gw menerima kiriman dari RATA berupa training set aligner yang berguna untuk mengetahui kesesuaian dengan gigi sebelum nantinya menggunakan full set aligner RATA. Di dalam kiriman ini terdapat 1 pouch RATA, sepasang training set aligner, dan 2 buah flyer RATA. 
rata.id
Kiriman training set aligner RATA

rata.id
Sepasang training set aligner

Disini kita diminta untuk memasang set aligner sesuai tutorial yang diberikan lalu mengirimkan fotonya ke CS via WA. Untuk kasus training set aligner, gw pernah baca pengalaman orang kalau ada beberapa yang tidak pas aligner-nya entah kebesaran atau sebaliknya. Nah kasus ke-tidak-pas-an aligner ini bisa jadi dikarenakan proses pencetakan gigi yang kurang tepat misal bergeser, sehingga aligner yang dibuat pun ikut-ikutan salah. Makanya untuk yang proses treatment-nya dikala covid sehingga mengharuskan cetak gigi mandiri di rumah, harus pastikan benar-benar proses dan hasil cetakannya berhasil, atau bisa contoh pengalaman gw yang minta tolong ke temen dokter gigi saat proses pencetakan. Untuk kasus gw sendiri, alhamdulillahnya training set aligner PAS. Yeyy!
rata.id
Nyobain training set aligner,
kelihatan kayak nggak makai apa-apa kan?

Proses selanjutnya adalah pembuatan full set aligner yang memakan waktu 16-21 hari kerja, setelah itu, perjalanan bersama RATA akan dimulai :"

Rontgen (24 Juli 2020)

Jadi di tanggal 24 Juli gw melakukan rontgen yang seharusnya dilakukan dari awal, tapi berhubung kemarin-kemarin masih jaman COVID (sekarang pun masih) dan satu-satunya penyedia rontgen panoramik di kota gw adalah RS rujukan covid, jadilah harus ditunda dulu sampai akhirnya di 24 Juli ini gw melakukan rontgen panoramik. Singkatnya setelah dirontgen, barulah diketahui di bagian rahang atas terdapat 1 gigi taring impaksi (tidak tumbuh) dengan posisi miring. Duh, pantesan kok gw selama ini nggak punya gigi taring 😐
Hasil Rontgen Panoramik
Setelah konsultasi dengan dokter gigi di RATA, disarankan untuk dicabut si gigi taring itu. Nah karena masalah ini, terpaksa treatment RATA harus ditunda dulu sampai gw selesai melakukan prosedur pengangkatan gigi taring di spesialis bedah mulut. Treatment yang akan diberikan pun otomatis akan berubah strategi pergeserannya disesuaikan dengan kondisi gigi dan rahang gw nantinya. Saran gw buat kalian, mungkin ada baiknya sebelum pakai treatment RATA, ambil tes rontgen panoramik dulu. Terus gimana kelanjutan proses produksi si alignernya? Ya otomatis dihentikan dulu *kata Mbak CS-nya

Konsultasi Pembuatan Video Simulasi yang Baru (6 Agustus & 7 September 2020)

Singkat cerita, di tanggal 6 Agustus gw konsul dengan dokter gigi RATA mendiskusikan apakah mungkin mengganti strategi pergeseran gigi gw tanpa menggeser/mengutak atik posisi si gigi taring impaksi, dan jawabannya adalah mungkin. 

Di tanggal 7 September, gw mendapatkan video simulasinya. Jujur, ini waktunya lama banget ya memakan waktu 1 bulan sendiri dari tanggal konsultasi, padahal video simulasi dijanjikan akan jadi maksimal dalam 10 hari kerja. Gw pun sampai "meneror" CS RATA berkali-kali di ig karena chat gw di wa nggak dibales sama adminnya perihal menanyakan kapan video simulasi gw jadi. 

Ya mungkin ini bisa buat perbaikan di manajemennya RATA ya. Konsumen pasti sebel lah kalau misal chat-nya nggak dibalas sama admin-nya apalagi itu adalah satu-satunya cara berkomunikasi antara konsumen dengan pihak RATA. Singkat cerita, tanggal 7 September dibaleslah chat gw sama pihak RATA sambil meminta maaf dan diberikan video simulasinya. Total dari video simulasi yang baru tersebut gw membutuhkan 9 aligner atas dan 9 aligner bawah. Oke, done!

Miskomunikasi Pihak RATA (8 September 2020)

Entah bagaimana ceritanya. Tiba-tiba sore hari 8 September 2020, gw mendapatkan satu paket aligner RATA. Lah gimana ceritanya, orang baru kemarin gw dapat video simulasi masa tiba-tiba hari ini udah dapat aja aligner? Langsung gw cek isi alignernya yang ternyata terdiri atas 10 aligner atas dan 5 aligner bawah, mirip seperti jumlah aligner video simulasi pertama dimana sudah dibatalkan/diganti. Hmmmmm. Yasudah deh, gw langsung laporan ke CS RATA di whatssap. Awalnya CS RATA kekeuh itu beneran aligner punya gw, gw pun kekeuh kalau itu bukan aligner gw. Ya intinya kurang lebih selama seminggu itu debat, hingga akhirnya mereka meminta maaf dan mengatakan mereka telah mengirim aligner yang salah, dan diminta menunggu aligner yang benar datang. 

Oke disini, kekurangan pihak RATA (lagi) adalah kurang koordinasi antar CS yang megang nomor whatssap-nya, mereka seakan-akan lupa sama chat  antara gw dan CS sebelumnya. Jadinya gw sebagai konsumen harus menjelaskan dari awal atau mereply chat-chat sebelumnya sebagai bukti. Akibat dari kejadian ini, pihak RATA kan jadi rugi ya, mereka mau nggak mau jadi harus produksi 2 kali untuk kasus gw. Meskipun begitu, gw salut sama RATA yang mau bertanggung jawab karena sebelumnya gw sudah khawatir kalau RATA nggak mau produksi aligner lagi kecuali gw bayar biaya tambahan, -meskipun itu salah dari RATA sendiri yang kurang koordinasi.

Set Aligner sampai (8 November 2020)

Akhirnya setelah sekian purnama dan setelah sekian chat menanyakan kapan aligner gw jadi, sampailah si box berisi set aligner. Waktunya lumayan lama antara tanggal video simulasi jadi (7 september) sampai aligner ini dikirim, yaitu kurang lebih 2 bulan, padahal dari pihak RATA sendiri mengatakan set aligner akan jadi dalam kurun waktu 30-45 hari kerja.

Box RATA

Isi box
Gw sendiri suka sama desain box-nya: simple tapi tetap bagus. Bahan box-nya pun tebal, jadi kelihatan nggak murahan. Isi dari box ini antara lain:
  1. Set aligner (bisa full set, bisa juga baru sebagian yang dikirim lalu sisanya dikirim kemudian hari)
  2. Chewy (untuk membantu mengencangkan aligner)
  3. Pouch RATA
  4. Wadah aligner yang sudah dilengkapi dengan kaca di dalamnya
  5. Panduan pemakaian aligner

Slicing dan Konsultasi Pemasangan Aligner di Klinik RATA (10 November 2020)

Nah, sebelum memakai aligner, wajib untuk konsultasi dulu. Singkat cerita gw dijadwalkan untuk slicing dan konsultasi di klinik RATA tanggal 10 November 2020. Kita dibolehkan memilih klinik RATA mana yang mau kita datangi. Gw sendiri milih klinik PURE di Menteng (mitra kliniknya RATA) karena lokasinya paling dekat sama rumah. Sesampai di klinik, kita diberi satu set APD (baju, penutup kepala, penutup kaki) karena memang sedang kondisi PSBB dan mencegah penularan covid. 

Klinik Pure di Menteng
Secara keseluruhan, gw puas sih selama treatment dan konsultasi di klinik ini, pegawai-nya ramah, dokternya pun ramah. Dokternya menjelaskan tiap step yang sedang dia kerjakan di gigi gw, jadi gw ada bayangan dan lebih teredukasi hohoho. Selain slicing, gw juga nambal 2 gigi yang bolong di klinik ini *sekalian. Bisa juga buat teman-teman yang misal mau nebeng scalling pas sesi slicing & konsultasi ini karena toh ini kan klinik gigi 😅, gw sendiri minggu sebelumnya udah scalling jadi ya nggak perlu scalling lagi disini. Di sesi konsultasi, dokternya bener-bener sabar dan informatif waktu ngajarin masang aligner beserta do & dont's-nya. Intinya puas deh ama pelayanan disini.

Slip Treatment RATA
Nah berhubung slicing dan nambal gigi adalah di luar biaya paket aligner RATA, jadinya gw harus membayar treatment tersebut. Total untuk slicing, menambal 2 gigi, dan APD menghabiskan 1.275.000. Weits, banyak banget ya? Nah untungnya gw punya voucher treatment 1.100.000 dari RATA hohoho, akhirnya gw cukup membayar 175.000 aja. Jadi beruntunglah kalian yang pas beli paketan RATA, dapet voucher treatment juga 😁

Pemakaian Set Aligner 1 (10-20 November 2020)

Sebenarnya periode pemasangan aligner untuk tiap setnya adalah 7-10 hari dimana tiap harinya dianjurkan penggunaan selama 22 jam, dan gw sendiri memilih periode 10 hari. Kenapa? Ya karena gw sadar lumayan sering ada kegiatan di luar yang biasanya include kegiatan makan, jadinya kemungkinan besar di hari itu total waktu pemakaian gw kurang dari 22 jam, jadi untuk mengcover hal tersebut gw pakai waktu yang paling maksimalnya yaitu 10 hari. Selain itu, kebetulan gw mulai pakai aligner di tanggal 10 dan biar hitungannya dan "niteni" tanggalnya gampang, gw pakai periode 10 hari, jadi set aligner tinggal diganti di tanggal-tanggal yang kelipatan 10, ex: tanggal 10, 20, 30. Membantu banget buat orang yang mudah lupa macem gw hahaha

Lalu gimana pengalaman pertama kali pakainya? Di hari pertama, gw merasa nggak gimana-gimana pas pakai aligner. Gw sampai mikir "hmm, kata orang-orang pas awal-awal kerasa sakit/ngilu, gw enggak tuh, mungkin pain tolerance-nya tinggi kali ya" #mulaisombong. Oaalaaah pemirsah, rasa  ngilunya baru kerasa di hari kedua *nahlo kualat kan makanya jangan takabur. Rasa sakit/ngilunya ini paling kerasa pas prosesi copot-pasang aligner waktu kita mau makan atau sikat gigi. Justru saat alignernya udah kepasang, nggak kerasa ngilu lagi. Kalau lagi copot/pasang, gw udah parno duluan bayangin rasa sakitnya hahaha, jadinya waktu pun habis cuman buat meyakinkan diri bolak balik klo ini tuh sakit nya cuman beberapa detik aja😌. Selain itu, di 3 hari pertama gw merasakan rasa agak ngilu (tapi tidak mengganggu) saat mengunyah makanan. Akhirnya daripada rempong gitu, gw memutuskan untuk puasa aja sekalian daripada harus menanggung sakit tiap mau makan. Ini bisa juga tips buat kalian yang muslim, daripada males makan, mending sekalian diniatin ibadah puasa aja (puasa ganti ramadhan, sunah senin kamis, sunah daud, sunah ayyamul bidh). Gigi rata, dapat pahala pula *aaamiiin. Nah rasa ngilu ini nggak bertahan lama kok, kurang lebih di hari keempat dan kelima udah jauuuh berkurang rasa ngilunya. Setelah itu, malah udah nggak terasa apa-apa pas pasang copot aligner, bisa bebas pasang copot aligner tanpa parno hohoho.


Update (15 Desember 2020):

Dikarenakan post ini sudah terlalu panjang, maka post kelanjutannya mulai dari pemakaian aligner ke-2 sampai seterusnya bisa dilihat di:

Pengalaman Pakai RATA.ID: Jurnal Perjalanan dan Testimoni (Part 2)



Senin, 25 Mei 2020

Review: The Ordinary Alpha Arbutin 2% + HA dan Niacinamide 10% + Zinc 1%

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Hai semuanya!! Akhirnya bisa nulis lagi beauty review ya. Nah, produk yang akan gw bahas hari ini adalah kombinasi produk The Ordinary yang paling terkenal yaitu Alpha Arbutin 2% + HA dan Niacinamide 10% + Zinc 1%. Dalam review ini, gw nggak akan mereview satu-satu kinerjanya melainkan mereview bagaimana kinerja mereka bila digunakan secara bersamaan. Tanpa lama-lama, langsung aja deh cekidot!

Konsep Brand The Ordinary & Tujuan Pemakaian

Gw salut sih sama konsep brand The Ordinary yang "to the point" dimana mereka langsung menjadikan nama bahan aktif utamanya sebagai nama produk-nya; jadinya kita sebagai konsumen pun langsung tahu kandungan si produk itu apa beserta fungsinya; sedangkan kebanyakan brand lain itu kita harus cek dulu komposisinya untuk tahu kandungan bahan aktif yang dipakai apa saja, misal: Wardah lightening series -> cek ingredients -> "Oh, ternyata lightening agent-nya adalah si licorice extract".

Review The Ordinary
"To The Point"-nya Produk-Produk The Ordinary

Memang sih, ke-to the point-an The Ordinary ini mungkin akan agak menyulitkan buat teman-teman yang baru masuk ke dunia per skincare-an karena memang masih awam dengan nama-nama bahan aktif beserta kegunaannya. Justru menurut gw, di sinilah seninya, kita dipaksa untuk belajar: untuk mencari tahu apa permasalahan dan kebutuhan kulit kita, lalu memutuskan untuk memilih bahan aktif mana yang akan kita pakai. Masih tetap bingung?  Tenang saja guys, The Ordinary sendiri menyediakan panduan mengenai fungsi dan cara penggunaan produk mereka di websitenya, bisa dicek disini. Gw sendiri pun jadi lebih paham dengan dunia per-skincare-an gara-gara si The Ordinary ini. Sejak saat itu, gw pun lebih selektif memperhatikan komposisi tiap produk biar nggak sekedar kemakan iklan.

Harga

Untuk harga sebenarnya bervariasi ya tergantung tempat belinya dimana. Kalau gw sendiri pernah beli di salah satu star seller di Shopee, lalu terakhir gw beli via website Ponny Beaute. Nah Ponny Beaute ini adalah distributor resmi produk The Ordinary di Indonesia. Produk the Ordinary yang dijual disini pun sudah terdaftarkan di BPOM. 

Website Ponny Beaute

Makanya karena hal-hal tersebut, gw sebagai konsumen merasa lebih aman karena produk yang akan didapatkan terjamin keasliannya (-bukan berarti beli di shopee atau olshop lain itu produknya palsu ya, hanya saja kita harus lebih jeli untuk memastikan keaslian produknya). Sayangnya kalau beli di Ponny Beaute, harga produknya akan cenderung lebih mahal dibanding olshop-olshop lainnya. Berikut adalah harga produk jika beli di Ponny Beaute.

The Ordinary Alpha Arbutin 2% + HA Rp 200.000,00
The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% Rp 175.000,00

Kandungan dan Klaim

Untuk produk yang pertama tentunya sudah jelas bahwa kandungan utamanya adalah Alpha Arbutin 2% dan Hyaluronic Acid (HA). Alpha arbutin merupakan bahan aktif yang kegunaannya sebagai agen pencerah. Sesuai dengan kegunaannya, klaimnya menyebutkan bahwa produk ini memiliki fungsi untuk mengurangi penampakan noda hitam dan hiperpigmentasi. Kandungan Alpha Arbutin sebesar 2% tergolong cukup tinggi dibanding produk kecantikan lainnya yang biasanya berada di kisaran 1%. Selanjutnya kandungan bahan yang kedua adalah hyaluronic acid (HA) dimana pihak Deciem (produsen) menyebutkan HA disini berfungsi untuk mengoptimalkan "transportasi" alpha arbutin ke kulit kita. Selain itu, HA juga berfungsi untuk menghidrasi kulit sehingga membuat kulit terlihat lebih kenyal. Komposisi lengkap dari The Ordinary Alpha Arbutin 2% +HA bisa dilihat di gambar di bawah.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Komposisi The Ordinary Alpha Arbutin 2% + HA

Selanjutnya produk kedua, kandungan utamanya adalah Niacinamide 10% dan Zinc 1%. Niacinamide atau vitamin B3 juga merupakan agen pencerah, oleh karena itu klaim produknya pun menyebutkan bahwa produk ini akan membantu menghilangkan kemerah-merahan dan warna kulit tidak merata pada kulit. Sedangkan kandungan zinc berguna untuk mengatur produksi sebum, oleh karenanya zinc pun disinyalir dapat membantu mengurangi produksi jerawat dan memperkecil penampakan pori-pori. Komposisi lengkap dari The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% bisa dilihat di gambar di bawah ya.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Komposisi The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%

Packaging

Ini dia tampilan dari box the Ordinary: bentuknya simple, informatif, dan to the point. Berhubung gw beli si produk The Ordinary-nya di Ponny Beaute, maka di bagian atas packaging terdapat segel dengan keterangan waktu kadaluarsa, cara penggunaan, dan barcode BPOM-nya.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Front-View Box

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Segel

Selanjutnya ini adalah tampilan dari botol The Ordinary yang juga simple, informatif, dan to the point. Bentuknya berupa botol kaca yang berisi 30ml produk, serta dilengkapi dengan pipet di bagian atasnya. Keberadaan pipet ini pun sangat membantu kita untuk mengatur jumlah penggunaan produk yang akan diaplikasikan ke muka.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Botol The Ordinary

Bentuk dan Tekstur

Untuk bentuk produknya, keduanya berupa cairan bening. Ada beberapa orang yang berbagi pengalamannya bahwa produk The Ordinary Niacinamide yang mereka pakai lama kelamaan berubah warna menjadi kekuning-kuningan. Nah untuk kasus gw sendiri, sampai produk di botol habis pun, si cairan produknya masih tetap bening transparan. Gw sendiri nggak tahu ya kenapa ada kasus yang produknya berubah menjadi kekuningan, entah memang produknya "terurai" atau rusak akibat sebab tertentu atau produknya tidak asli, -gw nggak tahu. 

Selanjutnya untuk masalah tekstur, keduanya berupa cairan kental. Tapi kalau misal gw bandingkan, seri Alpha Arbutin lebih kental dibanding si Niacinamide. Jadi klo misal lagi ditetesin ke muka, si Niacinamide ini akan lebih mudah jatuh mengalir ke bawah dibanding si Alpha Arbutin.

Penggunaan & Penyimpanan

Untuk cara penggunaan cukup simple: kita tinggal teteskan beberapa tetes produk menggunakan pipet ke kulit wajah kita atau bagian tubuh yang lain. Gw sendiri memakai sekitar 3 tetes: 1 tetes masing-masing di pipi kanan dan kiri, lalu 1 tetes di dahi; yaudah deh selanjutnya tinggal diratakan ke seluruh wajah. Nah biar aman dan mencegah ketidak-cocok-an, dari pihak produsen sendiri menyarankan untuk melakukan patch testing alias uji coba dulu sebelum diaplikasikan ke kulit wajah. Gimana cara melakukannya? Kalau gw sendiri biasa melakukan patch testing di daerah bawah telinga. Jadi gw tetesin 1 tetes ke kulit di bawah telinga kemudian diamati selama 24 jam apakah ada efek inflamasi atau tidak; kalau tidak berarti kita bisa lanjut memakainya ke kulit wajah. Alasan gw memilih kulit di bagian bawah telinga untuk patch testing adalah: gw beranggapan kulit di daerah situ memiliki karakteristik yang mirip dengan kulit wajah karena posisinya yang dekat sehingga cocoklah jadi lokasi "simulasi", selain itu kalaupun terjadi hal yang tak diinginkan yaitu inflamasi akibat patch testing maka lokasinya tersembunyi jadi nggak kelihatan wehehe (fyi, gw pakai jilbab).

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Panduan Patch Testing dari Deciem
Nah selanjutnya akan muncul pertanyaan: jika 2 produk the ordinary ini digunakan secara bersamaan, maka manakah produk yang digunakan terlebih dahulu? Atau bisa dicampur bersama-sama? Lalu, untuk pemakaianya apakah boleh pagi dan malam? Nah, dari pihak Deciem sendiri menuliskan di websitenya bahwa baik seri Niacinamide maupun Alpha Arbutin dapat digunakan di pagi maupun malam hari, dengan catatan tidak dicampur dengan produk skincare yang mengandung vitamin C (-karena niacinamide dapat merusak kinerja vitamin C, jadinya percuma juga makai produknya). Untuk penggunaannya, berdasarkan info-info yang gw dapat (-salah satunya dari seorang beauty vlogger yang berprofesi sebagai dokter yaitu Danang Wisnuwardhana), penggunaan diawali dulu dengan Alpha Arbutin, lalu setelah dipastikan produknya telah meresap sempurna ke kulit, maka kita bisa lanjutkan dengan si niacinamide.

Untuk proses penyimpanan, tidak ada instruksi khusus dari pihak Deciem; tapi gw sendiri menyimpan produk-produk tersebut di daerah yang tidak terkena sinar matahari langsung karena gw takut paparan sinar matahari bisa merusak atau mengurangi fungsionalitas produknya (-ini gw belum bisa konfirmasi ya, kapan-kapan gw update kalau udah tahu kebenarannya)

Review Penggunaan

Oke kita sekarang ke intinya nih: bagaimana pengalaman gw selama memakai kombinasi produk The Ordinary ini? Apakah memuaskan?

Pertama gw mau cerita tentang alasan gw mencoba kombinasi duo produk The Ordinary ini yaitu dikarenakan muka gw tiba-tiba ditumbuhi jerawat gede-gede secara serentak. Posisinya saat itu gw abis sakit gejala typhus, dan entah kenapa setelah selesai konsumsi obatnya malah tumbuh banyak jerawat di muka padahal sebelumnya baik-baik aja. Nggak cuman jerawat, muka pun tiba-tiba berubah jadi kusam. Udah berjerawat, kusam lagi. Duh! Kejadian itu pun terulang lagi sekitar setengah tahun kemudian dimana gw kembali lagi terserang typhus. Sepulang opname dari rumah sakit, kembali tumbuh jerawat gede-gede secara serentak di muka. Gw nggak tahu ya apakah ini memang kebetulan aja atau ada hubungannya dengan sakit atau obat typhus yang gw konsumsi. Gw pernah nanya ini ke dokter, dan dokternya jawab (-entah bercanda atau serius) kalau itu mungkin penyebabnya gw yang jarang mandi selama sakit -,-. Dok, plis deh :"

Selama 2 insiden itu, gw memutuskan untuk menggunakan kombinasi 2 produk The Ordinary ini. Pikiran gw waktu itu sih: kandungan Zinc bisa membantu mengurangi jerawat gw yang lagi mateng-matengnya plus membantu mengecilkan pori, lalu sisa bekas jerawatnya bisa dihempas pakai kandungan niacinamide dan alpha arbutin-nya. Oh ya, saat menggunakan ini gw stop sama sekali penggunaan skincare lain yang sama-sama berbentuk cair (toner/essence, serum), jadi murni cuman pakai 2 serum ini aja. Kenapa? Ya karena gw kurang nyaman melayer-layer skincare terlalu banyak ke kulit, rasanya terlalu over -kasian kulitnya (gw penganut paham skincare minimalis). Selain itu, gw juga pingin mengamati secara jelas bagaimana efek kombinasi 2 produk ini terhadap kulit.

Hasilnya? Sesuai ekspektasi guys!! Jadi gw menggunakan kombinasi kedua produk itu selama 1,5 bulan (Alpha arbutinnya habis, sedangkan Niacinamide masih sisa sedikit) dan hasilnya: jerawat gw mengempes, bekas jerawat lama-kelamaan memudar, serta wajah yang makin kinclong. Duh masih inget deh betapa senengnya gw waktu itu! Gw nggak pernah berekspektasi kalau hasil yang gw mau bisa didapat dalam waktu yang singkat yaitu 1,5 bulan. 

Ini dia foto dari minggu 1 ke minggu 3 (kiri ke kanan). Foto dilakukan di outdoor dengan matahari sebagai sumber cahaya. (Foto paling kiri sebenernya tidak "semuram" itu ya, mungkin saat itu kondisi sedang mendung jadi hasil fotonya agak lebih gelap). Oh ya foto yang tengah ini harusnya si jerawat lebih kelihatan jelas, tapi sayangnya saat itu gw lagi makai acne patch. Fyi, jerawat yang gw alami berupa jerawat tanpa mata atau blind pimple dan cystic acne.

Jerawat ooo jerawat (Kiri ke kanan: perjalanan penampakan jerawat dari minggu ke 1 ke 3)

Bisa dilihat kan dalam waktu singkat yaitu 3 minggu, jerawat yang ada di muka gw lama-kelamaan menghilang, bekasnya pun lama-lama ikut memudar, serta kulit gw semakin keliatan glowingnya *alhamdulillah. Namun, untuk masalah pori-pori, gw g melihat perubahan yang signifikan -pori-pori gw mah tetap segitu-gitu aja ukurannya. 

Tadi kan foto penggunaan selama 3 minggu, lalu bagimana foto muka setelah selesai penggunaan produk? Nah ini dia fotonya (bawah) diambil tanpa menggunakan filter sama sekali. Foto yang kiri adalah foto indoor dengan lampu sebagai sumber cahaya sedangkan foto yang kanan adalah foto outdoor dengan matahari sebagai sumber cahaya.

Foto After (Kiri-indoor, kanan-oudoor)

Kesimpulannya, gw puas dengan kinerja kombinasi duo produk the Ordinary ini. Klaimnya terbukti, nggak cuman omdo aka omong doang. Itu kan tadi kelebihan, apakah ada kekurangannya? Yes ada, yaitu produk ini membuat kulit gw jadi kering. Oleh karenanya gw berhenti memakai kombinasi 2 produk ini di 1,5 bulan pemakaian, tidak hanya karena muka yang sudah "sembuh" melainkan juga gw nggak mau kulit muka jadi semakin kering. Yap, akhirnya setelah itu gw kembali lagi ke skincare daily gw yang biasanya yaitu Laneige Clear C Advance Effector dan Laneige Clear C Peeling Serum. Kekurangan lainnya terletak pada produk The Ordinary Niacinamide, entah kenapa setelah gw memakai produknya akan terdapat residu putih di muka gw. Hal ini sangat mengganggu ya kalau misal kita pakai produknya di pagi hari lalu kita beraktivitas dan bertemu orang-orang, maka akan nampak ada residu putih seperti daki #plakk di muka kita. Ini pun menyulitkan juga kalau misal kita akan bermake up setelah menggunakan The Ordinary Niacinamide karena base make up akan susah nempel atau ikut mengelupas gara-gara si residu putih tersebut. Dari sini gw akali dengan memakai si Niacinamide di pagi hari hanya apabila di hari itu nggak ada aktivitas di luar. 

Repurchase?

Yes, definitely
Klaim terbukti, harga pun bersahabat, kurang apalagi coba? Oh ya, repurchase yang gw maksud disini adalah apabila memang di masa depan muncul kasus jerawat gede lagi (semoga nggak usah aja deh. Aaaamiin). Kenapa gitu? Gw disini memposisikan The Ordinary sebagai "obat" dalam skincare regime gw, jadi bukan sebagai daily skincare; dikarenakan hal yang gw ungkapkan sebelumnya yaitu skincare ini menyebabkan kulit gw jadi kering, bahkan pernah saking keringnya ada beberapa bagian yang mengelupas.

Jadilah muncul dilema: gw senang sama keampuhannya, tapi disisi lain kalau dipakai lama-lama malah bikin kulit kering (padahal aslinya berminyak). Itulah kenapa gw jadikan kedua produk tersebut ebagai "obat" alias special treatment (-dari periode Desember 2018 - Mei 2020, gw udah beli Alpha Arbutin 2x dan Niacinamide 3x). Saat permasalahan jerawat udah kelar, gw ya balik lagi ke skincare regime gw yang biasanya yaitu Laneige Clear C Advance Effector dan Laneige Clear C Peeling Serum.

Cuap Cuap Terakhir

Nah itu dia review gw yang panjang kali lebar tentang produk The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide, semoga bermanfaat ya :)
Gw juga mau bilang kalau review ini hanya berdasar pengalaman di kulit gw, bisa jadi akan memiliki pengalaman yang berbeda di kulit yang berbeda pula.
Terakhir, sampai jumpa di post beauty review lainnya!!
Ciao bella!
This entry was posted in

Sabtu, 09 Mei 2020

Jalan-Jalan ke Mount Takao: Menyepi Sejenak dari Hiruk-pikuk Kota Tokyo

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh


Haloo semuanya!!!! Kali ini gw kembali lagi dengan post berbagi pengalaman gw saat travelling. Tempat wisata yang akan gw ceritakan ada di perfektur Tokyo. Hayoo, kalau kalian denger kata "Tokyo", kira-kira objek wisata apa yang muncul di benak kalian? Shibuya? Asakusa? Tokyo Skytree? Ueno? Tokyo tower?. Aiiiss itu mah udah mainstream, kali ini gw akan mengajak kalian menjelajah ke objek wisata di Tokyo yang jarang disadari dan dikunjungi oleh turis terutama turis dari Indonesia. Nama tempatnya tidak lain dan tidak bukan adalah "Mount Takao", alias Gunung Takao. What? Di Tokyo ada gunung? Yes, ada wankawan. Letaknya memang beneran pinggiran Tokyo sih, meskipun begitu tempat ini layak buat kalian kunjungi. 

Namanya sih memang Gunung Takao ya, tapi jangan berkekspektasi bahwa gunung ini seperti Gunung Semeru atau gunung-gunung lain di Indonesia dengan ketinggian sekitar ribuan meter. Gunung Takao hanya memiliki ketinggian sekitar 600m di atas permukaan laut. Ha? Pendek banget, itu mah rumah gw juga di ketinggian segitu kaleee. Eits, tapi kabar baiknya dengan ukuran gunung yang tergolong "mini" ini berarti kita bisa dengan mudah mendakinya dan tidak perlu persiapan khusus kalau mau mendaki. Seru banget kan?

Lokasi

Untuk menuju Mount Takao cukup diperlukan waktu sekitar 50 menit dari stasiun Shinjuku  melalui line Keio menuju stasiun Takaosangushi. Sebentar banget kan? Kurang lebih mirip-mirip lah waktunya dengan naik KRL dari stasiun Depok ke stasiun Manggarai hehehe. 

Mount Takao
Penampakan Stasiun Takaoganouchi

Sesampai di stasiun, kita akan disambut oleh warung-warung yang menjual berbagai macam aksesoris dan makanan, jadi bisa banget buat kalian yang lupa bawa bekal bisa mampir dan beli makan disini (-tentunya buat yang muslim bisa lebih berhati-hati lagi untuk memilih makanan yang benar-benar halal dan thayyib).

Untuk pendakian ke atas gunung kita diberikan 3 pilihan transportasi:
  1. Cable car
    Bentuknya seperti kereta atau tram gitu ya. Nah si cable car ini bisa mengantar kita ke atas kurang lebih setengah perjalanan. Untuk biaya yang dikenakan yaitu sekitar 600 yen (ini harga tahun 2018 ya, nggak tahu apakah sekarang sudah naik apa belum)
  2. Chair Lift
    Bentuknya mirip seperti chair lift yang biasa kita temui saat kita mau ke puncak bukit untuk sky gitu. Sama dengan cable car, chair lift ini hanya mengantar kita sampai setengah perjalanan saja. Harga yang dikenakan oleh pengelolanya terbilang cukup murah yaitu 300 yen.
  3. Mendaki menggunakan kaki sendiri
    Ya ini adalah opsi bagi kalian yang tubuhnya fit, rajin olahraga; maka bisa memilih opsi ini.
Gw sendiri memilih opsi naik chair lift, selain murah harganya, juga dengan naik chair lift kita bisa sambil melihat pemandangan pepohonan sekitar. Ahayyy.

Mount Takao
Guide Map Takao
Untuk menuju titik puncak pendakian, disediakan berbagai macam opsi jalur dimana setiap jalurnya terdapat objek wisata (bisa sambil mendaki, sambil mampir-mampir gitu). Lebih jelasnya kalian bisa lihat di gambar peta di atas. 

Naik Chair Lift

Untuk naik chair lift, gw dan teman-teman harus menuju stasiun chair lift-nya dulu. Untuk menuju stasiun, kita diarahkan melalui jalan-jalan pedesaan yang indah banget, macam lagi di film-film gitu *mulainorak 😅.  Meskipun harus menempuh jarak sekian ratus meter, jadi tidak berasa karena sambil lihat pemandangan arsitektur pedesaan khas Jepang.

Mount Takao
Desa banget uyy
Mount Takao
Menikmati jalanan pedesaan
Saat sudah mencapai stasiun pun, kita kembali disambut dengan warung-warung di pinggir jalan yang menjajakan makanan dan berbagai macam cinderamata. Yang hobi belanja pasti bakal puas deh!

Mount Takao
Warung di depan stasiun chair lift

Mount Takao
Stasiun Chair Lift
Selanjutnya gw dan teman gw naiklah ke chair lift. Nah si chair lift ini hanya bisa dinaiki maksimum 2 orang untuk 1 kursi. Jadi ya kalau ada temannya bisa duduk berdua, atau yang datangnya sendirian ya bisa juga duduk sendirian di chairlift. Oh ya si chair lift tersedia rute bolak-balik ya, ada yang arah naik ke atas, juga sebaliknya disediakan rute turun ke bawah.

Mount Takao
Mulai bergerak mendaki

Mount Takao
Di bawah ada jaring-jaring
Gw mengunjungi Gunung Takao pada awal bulan Maret yang berarti sedang peralihan dari musim dingin ke musim semi, jadi ya mohon maklum kalau pemandangan di sekitar hanya berupa pohon-pohon dengan dahan gundul atau daun-daun kering. Gw sendiri lebih menyarankan kalau kalian ingin berkunjung kesini adalah saat musim semi atau musim gugur karena dijamin pemandangannya bakal bagus banget! Bayangin aja deh kita naik chair lift di samping kanan kiri ada deretan pepohonan berwarna merah-kuning-coklat khas musim gugur. Indah sekali! Atau di kala musim semi, menaiki setapak demi setapak jalan dengan sesekali dijatuhi beberapa kuntum sakura, uulaalaa.

Mount Takao
Mount Takao saat musim gugur

Mendaki di Sisa Pendakian

Sebagaimana gw bilang sebelumnya kalau naik chair lift ini menghemat setengah perjalanan, sisanya? Ya jalan kaki. Waduh, kalau tersesat gimana? Nah tenang aja guys, bisa dikatakan hampir di setiap sudut tempat akan kita temui banyak papan penunjuk jalan. Kita pun bisa membekali diri dengan peta Gunung Takao yang kita download dari internet.

Mount Takao
Panduan Jalur Pendakian dan objek wisata di sekitar Mount Takao

Untuk mencapai puncak Gunung Takao terdapat beberapa jalur pendakian (trail), dan di setiap jalur kita bisa menemui spot menarik, seperti temple, jembatan, taman monyet, air terjun, dan lain-lain. Berhubung gw sama teman-teman kemaruk pingin menjajal semua trail biar bisa menjelajahi semua objek wisata, maka kita memutuskan untuk mencoba semua trail ~mumpung masih muda dan kuat. "Awalnya". Kemudian semua berubah setelah gw dan teman-teman kelelahan dan kaki pegal-pegal padahal baru menjajal 3 trail hahaha. Udah nggak minat deh nyobain semua trail, rasanya saat itu pingin pulang aja terus ngolesin balsem geliga atau koyo cabe ke kaki.

Nah ini dia beberapa foto yang gw ambil selama perjalanan mendaki. Jalanan pendakian ada yang berupa jalanan tanah dan ada pula yang berupa jalanan cor. Saran gw adalah: pakailah sepatu olahraga semacam sepatu lari yang alasnya bergerigi. Gw saat itu salah pakai sepatu, gw pakai sepatu yang alasnya rata jadilah bahaya kalau lagi naik jalan yang curam.

Mount Takao
Papan penunjuk jalan

Mount Takao
Jalan setapak tanah

Mount Takao
Yakuo-In Temple di Trail 1

Mount Takao
Suspension Bridge di Trail 4

Oh ya, saat berkunjung ke Mount Takao, gw sarankan untuk bawa bekal ya, soalnya gw jamin kalian bakal kelaparan akibat kehabisan tenaga wehehe. Sebenarnya di atas gunung pun ada beberapa spot orang jualan, meskipun begitu yang dijual kebanyakan cemilan, kebanyakan cemilan, makanan agak berat yang dijual pun hanya sejenis sukiyaki itupun nggak ada nasinya :" (*Kebiasaan orang Indo, nggak pakai nasi, nggak kenyang). Jadi jangan berekspektasi kayak pas naik gunung di Indo dimana kita bisa nemu abang-abang atau mbak-mbak penjual indomie, pecel, bakwan goreng panas, soto ayam, atau kopi panas di perjalanan. 

Mount Takao
Stand penjual

Mount Takao
Istirahat sejenak sambil menyantap sukiyaki panas 500-an yen

Penurunan

Oke setelah puas menjelajah gunung Takao dan kaki sudah tidak kuat rasanya untuk diajak mendaki -saking lelahnya bahkan sampai lupa mengambil foto saat sudah mencapai puncak gunung takao :"), maka diputuskan untuk turun saja. Nah untuk turun ini juga ada beberapa opsi sebagaimana saat mendaki tadi, antara kita ingin naik cable car atau chair lift; atau ya jalan kaki saja. Kami pun memilih untuk jalan kaki karena mikir pasti nggak capek, toh jalanannya turun kan? *asumsi awal. Ternyata o ternyataaa, jalanan turunannya curam kali permirsahh!!! Ada beberapa jalan yang sudut kemiringannya hampir 45 derajat, jadi intinya sama aja: butuh tenaga untuk menopang berat tubuh agar tetap seimbang saat turun dan tidak jatuh bergelindingan. Padahal jalan-jalan tersebut sudah menggunakan prinsip "pesawat sederhana" -pelajaran fisika jaman SMP, yaitu dibuat miring dan berkelok-kelok untuk meminimalisir kerja yang dilakukan, tapi yah tetap melelahkan juga*ngeluh mulu XD. Nggak bisa bayangin kalau pas berangkat tadi milih jalan kaki ketimbang chair lift hahaha. Lain kali, mungkin gw akan berkunjung kesini lagi tapi dengan kondisi tubuh yang lebih fit jadi bisa jalan kaki dari titik awal pendakian sampai puncak. Aaaamiin

Pesawat sederhana

Syukurnya, jalanan turun ini berupa cor atau aspal jadi setidaknya tidak berbahaya kalau sedang hujan, meskipun begitu nggak memungkiri juga dengan jalanan aspal yang keras itu akan membuat tekanan kaki ke jalan semakin sakit karena tahanan yang kuat dari si aspal, seperti yang dipaparkan oleh hukum 3 Newton (duh, kesambet apa gw jadi ngomongin fisika). Nah ini dia gambaran jalan turunnya.

Mount Takao
Turuuuuuuuuuun

Mount Takao
Curam

Mount Takao
Garis Finish, Yeyyy

Alhamdulillah, akhirnya setelah menempuh perjalanan turun selama kurang lebih 45 menit, akhirnya sampailah gw dan teman-teman di garis finish. Sebenarnya di bagian lereng ini terdapat beberapa macam objek wisata seperti kuil atau museum, namun berhubung saat itu gw udah lapar (lagi) dan ngidam makan spaghetti tinta cumi-nya Pizzeria di Koganei, gw memutuskan nggak mampir ke objek wisata tersebut dan langsung cabut pulang wehehehe.

Mount Takao
Menyusuri jalan pedesaan setelah melewati garis finish
Mount Takao
Museum di lereng gunung

Cuap Cuap Terakhir

Nah itu dia pengalaman gw ke Mount Takao, semoga bisa membantu teman-teman yang sedang merencanakan liburan ke Tokyo.

Sampai jumpa!!!





Ditulis dikala seharusnya mengerjakan revisi proposal penelitian,
namun memilih untuk kabur sejenak dan menulis kenangan saja