Jumat, 04 September 2020

Review Scarlett Whitening : Merelaksasikan Diri dengan Keharuman Rangkaian Body Care Scarlett Whitening

 Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh


Halo Guys! Kembali lagi dengan post tentang beauty review!

Telah dibuktikan secara scientific bahwa "bau-bau"-an dapat memengaruhi mood atau bahkan performa kerja seseorang [1]. Saat seseorang mencium bau yang menyenangkan, hal tersebut bisa menimbulkan efek pada mood seperti relaksasi, ketenangan, bahkan munculnya semangat diri untuk lebih produktif dalam bekerja [2]. Dari sinilah, nggak salah rasanya kalau gw pun terobsesi sama wangi-wangian karena selain memang mencium wewangian itu menyenangkan, juga bisa menaikkan mood. Salah satunya dengan menggunakan rangkaian body care yang wangi. Yes, Wangi! Bayangin aja, setelah seharian penat dengan segala macam tugas kuliah atau kerjaan, atau bahkan habis diomelin dosen atau rekan kerja; tentunya merelaksasikan diri dengan mandi dan guyuran wewangian adalah hal yang tepat.

Review Scarlett Whitening
Nyaman 😇

Setelah cari tahu kesana kemari, akhirnya dapetlah gw rekomendasi rangkaian body care yang wangi yaitu Scarlett Whitening. Wah, cocok nih! 

Kemudian, setelah gw kepo-kepo, taulah gw kalau produk ini milik salah seseorang artis/selebgram terkenal yaitu Felicya Angelista. Bahan aktif yang dijadikan highlight pada rangkaian produk Scarlett Whitening adalah gluthatione dan vitamin E, yang berfungsi untuk mencerahkan dan melembabkan kulit. Hmm makin tergoda dah tuh, ternyata selain wangi ada fungsi mencerahkan dan melembabkannya juga. Cocok deh buat gw yang emang dasarnya punya tipikal kulit yang kering plus belang akibat kalau naik motor males pakai sarung tangan #plakk. Satu informasi lagi bahwa ternyata produk Scarlett Whitening ini sudah terdaftar di BPOM teman-teman, jadi kita sebagai konsumen pun lebih merasa aman. Oke, dari semua itu, semakin yakinlah gw untuk mencoba rangkaian body care dari Scarlett Whitening. Tanpa lama-lama lagi, berikut adalah review dan pengalaman gw saat memakai rangkaian body care Scarlett Whitening!


Harga

Pertama kita bahas harga dulu. Produk Scarlett ini dijual dengan 2 harga, ada harga satuan dimana setiap produk body care-nya bernilai Rp 75.000,00; ada juga harga "paket hemat" dimana saat kita memesan 5 produk (varian apapun itu) maka cukup membayar Rp 300.000,00. Nah, khusus untuk pemesanan "paket hemat" ini, pembeli akan mendapatkan box exclusive dan free gift. Pembelian bisa dilakukan di Instagram OA Scarlet Whitening atau di toko shopee-nya

Punya gw sendiri adalah yang "paket hemat", jadi gw pun mendapatkan si exclusive box-nya. Gw suka sih sama desain box-nya, kayak sesuai gitu sama konsep produknya scarlett whitening dimana menggunakan inspirasi wewangiannya dari tumbuh-tumbuhan atau bunga-bunga hohoho. Oh ya, box yang cantik ini pun bisa banget kalau kalian ingin pakai lagi untuk keperluan lain.

Review Scarlett Whitening
Exclusive Box Scarlett Whitening

Buat kalian yang memesan paket hemat, nggak perlu khawatir apakah si box-nya aman atau tidak saat proses pengiriman. Box-nya si scarlett ini terbuat dari bahan kerdus/karton yang tebal sehingga tidak mudah peyot, selain itu produk di dalamnya pun dibungkus dengan bubble wrap untuk menambah keamanan.

Review Scarlett Whitening
Packing dengan Bubble Wrap yang tentunya aman
Review Scarlett Whitening
Foto produk saat pertama kali sampai



Body Scrub

Produk pertama yang akan gw review adalah si body scrub-nya. Untuk produk body scrub terdapat 2 macam varian yaitu romansa dan charming. Kebetulan yang gw punya adalah varian romansa. 
  • Packaging
Review Scarlett Whitening
Body Scrub Romansa
Packagingnya berupa jar berbahan plastik, dimana saat kita pertama kali buka tutup jar-nya akan terdapat seal alias segel dari aluminium foil. Overall, gw suka banget sama desain packaging-nya, kombinasi putih dan pink dengan ilustrasi bunga-bunga, feminin banget.
  • Tekstur dan Wangi
Tekstur dari body scrub ini lumayan thick dan tentunya terdapat butiran scrub di dalamnya. Warna produknya adalah putih, demikian juga scrubnya pun berwarna putih. 

Review Scarlett Whitening
Tekstur Body Scrub
Lalu untuk wanginya: beneran wangi banget guys! Kalau didefinisikan, wanginya itu semacam wangi bunga-bungaan, ya sesuai lah sama desain packagingnya.
  • Cara dan Pengalaman Pemakaian
Untuk cara pemakaian tentunya sebagaimana pemakaian body scrub pada umumnya ya. Jadi kita pakai saat mandi sambil diberi sedikit air, untuk kemudian dioleskan ke seluruh tubuh. Bisa juga difokuskan ke daerah-daerah yang memang ingin dicerahkan atau dirontokkan daki-dakinya dengan scrub ini 😆 seperti di bagian lipatan siku, lutut, atau lipatan lainnya yang memang biasanya berwarna lebih gelap. Setelah dioleskan dan digosokkan dengan merata, biasanya gw sendiri tunggu sekitar 1 menit dengan tujuan agar "sari-sari"nya alias bahan aktif produknya itu meresap ke dalam kulit sehingga bisa bekerja maksimal, baru deh setelah itu dibilas. Oh ya, untuk penggunaan body scrub ini jangan digunakan tiap hari ya, cukup 1-2x dalam seminggu. Secara keseluruhan, gw puas sama produk si body scrub ini.



Shower Scrub

Selanjutnya adalah produk shower scrub. Berbeda dengan body scrub, yang memang penggunaanya seminggu cukup 1-2x, maka produk shower scrub ini dapat digunakan setiap hari dan berfungsi seperti sabun mandi. Isi produknya adalah 300 mL, jadi termasuk banyak ya isinya. Kalau dipakai sampai habis, akan memakan waktu antara 2-3 bulan tergantung pemakaian. Untuk produk shower crub, terdapat 3 varian yaitu pomegranate (ungu), cucumber (biru muda), dan mango (oranye). Kebetulan gw punya semua variannya yeyy. Jadi langsung aja baca reviewnya kuyy 👉
  • Packaging
Packagingnya berupa botol transparan dengan tutup berwarna putih yang berbentuk flip top. Gw suka dengan packaging botolnya yang transparan karena bisa langsung terlihat isi produk di dalamnya, kita pun tak perlu mengira-ngira tinggal sisa seberapa produk kita karena pasti akan terlihat dengan botol yang transparan tadi. 

Review Scarlett Whitening
Packaging Shower Scrub
Lalu, untuk bagian tutup yang berbentuk flip top dan ukuran botolnya yang pas digenggaman tangan, tentunya akan memudahkan kita saat mengeluarkan produk. Ukuran lubang di bagian tutupnya pun "pas", membantu kita untuk mengatur seberapa banyak produk yang ingin kita keluarkan. Secara keseluruhan, gw suka dan puas sama packaging produk untuk produk shower scrub ini.
  • Tekstur, Warna, dan Wangi
Tekstur dari shower scrub ini adalah berbentuk gel dengan buliran scrub yang halus/kenyal berwarna biru tua dan oranye. Saat si shower scrub ini terkena air, maka akan berbusa dengan sendirinya sehingga bisa kita gunakan sebagai sabun mandi pada umumnya. Untuk warnanya menyesuaikan dengan varian yang ada, ungu untuk pomegranate, biru muda untuk cucumber, dan oranye untuk mango. 

Review Scarlett Whitening
Variasi Shower Scrub

Review Scarlett Whitening
Butiran Scrub Warna Warni

Lalu bagaimana dengan wanginya? Sekali lagi, wanginya enak semuaaaaa huhuhu. Jadi kalau disuruh milih, gw akan bingung pilih yang mana, setiap varian punya karakteristik wangi tersendiri *untung punya semua variannya 😆. Kalau dibayangkan sebagai seorang perempuan, mango itu seperti seorang remaja perempuan yang energik, sporty, dan fresh. Lalu cucumber itu adalah seorang gadis kecil yang ramah, baik hati, dan suka berkebun. Kemudian untuk pomegranate itu seperti seorang wanita dewasa yang anggun dan elegan. Nah lho, bingung nggak baca deskripsi gw? Yaudalah daripada penasaran kayak apa wanginya, mending langsung dibeli dan dicoba aja hahaha.
  • Cara dan Pengalaman Pemakaian
Cara pakai shower scrub ini sama seperti menggunakan sabun mandi pada umumnya, bedanya gw nggak langsung membilas produknya setelah selesai meratakan ke seluruh tubuh, melainkan gw tunggu dulu sekitar 1-2 menit biar memperpanjang waktu kontak antara si produk dengan kulit kita, tujuannya biar apa? Agar si bahan aktif glutathione dan vitamin E itu bisa meresap ke dalam kulit gw, kan nggak lucu ya kalau si glutathione tadi baru aja nempel di kulit kita, eh langsung dibilas dengan air, ya nggak masook.

Body Lotion

Produk rangkaian body care scarlett whitening yang terakhir adalah body lotion. Terdapat 2 varian untuk produk body lotion ini yaitu romansa (putih) dan charming (ungu), dan kebetulan gw punya keduanya hohoho. Isi produk dari body lotion ini sebanyak 300 mL. 
  • Packaging
Packaging dari body lotion scarlett whitening berupa botol plastik transparan dan tutup berupa pump. Gw suka banget dengan tutupnya yang berupa pump ini, karena menurut gw lebih memudahkan pengambilan produk dibanding bentuk tutuk yang lainnya. Jumlah produk yang dikeluarkan dalam sekali pump pun "pas" ya, tidak terlalu sedikit atau terlalu banyak, pokoknya "pas" deh.
 
Review Scarlett Whitening
Packaging Body Lotion

Salah satu pertimbangan orang yang biasanya membuat kurang suka bentuk tutup pump adalah takut "terpencet" secara tidak sengaja saat dibawa atau dimasukkan dalam tas. Kebanyakan packaging produk ber-pump yang ada di Indonesia jika kita ingin menguncinya, maka pump harus ditekan sampai "pol" baru deh kelock. Gw sendiri sih merasa mekanisme itu ribet dan ujung-ujungnya akan banyak produk yang berceceran saat kita harus menekan pump-nya sampai ke-lock. Nah, untungnya produk scarlett whitening ini menawarkan solusi yang lain yaitu adanya fitur "lock" dengan cara memberikan sekat ke bagian pump-nya sehingga dapat menahan pump-nya turun ke bawah. Jauh lebih praktis! Naisss lah buat tim product design-nya scarlett 👍
  • Tekstur, Warna, & Wangi
Untuk tekstur, produk berupa lotion yang tingkat viskositas alias kekentalannya itu di tengah-tengah. Kemudian untuk warna, varian romansa berupa lotion berwarna putih, sedangkan varian charming berupa lotion berwarna ungu muda.

Review Scarlett Whitening
Charming (Kiri), Romansa (Kanan)

Lalu bagaimana wanginya? Romansa sendiri wanginya sama dengan varian romansa body scrub yang sebelumnya sudah gw bahas, yaitu berupa wangi bunga-bunga-an. Sedangkan varian charming jika dideskripsikan berupa wangi yang manis dan lembut. Lebih enak wangi yang mana? Semuanya enak, tergantung selera masing-masing apakah suka yang bunga atau yang manis.
  • Cara dan Pengalaman Pemakaian
Cara pemakaiannya seperti lotion pada umumnya. Pengalaman gw pakai ini sih gw puas ya, gw suka dengan wanginya yang enak dan bertahan lama hingga berjam-jam setelahnya. Lotionnya pun cukup memberikan kelembaban ke kulit gw yang kering ini. Oh ya, sebagaimana gw bilang di awal bahwa salah satu klaim produk scarlett adalah mencerahkan karena kandungan glutathione-nya. Namun, khusus untuk produk body lotion ini, terdapat tambahan mekanisme "mencerahkan" yaitu produk ini memiliki fungsi seperti tone up cream. Jadi sesaat setelah kita menggunakan produk body lotion scarlett whitening maka kulitnya akan slightly terlihat lebih cerah dibanding sebelumnya.

Review Scarlett Whitening
Efek Tone Up setelah pemakaian body lotion, Before (Kiri) After (Kanan)



Sekilas tentang Glutathione si Agen Pencerah

Salah satu bahan aktif yang dihighlight dalam semua rangkaian body care Scarlett Whitening ini adalah glutathione. Apa sih glutathione itu? Lalu apakah benar glutathione ini bisa mencerahkan kulit? Glutathione sendiri merupakan antioksidan alami yang terdapat dalam tubuh yang berfungsi untuk mencegah terbentuknya radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh [3]. Jika kita ingin menemukan di alam, maka glutathione ini bisa ditemukan di sayur-sayuran, kacang, jeruk, tomat, dan buah-buahan. Ya jadi disini bisa paham kan bagaimana korelasi antara makan sayur dan buah dengan kulit yang bagus?

Lalu bagaimana fungsi mencerahkannya? Terdapat beberapa macam mekanisme yang diusulkan tentang bagaimana glutathione mencerahkan kulit, namun yang paling dikuatkan adalah bahwa glutathione menginhibisi/menghambat enzim tirosinase yang berperan dalam terbentuknya melanin atau pigmen gelap kulit [4]. Nah kuncinya disini, berarti glutathione hanya bisa membantu mencerahkan dan meratakan kulit ke hingga ke tingkat tercerah kulit saja sesuai genetik. 
Review Scarlett Whitening
Mekanisme Inhibisi Tirosinase oleh Glutathione

Glutathione sendiri dalam produk kecantikan biasa dalam bentuk sediaan oral, topikal, atau suntik lewat pembuluh darah. Nah, scarlett whitening yang berupa body lotion, shower scrub, dan body scrub maka masuk ke kategori topikal (oles). Lalu bagaimana efektivitas glutathione dalam produk topikal? Berdasar penelitian, terbukti terdapat perubahan yang signifikan pada kecerahan kulit saat menggunakan glutathione secara topikal secara konsisten pada periode waktu tertentu [3]. Jadi, kalau misal kalian ingin efek mencerahkan dari scarlett whitening itu nyata adanya, maka kuncinya kita harus sabar dan konsisten dalam penggunaan. Saran gw yang lainnya, khusus untuk produk mandi-nya, maka jangan buru-buru membilas kulit, didiamkan saja sekitar 1 menit sehingga bisa memperpanjang waktu kontak antara produk dengan kulit kita.

Cuap Cuap Terakhir

Itu dia review panjang kali lebar gw tentang rangkaian body care scarlett whitening. Secara keseluruhan gw merekomendasikan produk ini buat kamu-kamu yang suka dengan produk body care yang wangi namun tetap memiliki fungsi lain yaitu mencerahkan dan melembabkan kulit. Review ini adalah berdasar pengalaman gw pribadi, bisa jadi akan berbeda di tiap kulit orang yang berbeda pula.

Silahkan kalau teman-teman ada saran atau didiskusikan tentang post ini :)

Ciao! See you di beauty post yang lain!


Referensi:

  1. https://www.scientificamerican.com/article/do-scents-affect-peoples/
  2. How Do Scents Affect Your Mood? - https://go.shr.lc/34tloqv
  3. Mohan, Shobhit & Mohan, Lalit & Sangal, Renu. (2020). Glutathione for skin lightening for dermatologists and cosmetologists. International Journal of Research in Dermatology. 6. 284. 10.18203/issn.2455-4529.IntJResDermatol20200615. 
  4. Sonthalia S, Dautalabad D, Sarkar R. (2016). Glutathione as a skin whitening agent: Facts, myths, evidence and controversies. India J Dermatol Venereol Leprol. 82(3):262-272. doi:10.4103/0378-6323.179088


Senin, 31 Agustus 2020

Energy Storage: Kunci Pendukung Pengembangan Energi Baru & Terbarukan

Energi adalah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap sendi kehidupan manusia dimulai dari rumah tangga hingga industri skala besar membutuhkan energi untuk menjaga kelangsungan aktivitasnya. Indonesia, dengan penduduk sekitar 273 juta jiwa tentunya memiliki kebutuhan energi yang besar, bahkan lebih besar dibanding beberapa negara maju seperti UK, Polandia, Belanda, dan UEA [1]. Selain itu, jika Indonesia sendiri sedang bergerak menuju target menjadi negara maju yang ditandai dengan nilai GDP yang tinggi maka akan mempengaruhi juga nilai TPES (total primary energy storage) yang menjadi semakin tinggi juga [2], membuat kebutuhan penyediaan energi nasional menjadi hal yang krusial untuk dilakukan.

Top Energy Consumers Worldwide [1]


Indonesia sendiri dalam hal pemenuhan kebutuhan energi 92%-nya masih berasal dari energi fossil, sisanya 8% berasal dari energi terbarukan [3]. Sayangnya ketersediaan energi fosil yang menjadi sumber energi utama di Indonesia bersifat terbatas dan semakin hari semakin menipis. Untuk menghadapi kondisi ini dan untuk menghadapi krisis energi di masa depan, maka pengmaksimalan pemanfaatan energi dari sumber baru dan terbarukan menjadi solusi. Hal ini pun sejalan dengan mandat dari COP 21 untuk membuat transisi energi ke yang bersifat berkelanjutan serta sesuai juga dengan target dari Presiden Joko Widodo agar bauran energi terbarukan pada tahun 2025 mendatang sebesar 23%. Pemerintah Indonesia pun sudah memulai usaha pengembangan energi baru terbarukan ini dengan membangun PLTS, PLTA, PLTBM, dan PLTB di beberapa titik di Indonesia [4].

Sayangnya terdapat isu yang patut diperhatikan dalam pengembangan energi baru dan terbarukan yaitu sifatnya yang "intermittent" [5]. Berbeda dengan energi fosil yang selalu bisa tersedia setiap waktu, pada energi terbarukan seperti angin, surya, atau ombak maka sumber energi tidak dapat tersedia setiap waktu. Angin tidak mungkin memiliki kecepatan yang sama sepanjang hari, terdapat periode dimana angin memiliki kecepatan yang "pas", namun tidak jarang juga kecepatan angin menjadi terlalu rendah sehingga tidak cukup untuk memutar baling-baling, atau justru menjadi terlalu tinggi yang bisa jadi tidak sesuai dengan spesifikasi baling-baling. Sama halnya dengan matahari, ada kalanya sinar matahari tidak terang dikarenakan terhalang awan atau mendung, serta dipastikan tidak akan tersedia energi pada malam hari. Hal ini pun akan menciptakan yang namanya puncak dan lembah pada grafik ketersediaan sumber energi, padahal kita tahu bahwa kebutuhan energi tidak mau tahu dengan puncak dan lembah ini. Kebutuhan energi harus terpenuhi entah itu dikala siang maupun malam, atau di kala mendung, hujan, maupun terik. Di sinilah terdapat ketidak-match-an antara produksi/ketersediaan energi terbarukan dengan permintaan energi.

Energi terbarukan bersifat intermittent

Energy storage menjadi solusi untuk menghubungkan antara produksi energi terbarukan yang bersifat fleksibel dengan pemenuhan permintaan energi. Selain mendukung keberadaan teknologi energi terbarukan, energy storage dapat membantu menyeimbangkan ketersediaan energi pada grid serta berkontribusi dalam memaksimalkan setiap "energi hijau" yang dihasilkan. Energy storage pun akan mengubah kurva fleksibilitas ketersediaan energi sebagaimana digambarkan di gambar di bawah dimana dibandingkan bagaimana fleksibilitas pada sistem pembangkit yang ada sekarang dengan pembangkit di masa depan.

Energy storage dan fleksibilitas [6]


Jenis-Jenis Energy Storage 

Penyimpanan energi (energy storage) dalam hal ini listrik, tidak bisa disimpan begitu saja, melainkan harus diubah atau ditransformasikan dulu menjadi bentuk lain seperti panas, mekanik, gravitasi, atau kimia; sehingga menghasilkan beberapa jenis energy storage system tergantung mekanisme atau prinsip kerjanya. Selain itu, pemilihan jenis energy storage pun akan bergantung pula dengan kapasitas energi: penyimpanan berkapasitas besar untuk skala GW, penyimpanan pada grid untuk skala MW, serta penyimpanan pada level rumah tangga atau perkantoran untuk skala KW [7]. 

Kategori Energy storage berdasarkan kapasitasnya [7]

Secara umu, jenis-jenis energy storage terbagi menjadi 5 kategori yaitu:
  • Termal
Merupakan mekanisme penyimpanan energi dengan cara menangkap panas atau dingin untuk kemudian disimpan dan dilepaskan menurut kontrol tertentu.
  • Penyimpanan mekanis
Menyimpan listrik dalam bentuk energi kinetik atau gravitasi, contohnya flywheels. Flywheels merupakan sistem penyimpanan mekanis yang terdiri dari cakram logam yang akan mulai bergerak saat suatu torsi ditimpakan padanya, selanjutnya terjadi "pengereman" yang membuat energi listrik tersimpan dalam bentuk energi kinetik. 
  • Hidrogen
Pada sistem ini, kelebihan energi listrik disimpan dalam bentuk hidrogen melalui proses elektrolisis (pemecahan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen). Salah satu contoh nyata penggunaan hidrogen dalam penyimpanan energi listrik adalah pada mobil Toyota Mirai yang menggunakan fuel cell untuk sistem penyimpanan energinya [8].
Toyota Mirai Fuel Cell Vehicle
  • Pumped Hydropower
Menggunakan reservoir air yang besar sebagai sistem penyimpanan energinya. Saat terdapat kelebihan energi, maka energi digunakan untuk memompa air ke reservoir yang ada di atas (daerah lebih tinggi). Lalu, saat dibutuhkan energi, maka air di reservoir tersebut dialirkan ke bawah untuk kemudian memutar turbin dan menghasilkan listrik. Sistem ini merupakan sistem penyimpanan energi yang paling efisien untuk kapasitas besar [7]. Teknologi ini pun sudah diterapkan di beberapa PLTA yang ada di luar negeri. 
  • Baterai
Baterai disini meliputi segala macam penyimpanan yang menggunakan mekanisme elektrokimia, berupa lead-acid battery, baterai litium, dan kapasitor. Keuntungan utama penggunaan baterai untuk penyimpanan energi adalah respon yang cepat (milisekon), kemudahan instalasi, serta skalabilitas.

Baterai Litium: Fokus Pengembangan Energy Storage Masa Depan

Di antara bermacam-macam energy storage system sebelumnya, baterai litium menjadi yang paling populer dikembangkan dalam era renewable energy ini. Menjadi salah satu unsur terkecil dalam tabel periodik, litium memiliki potensi elektrokimia yang tinggi sehingga dapat mengakumulasi energi dalam jumlah yang banyak. Meskipun memiliki berat yang ringan serta efisiensi simpan yang tinggi, litium memiliki kekurangan yaitu: harga yang mahal. Meskipun begitu, situasi ini pasti akan berubah seiring dengan banyaknya pengembang dan pengguna baterai litium, maka harga akan otomatis turun, sebagaimana yang terjadi pada pasar solar PV. 

Pada pengembangan renewable energy, permintaan baterai akan berfokus di 2 area yaitu penyimpanan stasioner dan mobil listrik. Hasil riset dari BNEF, menyebutkan bahwa total permintaan baterai baik untuk pasar penyimpanan stasioner maupun mobil listrik diprediksikan akan mencapai 4584 GWh pada tahun 2040 [9]. Hal ini tentunya selain mempercepat transisi energi ke energi terbarukan, bisa juga menjadi kesempatan baik untuk pelaku industri maupun kalangan akademisi untuk berlomba-lomba menciptakan teknologi baterai terbaik. Ini juga bisa diterapkan di universitas atau lembaga penelitian di Indonesia, dimana penelitian terkait pengembangan baterai litium penting untuk dilakukan, selain untuk mempercepat transisi energi melainkan juga memiliki potensi ekonomis. 

Prediksi kebutuhan instalasi energy storage [9]

Salah satu pelaku industri yang sudah bergerak cepat dalam pengembangan baterai litium ini adalah Tesla, dimana pada tahun 2017 berhasil membangun baterai litium terbesar di dunia dengan kapasitas 100 MW untuk mensupport  pembangkit listrik tenaga surga dan angin yang ada di wilayah Australia Selatan. Hal ini tentunya bisa menjadi inspirasi sekaligus pelecut semangat kita: pelatih, akademisi, atau mahasiswa untuk ikut terlibat dalam penelitian dan pengembangan energy storage di Indonesia.

Tesla Battery di Australia


Energy Storage: Pilar Penting Transisi Energi Terbarukan

Energy storage menjadi pilar penting dalam transisi energi menuju energi terbarukan, yaitu mampu menghubungkan antara ketersediaan energi terbarukan yang bersifat fleksibel dengan permintaan energi, serta membantu memastikan integrasi energi terbarukan tersebut ke grid. Oleh karena itu, baik pemerintah maupun institusi pendidikan harus memfokuskan ke penelitian dan pengembangan energy storage untuk mendukung langkah Indonesia meningkatkan bauran energi terbarukan.


Referensi:

[1] https://www.aceee.org/research-report/i1801
[2] IEA (2020), World Energy Balances: Overview, IEA, Paris https://www.iea.org/reports/world-energy-balances-overview
[3] Kementrian ESDM Indonesia. (2019). Outlook Energi Indonesia.
[4] https://kumparan.com/solar-kita/pemanfaatan-energi-terbarukan-di-indonesia-sudah-ada-di-depan-mata-1sEqeryhYqE/full
[5] https://www.masterresource.org/renewable-energy-fallacies/the-problem-of-renewable-energy/
[6] Gielen, Dolf & Gorini, Ricardo & Wagner, Nicholas & leme, rodrigo & Gutierrez, Laura & Prakash, Gayathri & Asmelash, Elisa & Janeiro, Luis & Gallina, Giacomo & Vale, Guilia & Sani, Lorenzo & Casals, Xavier & Ferroukhi, Rabea & Parajuli, Bishal & Renner, Michael & Garcia-Banos, Celia & Feng, Jinlei. (2019). IRENA GET 2019 Web. 
[7] https://www.iberdrola.com/environment/efficient-energy-storage

Kamis, 23 Juli 2020

Pengalaman Pakai RATA.ID: Jurnal Perjalanan dan Testimoni

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Hai semuanya!
Jadi ini pertama kalinya gw akan berbagi pengalaman sekaligus mereview suatu produk atau jasa kesehatan yaitu RATA.ID. Singkatnya, si RATA.ID ini mengklaim bahwa dirinya merupakan penyedia jasa clear aligner pertama di Indonesia dengan tagline "Solusi Meratakan Gigi tanpa Kawat dan Behel", cukup menggiurkan kan? 

rata.id
Clear Aligner RATA

Pertama kali gw denger RATA ID adalah di Februari 2020 dari youtube channel-nya Tasya Farasya (bisa lihat videonya disini) dimana disitu Tasya mampir ke klinik RATA ID dan dijelaskan oleh foundernya yaitu drg. Devina bahwa produk RATA ID menggunakan teknologi canggih yaitu clear aligner untuk meratakan gigi dibantu dengan software AI untuk memprediksikan pergerakan gigi ke depan dari pasien sampai rata dengan harga yang terjangkau. Nah, ukuran terjangkau ini apabila dibandingkan dengan produk sejenis yaitu "invisalign" yang sudah dulu terkenal di luar negeri dimana untuk pemasangan dan treatment membutuhkan biaya sekitar 50-70 juta, sedangkan RATA hanya mematok 9,9 juta all in. Selain itu apabila dibandingkan dengan behel pada umumnya si RATA ini pun memiliki keunggulan, apa aja keunggulannya bisa langsung dilihat di tabel di bawah ya. Nah satu lagi poin plus si RATA, bahwa RATA ini menjanjikan gigi rata maksimal 6 bulan perawatan, wah gila sih, ini yang gw cari-cari selama ini karena halangan terbesar gw untuk behel adalah waktunya yang lama padahal kasus gigi yang pingin gw benerin cuma 1 gigi seri depan yang miring, serta ketakutan kalau ternyata gw harus cabut gigi kalau ingin behel (padahal belum tentu dicabut juga)

rata.id
Sumber: https://www.rata.id/

Saat ngelihat videonya Tasya Farasya, yang emang pas banget posisinya gw sedang mempertimbangkan treatment untuk meratakan gigi, jadilah gw mulai teracuni hahaha. Eits berhubung masalah gigi ini bukan masalah yang sepele, gw memutuskan untuk kepo dulu dengan si RATA, takutnya ini macam klinik tukang gigi abal-abal kan malah berabe. Gw kepo-in website dan instagramnya, gw juga kepoin siapa aja foundernya. Tak lupa gw kepoin si RATA ini dapat pendanaannya darimana, venture capitalnya siapa. What, sampai segitunya? Iya, gw kalau lagi mode kepo bisa beneran kepo maksimal hahaha. Intinya semua terlihat meyakinkan. Apalagi di instagram RATA disertai gambar before-after dari pasien-pasiennya, semakin membuat gw tergiur. Di sisi lain, gw juga mikir si Tasya Farasya ini kan youtuber terkenal, yakali dia mau merelakan integritasnya untuk promosi/ngenalin klinik gigi abal-abal apalagi Tasya-nya sendiri pun lulusan kedokteran gigi. Selain itu, di klinik RATA pun memang literally klinik dokter gigi, bukan tukang gigi. Lalu setelah membaca dan menonton berbagai macam review dari blog maupun youtube, akhirnya gw yakin untuk ngambil treatment ini. 

Gimana perjalanan gw dengan RATA? Langsung aja, check it out!
(P.S post ini bakal panjaaaaang, karena formatnya yang berupa "jurnal perjalanan" jadi lebih ke curhat di setiap step gw bersama RATA)

Evaluasi Online (7-10 Juni 2020)

Diawali dengan gw yang menDM RATA di instagram menanyakan apakah kasus gigi gw bisa ditangani oleh clear aligner dari RATA (-catatan: tidak semua kasus gigi bisa ditangani oleh RATA, untuk kasus yang kadarnya berat sebaiknya ke orthodontist saja). RATA langsung membalas DM gw dan menawarkan evaluasi online dengan cara mengirimkan foto dari 5 sudut (bisa dilihat contoh panduannya di bawah). Nah dari kelima foto ini kemudian akan dievaluasi oleh tim dokter gigi RATA apakah memungkinkan untuk ditreatment dengan RATA atau tidak.
rata.id
Panduan Foto

Tanggal 10 Juni 2020, gw dikirimin link video hasil evaluasi gigi gw via DM. Jadi di video itu ada dokter gigi yang memaparkan hasil "analisis"nya yang intinya keadaan gigi gw layak untuk mendapatkan treatment dari RATA.

Pembayaran (12 Juni 2020)

Selanjutnya gw ngebawelin si CS-nya dengan tanya segala macam tentang treatment RATA termasuk gimana nasib konsultasi gigi pas jaman COVID begini, takutnya nggak memungkinkan ke klinik gitu kan, Si Mbak CS mengatakan bahwa proses konsultasi dengan dokter gigi ke depannya akan dilakukan online (via ZOOM) dan khusus memang untuk penggunaan clear aligner ini tidak diperlukan banyak konsultasi seperti saat penggunaan behel gigi. Nah sebenernya disini gw agak was-was dan takut apakah akan efektif kalau konsultasinya online, kan sayang gitu udah ngeluarin duit tapi hasilnya nggak maksimal.
rata.id
Rezeki dapet promo :)

In the end, gw memutuskan untuk ambil treatment RATA. Beruntungnya gw, saat itu sedang ada promo THR yaitu diskon sebanyak 5,5 juta dari harga sebelumnya 12,9 juta (9,9 jt treatment aligner all in sampai selesai + 2 jt retainer + 1 jt voucher perawatan gigi). Alhamdulillah 😂. Gw pun cukup membayar 7,5 juta aja. Yeyyy. Untuk pembayarannya langsung gw bayar cash, sebenernya ada juga opsi cicil, cuman kata CS-nya sih harganya beda untuk opsi cicil. Gw sendiri berprinsip kalau bisa cash, ya cash aja sekalian wohoho.

Konsultasi Online (18 Juni 2020)

Setelah pembayaran selesai, si Mbak CS langsung mengarahkan gw membuat appointment konsultasi online dengan dokter gigi. Sebenarnya konsultasi onlinenya bisa langsung dilakukan hari esok atau lusa (nggak perlu nunggu lama), cuman berhubung di minggu itu lagi periode ujian akhir semester (UAS) jadilah gw putuskan konsultasi tanggal 18 Juni saat UAS udah berakhir hehehe. Nah konsultasi online ini emang case khusus pas jaman COVID ya, sebelum COVID  menyerang Indonesia, konsultasi dilakukan langsung di klinik RATA. Nah saat post ini di tulis, si klinik RATA sudah memiliki 5 klinik di Jakarta-Tanggerang, serta di beberapa kota besar lainnya. Keren juga ya. Ini pasti investasinya gede banget bisa buka banyak klinik padahal baru buka di Mei 2019.

Oke balik lagi ke topik konsultasi online. Di sesi ini lebih berisi gw yang curhat tentang masalah gigi gw dan ekspektasi ke depannya. Si dokter gigi-nya menjelaskan bahwa kemungkinan akan pakai aligner baik di rahang atas maupun bawah dan perlunya dilakukan slicing untuk memberi ruang gerak gigi nantinya. Selain itu, si dokter gigi juga meminta gw melakukan rontgen cephalometri dan mengirimkan hasilnya via CS. Overall gw puas sih ama sesi konsultasinya, dokternya sabar dan penjelasannya detail, tips buat pasien, banyak-banyaklah tanya pas sesi ini. Proses selanjutnya RATA akan mengirimkan bahan cetakan gigi, nah proses pengirimannya ini gratis asalkan lokasi rumah kalian masih di pulau Jawa. 

Cetak Gigi (20 & 26 Juni)

Tanggal 20 Juni, gw mendapat kiriman paketan dari RATA. Ini hitungannya cepat banget ya, secara posisi gw saat itu ada di Jawa Tengah. Di dalam paketan berisi buku panduan cetak gigi, 2 pasang adonan cetakan untuk rahang atas, 2 pasang adonan cetakan untuk rahang bawah, serta 4 tray pencetak. Gw jujur suka sama packaging dan desain dari kiriman RATA ini, keliatan banget ke-profesionalannya dan keniatannya, mulai dari desain box, desain buku-nya, dan cara membungkus si adonan cetakan dan tray-nya. Good Job! 
rata.id
Kiriman cetakan RATA

Sesuai jadwal, tanggal 26 Juni gw melakukan konsultasi online dengan dokter gigi RATA untuk panduan pemasangan cetakan. Oh ya, pemasangan cetakan via online ini pun hanya case khusus jaman COVID ya, sebelumnya di jaman masih "normal", pencetakan gigi dilakukan di klinik RATA dengan scan 3D yang tentunya lebih canggih dan presisi. Sebelum konsultasi, gw nonton tutorial pemasangan yang dikirim sama CS-nya, gw juga membaca review orang-orang saat pemasangan cetakan RATA ini. Ada beberapa yang cerita bahwa sulit sekali mencetak hanya dengan panduan dokter gigi secara online seperti ini, bahkan beberapa kasus harus dikirim lagi adonan cetakan karena cetakan sebelumnya tidak berhasil. 

Belajar dari pengalaman orang-orang ini, gw yang meragukan diri sendiri pun memutuskan untuk meminta bantuan temen gw yang sedang koas dokter gigi untuk menemani nanti saat konsultasi online. Dan benar saja, saat percobaan pertama dimana gw mencoba melakukan pencetakan sendiri,  adonan cetakan mengeras duluan sehingga cetakannya pun gagal akibat gw-nya yang terlalu lemot saat mencampur adonan putty hahaha. Akhirnya di percobaan ke 2-4, gw pun dibantu full sama temen gw yang dokter gigi ini, mulai dari pembuatan adonan sampai pemasangan tray ke mulut, dan voila, berhasil! Maklum ya, beda tangan orang awam sama tangan dokter gigi 😆. Ini bisa jadi tips buat teman-teman sih yang mau cetak gigi online dan ragu, bisa manfaatkan kenalannya yang dokter gigi hehehe.
rata.id
Hasil cetakan

Setelah di-acc cetakannya oleh dokter gigi, maka selanjutnya gw pun mengirim kembali si cetakan beserta box-nya ke RATA Jakarta untuk kemudian dibuatkan video 3D.

Video Simulasi 3D (16 Juli 2020)

Setelah kurang lebih 20 hari, CS RATA mengirimi gw video simulasi pergerakan gigi secara 3D via wa. Di video ini pun akan dilihatkan view dari depan, samping kanan-kiri, dan view dari "dalam mulut". Nah saat proses ini, kita bisa konsultasi atau tanya atau bahkan protes terkait hasil simulasi videonya ya. CS RATA pun menurut gw lumayan responsif saat kita tanya-tanya. Nah ini dia hasil simulasi 3D-nya (lihat gambar di bawah). Intinya untuk rahang atas diperlukan 10 set aligner sedangkan rahang bawah diperlukan 5 set aligner. 1 aligner sendiri dipakai selama periode 8-10 hari. Jadi kalau dihitung waktunya, rahang atas membutuhkan waktu 3 bulan untuk rata, sedangkan rahang bawah membutuhkan waktu 1,5 bulan. Hmmm cepet juga ya, jadi makin nggak sabar!
rata.id
Hasil simulasi pergerakan gigi 3D

Training Set Aligner (22 Juli 2020)

Di tanggal 22 Juli, gw menerima kiriman dari RATA berupa training set aligner yang berguna untuk mengetahui kesesuaian dengan gigi sebelum nantinya menggunakan full set aligner RATA. Di dalam kiriman ini terdapat 1 pouch RATA, sepasang training set aligner, dan 2 buah flyer RATA. 
rata.id
Kiriman training set aligner RATA

rata.id
Sepasang training set aligner

Disini kita diminta untuk memasang set aligner sesuai tutorial yang diberikan lalu mengirimkan fotonya ke CS via WA. Untuk kasus training set aligner, gw pernah baca pengalaman orang kalau ada beberapa yang tidak pas aligner-nya entah kebesaran atau sebaliknya. Nah kasus ke-tidak-pas-an aligner ini bisa jadi dikarenakan proses pencetakan gigi yang kurang tepat misal bergeser, sehingga aligner yang dibuat pun ikut-ikutan salah. Makanya untuk yang proses treatment-nya dikala covid sehingga mengharuskan cetak gigi mandiri di rumah, harus pastikan benar-benar proses dan hasil cetakannya berhasil, atau bisa contoh pengalaman gw yang minta tolong ke temen dokter gigi saat proses pencetakan. Untuk kasus gw sendiri, alhamdulillahnya training set aligner PAS. Yeyy!
rata.id
Nyobain training set aligner,
kelihatan kayak nggak makai apa-apa kan?

Proses selanjutnya adalah pembuatan full set aligner yang memakan waktu 16-21 hari kerja, setelah itu, perjalanan bersama RATA akan dimulai :"

Rontgen (24 Juli 2020)

Jadi di tanggal 24 Juli gw melakukan rontgen yang seharusnya dilakukan dari awal, tapi berhubung kemarin-kemarin masih jaman COVID (sekarang pun masih) dan satu-satunya penyedia rontgen panoramik di kota gw adalah RS rujukan covid, jadilah harus ditunda dulu sampai akhirnya di 24 Juli ini gw melakukan rontgen panoramik. Singkatnya setelah dirontgen, barulah diketahui di bagian rahang atas terdapat 1 gigi taring impaksi (tidak tumbuh) dengan posisi miring. Duh, pantesan kok gw selama ini nggak punya gigi taring 😐
Hasil Rontgen Panoramik
Setelah konsultasi dengan dokter gigi di RATA, disarankan untuk dicabut si gigi taring itu. Nah karena masalah ini, terpaksa treatment RATA harus ditunda dulu sampai gw selesai melakukan prosedur pengangkatan gigi taring di spesialis bedah mulut. Treatment yang akan diberikan pun otomatis akan berubah strategi pergeserannya disesuaikan dengan kondisi gigi dan rahang gw nantinya. Saran gw buat kalian, mungkin ada baiknya sebelum pakai treatment RATA, ambil tes rontgen panoramik dulu. Terus gimana kelanjutan proses produksi si alignernya? Ya otomatis dihentikan dulu *kata Mbak CS-nya

Konsultasi Pembuatan Video Simulasi yang Baru (6 Agustus & 7 September 2020)

Singkat cerita, di tanggal 6 Agustus gw konsul dengan dokter gigi RATA mendiskusikan apakah mungkin mengganti strategi pergeseran gigi gw tanpa menggeser/mengutak atik posisi si gigi taring impaksi, dan jawabannya adalah mungkin. 

Di tanggal 7 September, gw mendapatkan video simulasinya. Jujur, ini waktunya lama banget ya memakan waktu 1 bulan sendiri dari tanggal konsultasi, padahal video simulasi dijanjikan akan jadi maksimal dalam 10 hari kerja. Gw pun sampai "meneror" CS RATA berkali-kali di ig karena chat gw di wa nggak dibales sama adminnya perihal menanyakan kapan video simulasi gw jadi. 

Ya mungkin ini bisa buat perbaikan di manajemennya RATA ya. Konsumen pasti sebel lah kalau misal chat-nya nggak dibalas sama admin-nya apalagi itu adalah satu-satunya cara berkomunikasi antara konsumen dengan pihak RATA. Singkat cerita, tanggal 7 September dibaleslah chat gw sama pihak RATA sambil meminta maaf dan diberikan video simulasinya. Total dari video simulasi yang baru tersebut gw membutuhkan 9 aligner atas dan 9 aligner bawah. Oke, done!

Miskomunikasi Pihak RATA (8 September 2020)

Entah bagaimana ceritanya. Tiba-tiba sore hari 8 September 2020, gw mendapatkan satu paket aligner RATA. Lah gimana ceritanya, orang baru kemarin gw dapat video simulasi masa tiba-tiba hari ini udah dapat aja aligner? Langsung gw cek isi alignernya yang ternyata terdiri atas 10 aligner atas dan 5 aligner bawah, mirip seperti jumlah aligner video simulasi pertama dimana sudah dibatalkan/diganti. Hmmmmm. Yasudah deh, gw langsung laporan ke CS RATA di whatssap. Awalnya CS RATA kekeuh itu beneran aligner punya gw, gw pun kekeuh kalau itu bukan aligner gw. Ya intinya kurang lebih selama seminggu itu debat, hingga akhirnya mereka meminta maaf dan mengatakan mereka telah mengirim aligner yang salah, dan diminta menunggu aligner yang benar datang. 

Oke disini, kekurangan pihak RATA (lagi) adalah kurang koordinasi antar CS yang megang nomor whatssap-nya, mereka seakan-akan lupa sama chat  antara gw dan CS sebelumnya. Jadinya gw sebagai konsumen harus menjelaskan dari awal atau mereply chat-chat sebelumnya sebagai bukti. Akibat dari kejadian ini, pihak RATA kan jadi rugi ya, mereka mau nggak mau jadi harus produksi 2 kali untuk kasus gw. Meskipun begitu, gw salut sama RATA yang mau bertanggung jawab karena sebelumnya gw sudah khawatir kalau RATA nggak mau produksi aligner lagi kecuali gw bayar biaya tambahan, -meskipun itu salah dari RATA sendiri yang kurang koordinasi.

Set Aligner sampai (8 November 2020)

Akhirnya setelah sekian purnama dan setelah sekian chat menanyakan kapan aligner gw jadi, sampailah si box berisi set aligner. Waktunya lumayan lama antara tanggal video simulasi jadi (7 september) sampai aligner ini dikirim, yaitu kurang lebih 2 bulan, padahal dari pihak RATA sendiri mengatakan set aligner akan jadi dalam kurun waktu 30-45 hari kerja.

Box RATA

Isi box
Gw sendiri suka sama desain box-nya: simple tapi tetap bagus. Bahan box-nya pun tebal, jadi kelihatan nggak murahan. Isi dari box ini antara lain:
  1. Set aligner (bisa full set, bisa juga baru sebagian yang dikirim lalu sisanya dikirim kemudian hari)
  2. Chewy (untuk membantu mengencangkan aligner)
  3. Pouch RATA
  4. Wadah aligner yang sudah dilengkapi dengan kaca di dalamnya
  5. Panduan pemakaian aligner

Slicing dan Konsultasi Pemasangan Aligner di Klinik RATA (10 November 2020)

Nah, sebelum memakai aligner, wajib untuk konsultasi dulu. Singkat cerita gw dijadwalkan untuk slicing dan konsultasi di klinik RATA tanggal 10 November 2020. Kita dibolehkan memilih klinik RATA mana yang mau kita datangi. Gw sendiri milih klinik PURE di Menteng (mitra kliniknya RATA) karena lokasinya paling dekat sama rumah. Sesampai di klinik, kita diberi satu set APD (baju, penutup kepala, penutup kaki) karena memang sedang kondisi PSBB dan mencegah penularan covid. 

Klinik Pure di Menteng
Secara keseluruhan, gw puas sih selama treatment dan konsultasi di klinik ini, pegawai-nya ramah, dokternya pun ramah. Dokternya menjelaskan tiap step yang sedang dia kerjakan di gigi gw, jadi gw ada bayangan dan lebih teredukasi hohoho. Selain slicing, gw juga nambal 2 gigi yang bolong di klinik ini *sekalian. Bisa juga buat teman-teman yang misal mau nebeng scalling pas sesi slicing & konsultasi ini karena toh ini kan klinik gigi 😅, gw sendiri minggu sebelumnya udah scalling jadi ya nggak perlu scalling lagi disini. Di sesi konsultasi, dokternya bener-bener sabar dan informatif waktu ngajarin masang aligner beserta do & dont's-nya. Intinya puas deh ama pelayanan disini.

Slip Treatment RATA
Nah berhubung slicing dan nambal gigi adalah di luar biaya paket aligner RATA, jadinya gw harus membayar treatment tersebut. Total untuk slicing, menambal 2 gigi, dan APD menghabiskan 1.275.000. Weits, banyak banget ya? Nah untungnya gw punya voucher treatment 1.100.000 dari RATA hohoho, akhirnya gw cukup membayar 175.000 aja. Jadi beruntunglah kalian yang pas beli paketan RATA, dapet voucher treatment juga 😁

Pemakaian Set Aligner 1 (10-20 November 2020)

Sebenarnya periode pemasangan aligner untuk tiap setnya adalah 7-10 hari dimana tiap harinya dianjurkan penggunaan selama 22 jam, dan gw sendiri memilih periode 10 hari. Kenapa? Ya karena gw sadar lumayan sering ada kegiatan di luar yang biasanya include kegiatan makan, jadinya kemungkinan besar di hari itu total waktu pemakaian gw kurang dari 22 jam, jadi untuk mengcover hal tersebut gw pakai waktu yang paling maksimalnya yaitu 10 hari. Selain itu, kebetulan gw mulai pakai aligner di tanggal 10 dan biar hitungannya dan "niteni" tanggalnya gampang, gw pakai periode 10 hari, jadi set aligner tinggal diganti di tanggal-tanggal yang kelipatan 10, ex: tanggal 10, 20, 30. Membantu banget buat orang yang mudah lupa macem gw hahaha

Lalu gimana pengalaman pertama kali pakainya? Di hari pertama, gw merasa nggak gimana-gimana pas pakai aligner. Gw sampai mikir "hmm, kata orang-orang pas awal-awal kerasa sakit/ngilu, gw enggak tuh, mungkin pain tolerance-nya tinggi kali ya" #mulaisombong. Oaalaaah pemirsah, rasa  ngilunya baru kerasa di hari kedua *nahlo kualat kan makanya jangan takabur. Rasa sakit/ngilunya ini paling kerasa pas prosesi copot-pasang aligner waktu kita mau makan atau sikat gigi. Justru saat alignernya udah kepasang, nggak kerasa ngilu lagi. Kalau lagi copot/pasang, gw udah parno duluan bayangin rasa sakitnya hahaha, jadinya waktu pun habis cuman buat meyakinkan diri bolak balik klo ini tuh sakit nya cuman beberapa detik aja😌. Selain itu, di 3 hari pertama gw merasakan rasa agak ngilu (tapi tidak mengganggu) saat mengunyah makanan. Akhirnya daripada rempong gitu, gw memutuskan untuk puasa aja sekalian daripada harus menanggung sakit tiap mau makan. Ini bisa juga tips buat kalian yang muslim, daripada males makan, mending sekalian diniatin ibadah puasa aja (puasa ganti ramadhan, sunah senin kamis, sunah daud, sunah ayyamul bidh). Gigi rata, dapat pahala pula *aaamiiin. Nah rasa ngilu ini nggak bertahan lama kok, kurang lebih di hari keempat dan kelima udah jauuuh berkurang rasa ngilunya. Setelah itu, malah udah nggak terasa apa-apa pas pasang copot aligner, bisa bebas pasang copot aligner tanpa parno hohoho.


Update (15 Desember 2020):

Dikarenakan post ini sudah terlalu panjang, maka post kelanjutannya mulai dari pemakaian aligner ke-2 sampai seterusnya bisa dilihat di:

Pengalaman Pakai RATA.ID: Jurnal Perjalanan dan Testimoni (Part 2)



Senin, 25 Mei 2020

Review: The Ordinary Alpha Arbutin 2% + HA dan Niacinamide 10% + Zinc 1%

Assalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Hai semuanya!! Akhirnya bisa nulis lagi beauty review ya. Nah, produk yang akan gw bahas hari ini adalah kombinasi produk The Ordinary yang paling terkenal yaitu Alpha Arbutin 2% + HA dan Niacinamide 10% + Zinc 1%. Dalam review ini, gw nggak akan mereview satu-satu kinerjanya melainkan mereview bagaimana kinerja mereka bila digunakan secara bersamaan. Tanpa lama-lama, langsung aja deh cekidot!

Konsep Brand The Ordinary & Tujuan Pemakaian

Gw salut sih sama konsep brand The Ordinary yang "to the point" dimana mereka langsung menjadikan nama bahan aktif utamanya sebagai nama produk-nya; jadinya kita sebagai konsumen pun langsung tahu kandungan si produk itu apa beserta fungsinya; sedangkan kebanyakan brand lain itu kita harus cek dulu komposisinya untuk tahu kandungan bahan aktif yang dipakai apa saja, misal: Wardah lightening series -> cek ingredients -> "Oh, ternyata lightening agent-nya adalah si licorice extract".

Review The Ordinary
"To The Point"-nya Produk-Produk The Ordinary

Memang sih, ke-to the point-an The Ordinary ini mungkin akan agak menyulitkan buat teman-teman yang baru masuk ke dunia per skincare-an karena memang masih awam dengan nama-nama bahan aktif beserta kegunaannya. Justru menurut gw, di sinilah seninya, kita dipaksa untuk belajar: untuk mencari tahu apa permasalahan dan kebutuhan kulit kita, lalu memutuskan untuk memilih bahan aktif mana yang akan kita pakai. Masih tetap bingung?  Tenang saja guys, The Ordinary sendiri menyediakan panduan mengenai fungsi dan cara penggunaan produk mereka di websitenya, bisa dicek disini. Gw sendiri pun jadi lebih paham dengan dunia per-skincare-an gara-gara si The Ordinary ini. Sejak saat itu, gw pun lebih selektif memperhatikan komposisi tiap produk biar nggak sekedar kemakan iklan.

Harga

Untuk harga sebenarnya bervariasi ya tergantung tempat belinya dimana. Kalau gw sendiri pernah beli di salah satu star seller di Shopee, lalu terakhir gw beli via website Ponny Beaute. Nah Ponny Beaute ini adalah distributor resmi produk The Ordinary di Indonesia. Produk the Ordinary yang dijual disini pun sudah terdaftarkan di BPOM. 

Website Ponny Beaute

Makanya karena hal-hal tersebut, gw sebagai konsumen merasa lebih aman karena produk yang akan didapatkan terjamin keasliannya (-bukan berarti beli di shopee atau olshop lain itu produknya palsu ya, hanya saja kita harus lebih jeli untuk memastikan keaslian produknya). Sayangnya kalau beli di Ponny Beaute, harga produknya akan cenderung lebih mahal dibanding olshop-olshop lainnya. Berikut adalah harga produk jika beli di Ponny Beaute.

The Ordinary Alpha Arbutin 2% + HA Rp 200.000,00
The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% Rp 175.000,00

Kandungan dan Klaim

Untuk produk yang pertama tentunya sudah jelas bahwa kandungan utamanya adalah Alpha Arbutin 2% dan Hyaluronic Acid (HA). Alpha arbutin merupakan bahan aktif yang kegunaannya sebagai agen pencerah. Sesuai dengan kegunaannya, klaimnya menyebutkan bahwa produk ini memiliki fungsi untuk mengurangi penampakan noda hitam dan hiperpigmentasi. Kandungan Alpha Arbutin sebesar 2% tergolong cukup tinggi dibanding produk kecantikan lainnya yang biasanya berada di kisaran 1%. Selanjutnya kandungan bahan yang kedua adalah hyaluronic acid (HA) dimana pihak Deciem (produsen) menyebutkan HA disini berfungsi untuk mengoptimalkan "transportasi" alpha arbutin ke kulit kita. Selain itu, HA juga berfungsi untuk menghidrasi kulit sehingga membuat kulit terlihat lebih kenyal. Komposisi lengkap dari The Ordinary Alpha Arbutin 2% +HA bisa dilihat di gambar di bawah.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Komposisi The Ordinary Alpha Arbutin 2% + HA

Selanjutnya produk kedua, kandungan utamanya adalah Niacinamide 10% dan Zinc 1%. Niacinamide atau vitamin B3 juga merupakan agen pencerah, oleh karena itu klaim produknya pun menyebutkan bahwa produk ini akan membantu menghilangkan kemerah-merahan dan warna kulit tidak merata pada kulit. Sedangkan kandungan zinc berguna untuk mengatur produksi sebum, oleh karenanya zinc pun disinyalir dapat membantu mengurangi produksi jerawat dan memperkecil penampakan pori-pori. Komposisi lengkap dari The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% bisa dilihat di gambar di bawah ya.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Komposisi The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%

Packaging

Ini dia tampilan dari box the Ordinary: bentuknya simple, informatif, dan to the point. Berhubung gw beli si produk The Ordinary-nya di Ponny Beaute, maka di bagian atas packaging terdapat segel dengan keterangan waktu kadaluarsa, cara penggunaan, dan barcode BPOM-nya.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Front-View Box

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Segel

Selanjutnya ini adalah tampilan dari botol The Ordinary yang juga simple, informatif, dan to the point. Bentuknya berupa botol kaca yang berisi 30ml produk, serta dilengkapi dengan pipet di bagian atasnya. Keberadaan pipet ini pun sangat membantu kita untuk mengatur jumlah penggunaan produk yang akan diaplikasikan ke muka.

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Botol The Ordinary

Bentuk dan Tekstur

Untuk bentuk produknya, keduanya berupa cairan bening. Ada beberapa orang yang berbagi pengalamannya bahwa produk The Ordinary Niacinamide yang mereka pakai lama kelamaan berubah warna menjadi kekuning-kuningan. Nah untuk kasus gw sendiri, sampai produk di botol habis pun, si cairan produknya masih tetap bening transparan. Gw sendiri nggak tahu ya kenapa ada kasus yang produknya berubah menjadi kekuningan, entah memang produknya "terurai" atau rusak akibat sebab tertentu atau produknya tidak asli, -gw nggak tahu. 

Selanjutnya untuk masalah tekstur, keduanya berupa cairan kental. Tapi kalau misal gw bandingkan, seri Alpha Arbutin lebih kental dibanding si Niacinamide. Jadi klo misal lagi ditetesin ke muka, si Niacinamide ini akan lebih mudah jatuh mengalir ke bawah dibanding si Alpha Arbutin.

Penggunaan & Penyimpanan

Untuk cara penggunaan cukup simple: kita tinggal teteskan beberapa tetes produk menggunakan pipet ke kulit wajah kita atau bagian tubuh yang lain. Gw sendiri memakai sekitar 3 tetes: 1 tetes masing-masing di pipi kanan dan kiri, lalu 1 tetes di dahi; yaudah deh selanjutnya tinggal diratakan ke seluruh wajah. Nah biar aman dan mencegah ketidak-cocok-an, dari pihak produsen sendiri menyarankan untuk melakukan patch testing alias uji coba dulu sebelum diaplikasikan ke kulit wajah. Gimana cara melakukannya? Kalau gw sendiri biasa melakukan patch testing di daerah bawah telinga. Jadi gw tetesin 1 tetes ke kulit di bawah telinga kemudian diamati selama 24 jam apakah ada efek inflamasi atau tidak; kalau tidak berarti kita bisa lanjut memakainya ke kulit wajah. Alasan gw memilih kulit di bagian bawah telinga untuk patch testing adalah: gw beranggapan kulit di daerah situ memiliki karakteristik yang mirip dengan kulit wajah karena posisinya yang dekat sehingga cocoklah jadi lokasi "simulasi", selain itu kalaupun terjadi hal yang tak diinginkan yaitu inflamasi akibat patch testing maka lokasinya tersembunyi jadi nggak kelihatan wehehe (fyi, gw pakai jilbab).

Review The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide
Panduan Patch Testing dari Deciem
Nah selanjutnya akan muncul pertanyaan: jika 2 produk the ordinary ini digunakan secara bersamaan, maka manakah produk yang digunakan terlebih dahulu? Atau bisa dicampur bersama-sama? Lalu, untuk pemakaianya apakah boleh pagi dan malam? Nah, dari pihak Deciem sendiri menuliskan di websitenya bahwa baik seri Niacinamide maupun Alpha Arbutin dapat digunakan di pagi maupun malam hari, dengan catatan tidak dicampur dengan produk skincare yang mengandung vitamin C (-karena niacinamide dapat merusak kinerja vitamin C, jadinya percuma juga makai produknya). Untuk penggunaannya, berdasarkan info-info yang gw dapat (-salah satunya dari seorang beauty vlogger yang berprofesi sebagai dokter yaitu Danang Wisnuwardhana), penggunaan diawali dulu dengan Alpha Arbutin, lalu setelah dipastikan produknya telah meresap sempurna ke kulit, maka kita bisa lanjutkan dengan si niacinamide.

Untuk proses penyimpanan, tidak ada instruksi khusus dari pihak Deciem; tapi gw sendiri menyimpan produk-produk tersebut di daerah yang tidak terkena sinar matahari langsung karena gw takut paparan sinar matahari bisa merusak atau mengurangi fungsionalitas produknya (-ini gw belum bisa konfirmasi ya, kapan-kapan gw update kalau udah tahu kebenarannya)

Review Penggunaan

Oke kita sekarang ke intinya nih: bagaimana pengalaman gw selama memakai kombinasi produk The Ordinary ini? Apakah memuaskan?

Pertama gw mau cerita tentang alasan gw mencoba kombinasi duo produk The Ordinary ini yaitu dikarenakan muka gw tiba-tiba ditumbuhi jerawat gede-gede secara serentak. Posisinya saat itu gw abis sakit gejala typhus, dan entah kenapa setelah selesai konsumsi obatnya malah tumbuh banyak jerawat di muka padahal sebelumnya baik-baik aja. Nggak cuman jerawat, muka pun tiba-tiba berubah jadi kusam. Udah berjerawat, kusam lagi. Duh! Kejadian itu pun terulang lagi sekitar setengah tahun kemudian dimana gw kembali lagi terserang typhus. Sepulang opname dari rumah sakit, kembali tumbuh jerawat gede-gede secara serentak di muka. Gw nggak tahu ya apakah ini memang kebetulan aja atau ada hubungannya dengan sakit atau obat typhus yang gw konsumsi. Gw pernah nanya ini ke dokter, dan dokternya jawab (-entah bercanda atau serius) kalau itu mungkin penyebabnya gw yang jarang mandi selama sakit -,-. Dok, plis deh :"

Selama 2 insiden itu, gw memutuskan untuk menggunakan kombinasi 2 produk The Ordinary ini. Pikiran gw waktu itu sih: kandungan Zinc bisa membantu mengurangi jerawat gw yang lagi mateng-matengnya plus membantu mengecilkan pori, lalu sisa bekas jerawatnya bisa dihempas pakai kandungan niacinamide dan alpha arbutin-nya. Oh ya, saat menggunakan ini gw stop sama sekali penggunaan skincare lain yang sama-sama berbentuk cair (toner/essence, serum), jadi murni cuman pakai 2 serum ini aja. Kenapa? Ya karena gw kurang nyaman melayer-layer skincare terlalu banyak ke kulit, rasanya terlalu over -kasian kulitnya (gw penganut paham skincare minimalis). Selain itu, gw juga pingin mengamati secara jelas bagaimana efek kombinasi 2 produk ini terhadap kulit.

Hasilnya? Sesuai ekspektasi guys!! Jadi gw menggunakan kombinasi kedua produk itu selama 1,5 bulan (Alpha arbutinnya habis, sedangkan Niacinamide masih sisa sedikit) dan hasilnya: jerawat gw mengempes, bekas jerawat lama-kelamaan memudar, serta wajah yang makin kinclong. Duh masih inget deh betapa senengnya gw waktu itu! Gw nggak pernah berekspektasi kalau hasil yang gw mau bisa didapat dalam waktu yang singkat yaitu 1,5 bulan. 

Ini dia foto dari minggu 1 ke minggu 3 (kiri ke kanan). Foto dilakukan di outdoor dengan matahari sebagai sumber cahaya. (Foto paling kiri sebenernya tidak "semuram" itu ya, mungkin saat itu kondisi sedang mendung jadi hasil fotonya agak lebih gelap). Oh ya foto yang tengah ini harusnya si jerawat lebih kelihatan jelas, tapi sayangnya saat itu gw lagi makai acne patch. Fyi, jerawat yang gw alami berupa jerawat tanpa mata atau blind pimple dan cystic acne.

Jerawat ooo jerawat (Kiri ke kanan: perjalanan penampakan jerawat dari minggu ke 1 ke 3)

Bisa dilihat kan dalam waktu singkat yaitu 3 minggu, jerawat yang ada di muka gw lama-kelamaan menghilang, bekasnya pun lama-lama ikut memudar, serta kulit gw semakin keliatan glowingnya *alhamdulillah. Namun, untuk masalah pori-pori, gw g melihat perubahan yang signifikan -pori-pori gw mah tetap segitu-gitu aja ukurannya. 

Tadi kan foto penggunaan selama 3 minggu, lalu bagimana foto muka setelah selesai penggunaan produk? Nah ini dia fotonya (bawah) diambil tanpa menggunakan filter sama sekali. Foto yang kiri adalah foto indoor dengan lampu sebagai sumber cahaya sedangkan foto yang kanan adalah foto outdoor dengan matahari sebagai sumber cahaya.

Foto After (Kiri-indoor, kanan-oudoor)

Kesimpulannya, gw puas dengan kinerja kombinasi duo produk the Ordinary ini. Klaimnya terbukti, nggak cuman omdo aka omong doang. Itu kan tadi kelebihan, apakah ada kekurangannya? Yes ada, yaitu produk ini membuat kulit gw jadi kering. Oleh karenanya gw berhenti memakai kombinasi 2 produk ini di 1,5 bulan pemakaian, tidak hanya karena muka yang sudah "sembuh" melainkan juga gw nggak mau kulit muka jadi semakin kering. Yap, akhirnya setelah itu gw kembali lagi ke skincare daily gw yang biasanya yaitu Laneige Clear C Advance Effector dan Laneige Clear C Peeling Serum. Kekurangan lainnya terletak pada produk The Ordinary Niacinamide, entah kenapa setelah gw memakai produknya akan terdapat residu putih di muka gw. Hal ini sangat mengganggu ya kalau misal kita pakai produknya di pagi hari lalu kita beraktivitas dan bertemu orang-orang, maka akan nampak ada residu putih seperti daki #plakk di muka kita. Ini pun menyulitkan juga kalau misal kita akan bermake up setelah menggunakan The Ordinary Niacinamide karena base make up akan susah nempel atau ikut mengelupas gara-gara si residu putih tersebut. Dari sini gw akali dengan memakai si Niacinamide di pagi hari hanya apabila di hari itu nggak ada aktivitas di luar. 

Repurchase?

Yes, definitely
Klaim terbukti, harga pun bersahabat, kurang apalagi coba? Oh ya, repurchase yang gw maksud disini adalah apabila memang di masa depan muncul kasus jerawat gede lagi (semoga nggak usah aja deh. Aaaamiin). Kenapa gitu? Gw disini memposisikan The Ordinary sebagai "obat" dalam skincare regime gw, jadi bukan sebagai daily skincare; dikarenakan hal yang gw ungkapkan sebelumnya yaitu skincare ini menyebabkan kulit gw jadi kering, bahkan pernah saking keringnya ada beberapa bagian yang mengelupas.

Jadilah muncul dilema: gw senang sama keampuhannya, tapi disisi lain kalau dipakai lama-lama malah bikin kulit kering (padahal aslinya berminyak). Itulah kenapa gw jadikan kedua produk tersebut ebagai "obat" alias special treatment (-dari periode Desember 2018 - Mei 2020, gw udah beli Alpha Arbutin 2x dan Niacinamide 3x). Saat permasalahan jerawat udah kelar, gw ya balik lagi ke skincare regime gw yang biasanya yaitu Laneige Clear C Advance Effector dan Laneige Clear C Peeling Serum.

Cuap Cuap Terakhir

Nah itu dia review gw yang panjang kali lebar tentang produk The Ordinary Alpha Arbutin dan Niacinamide, semoga bermanfaat ya :)
Gw juga mau bilang kalau review ini hanya berdasar pengalaman di kulit gw, bisa jadi akan memiliki pengalaman yang berbeda di kulit yang berbeda pula.
Terakhir, sampai jumpa di post beauty review lainnya!!
Ciao bella!
This entry was posted in